Jumat, 06 Februari 2015

Pembinaan Akidah Pada Anak

Salah satu pilar penting bagaimana kita melakukan pembinaan akidah pada anak-anak kita adalah, dengan  menanamkan kecintaan kepada Allah subhanahu wa ta’ala, memohon pertolongan-Nya, merasa selalu diawasi oleh-Nya, serta beriman kepada qadha’ dan qadar. Karena hal-hal tersebut merupakan bekal bagi anak untuk menghadapi segala persoalan hidupnya, baik dimasa kanak-kanaknya maupun dimasa depannya sebagai ayah dan ibu.
Diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu’anhu bahwa Nabi shalallahu’alaihi wassalam bersabda, “Janganlah kamu mengangkat tongkat terhadap keluargamu, namun tanamkan rasa takut kepada Allah ‘Azza wa Jalla pada diri mereka.” (HR Thabrani dalam As-Shaghir dan Al-Ausath dengan isnad jayyid).
Imam Tirmidzi meriwayatkan hadits dari Ibnu ‘Abbas rhadliyallahu’anhu, bahwa dia berkata: Pada suatu hari saya pernah membonceng di belakang Rasulullah shalallahu’alaihi wassalam, lalu beliau bersabda, “Wahai anak muda sesungguhnya aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat. Jagalah Allah niscaya Dia juga akan menjagamu. Jagalah Allah niscaya engkau akan mendapati-Nya ada dihadapanmu. Apabila engkau meminta sesuatu mintalah kepada Allah. Jika engkau memohon pertolongan mohonlah kepada Allah. Ketahuilah andaikan saja umat seluruhnya berkumpul untuk memberikan kemanfaatan kepadamu, mereka tidak akan bisa memberikan manfaat kepadamu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan untukmu. Dan andaikan saja mereka bersatu untuk menimpakan kemudharatan terhadapmu, mereka tidak akan bisa memberikan kemudharatan itu terhadapmu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan atasmu. Pena telah diangkat dan lembar catatan telah kering.”
Dalam riwayat lainnya disebutkan, “Jagalah Allah, niscaya engkau temukan Dia ada dihadapanmu. Kenalilah Allah dalam keadaan longgar niscaya Dia akan mengenalmu dalam keadaan sempit. Ketahuilah bahwa segala sesuatu yang luput darimu tidak akan menimpamu dan sesuatu yang menimpamu tidak akan bisa luput darimu. Ketahuilah bahwa kemenangan itu menyertai kesabaran, kelapangan itu menyertai kesempitan dan kemudahan itu menyertai kesulitan.” (HR Ahmad, Hakim, dll)
Jika seorang anak telah menghafal hadits ini dan telah memahaminya secara baik, maka Dia tidak akan mendapatkan kendala dihadapannya dan tidak akan mendapatkan sandungan di dalam menjalani seluruh kehidupannya. Hadits ini mempunyai kekuatan yang ampuh dalam memecahkan persoalan anak, disamping juga memiliki pengaruh dalam spiritualitas. Hadits ini mempunyai kemampuan dalam mendorong anak menuju ke depan dengan cara memohon pertolongan kepada Allah ‘Azza wa Jalla, selalu merasa diawasi oleh-Nya, serta melalui keimanannya kepada qadha’ dan qadar. Anak-anak para sahabat menerima bimbingan ini langsung dari Rasulullah shalallahu’alaihi wassalam. Mereka memohon pertolongan kepada Allah ketika mereka mendapatkan bencana dan mereka berkeyakinan bahwa tidak ada daya upaya dan kekuatan kecuali karena bantuan Allah. Mereka percaya bahwa kelapangan itu selalu menyertai kesempitan dan kemudahan itu menyertai kesulitan.
Jadi, pendidikan mana yang kira-kira bisa memberikan pengaruh terhadap kejiwaan anak melebihi pendidikan yang diberikan oleh hadits ini?
Berikut bisa kita saksikan beberapa contoh nyata pada kehidupan para salaf bagaimana mereka menanamkan kecintaan kepada Allah subhanahu wa ta’ala, memohon pertolongan-Nya, merasa selalu diawasi oleh-Nya, serta beriman kepada qadha’ dan qadar. Dan bagaimana hasil yang dicapai dari pendidikan tersebut terhadap anak-anak mereka.
Imam Ahmad meriwayatkan dari Walid bin Ubadah bahwa dia berkata, “Aku mengunjungi Ubadah (ayah) ketika sakit, dimana ketika itu aku membayangkan bahwa ayah akan segera meninggal. Aku katakan kepadanya, “Wahai ayahku, berikan aku pesan.” Dia berkata, “Dudukkanlah aku.” Ketika sahabat-sahabat telah mendudukkannya, ayah berkata, “Wahai anakku sesungguhnya kamu tidak akan bisa merasakan manisnya iman dan tidak akan sampai pada hakikat pengenalan kepada Allah ‘Azza wa Jalla sehingga engkau beriman kepada qadha’ dan qadar yang baik maupun yang buruk.” Aku tanyakan kepadanya, “Wahai Ayah, bagaimana aku bisa mengetahui takdir yang baik maupun yang buruk?” Ayah menjawab, “Engkau mengetahui bahwa yang luput darimu tidak akan menimpamu dan apa yang menimpamu tidak akan luput darimu. Wahai anakku aku mendengar Rasulullah shalallahu’alaihi wassalam bersabda, ‘Sesungguhnya disaat pertama kali Allah menciptakan pena, kemudian Dia berfirman kepadanya, ‘Tulislah!’ Maka mulai saat itu, pena menuliskan segala hal yang bakal terjadi hingga hari kiamat.’ Wahai anakku, jika kamu minta tidak dalam keadaan seperti itu, maka engkau akan masuk neraka.”
Suatu hari ‘Umar bin Khathab rhadliyallahu’anhu menyusuri jalan saat beliau sudah menjadi amirul mukminin. Di tengah jalan terdapat sekumpulan anak-anak yang sedang berjalan. Ketika mereka melihat Umar, maka semuanya lari menyingkir kecuali satu saja, yaitu Abdullah bin Zubair. Umar merasa heran terhadapnya dan kemudian menanyakan kepadanya mengenai sebab mengapa ia tidak turut lari menyingkir. Dia menjawa, “Saya tidak punya kesalahan yang mengharuskan lari dari Anda, dan saya juga tidak merasa takut kapada Anda yang mengharuskan saya meluaskan jalan untuk Anda.”
Suatu kali Ibnu Umar sedang melakukan perjalanan, Dia melihat seorang budak yang sedang menggembalakan kambing, lalu dia berkata kepadanya, “Apakah kamu mau menjual seekor darinya saja?” Dia menjawab, “Sesungguhnya ia bukan milikku.” Ibnu Umar kemudian berkata, “Katakan saja kepadanya bahwa ada serigala yang telah memangsa seekor darinya.” Budak itu berkata, “Lalu dimanakah Allah?”
Sesudah peristiwa itu hingga sekian lama waktu berikutnya Ibnu Umar sering mengucapkan kata-kata dari si budak itu, “Lalu dimanakah Allah?!”
Dikisahkan pula bahwa ada seorang syaikh mempunyai sekian murid. Namun syaikh ini memberikan perhatian khusus kepada salah seorang dari mereka. Hal ini membuat murid yang lainnya merasa iri sehingga akhirnya mereka mengadukan hal itu kepada sang syaikh. Syaikh itu kemudian berkata kepada mereka, “Mari aku jelaskan kepada kalian!”
Syaikh itu kemudian memberi masing-masing murid seekor burung, lalu berkata kepada mereka, “Sekarang berpencarlah dengan membawa burung ini, dan sembelihlah di tempat yang tidak diketahui oleh siapapun!” tak ketinggalan syaikh juga memberikan burung yang sama kepada murid kesayangannya.
Sesudah itu, seluruhnya mencari tempat tersembunyi guna menyembelih burung, dan tak lama kemudian masing-masing kembali dengan membawa burung yang telah mereka sembelih. Namun si murid kesayangan ini kembali dengan membawa burung yang masih hidup. Sang Syaikh bertanya kepadanya, “Kenapa engkau tidak menyembelihnya?” Dia menjawab, “Syaikh menyuruhku untuk menyembelih di tempat yang tidak dilihat oleh siapapun dan aku tidak menemukan satu tempatpun yang tidak dilihat oleh siapapun.” Syaikh kemudian berkata, “Oleh karena itu aku memberikan perhatian yang khusus kepadanya.”
Imam Ghazali dalam kitab Ihya’nya menampilkan sebuh kisah menarik sebagai berikut: Sahl bin Abdillah At-Tastari berkata, “suatu hari ketika saya berusia tiga tahun, pernah bangun malam. Lalu saya perhatikan shalat yang dilakukan paman saya yang bernama Muhammad bin Siwar. Pada suatu hari ia berkata kepadaku, “Apakah engkau mengingat Allah yang telah menciptakanmu?” Saya menjawab, “Bagaimana saya bisa mengingat-Nya?” Dia menjawab, “Ucapkan dalam hatimu ketika engkau hendak tidur sebanyak tiga kali tanpa henti, ‘Allah bersamaku, Allah memperhatikanku, dan Allah menyaksikanku.’ Maka saya mengucapkan kata-kata itu pada malam-malam berikutnya, kemudian saya beritahukan hal itu kepadanya. Dia menjawab, “Ucapkan tujuh kali setiap malam.” Saya pun mengucapkannya, lalu saya kabarkan hal itu kepadanya. Ia lantas berkata lagi, “Ucapkan sepuluh kali tiap malam.” Saya pun mengucapkannya, dan kemudian di dalam hati saya terasa ada kemanisannya. Sesudah satu tahun berlalu, paman berkata kepada saya, “Jagalah terus apa yang telah aku ajarkan kepadamu dan lakukanlah terus hingga engkau masuk kubur karena sesungguhnya hal itu akan memberikan kemanfaatan bagimu di dunia dan akhirat.”
Maka aku terus melakukan itu bertahun-tahun, sehingga saya dapatkan kemanisan di dalam hati. Selanjutnya, paman pada suatu hari berkata, “Wahai Sahl, siapa saja yang merasa bahwa Allah senantiasa bersamanya, memperhatikan dan menyaksikannya, apakah dia akan bermaksiat (durhaka) kepada-Nya? Jauhilah kemaksiatan! Aku dahulu pernah menyendiri, namun kemudian aku dikirim ke madrasah. Aku belajar Al-Qur’an dan berhasil mengahafalnya ketika baru berusia enam atau tujuh tahun. Aku juga senantiasa melakukan puasa. Makananku selama dua belas tahun adalah roti yang terbuat dari tepung gandum.”
Ibnu Zhafar Al-Maghribi dalam bukunya, Anba’ Nujaba’ Al-Abna’ (h.148) membawakan sebuah kisah bahwa Al-Harits Al-Muhasibi ketika masih kecil melewati sekelompok anak kecil yang sedang bermain di depan rumah seorang penjual kurma. Al-Harits kemudian berhenti untuk memperhatikan apa yang tengah mereka lakukan. Pemilik kurma itu kemudian keluar dengan membawa sejumlah kurma, lalu dia berkata kepada Al-Harits, “Makanlah kurma-kurma ini!” Al-Harits bertanya, “Beritahukan kepadaku perihal kurma-kurma ini!” Dia menjawab, “Beberapa saat yang lalu saya menjual kurma kepads seseorang, namun kemudian kurmanya terjatuh.” Al-Harits berkata, “Apakah kamu mengetahuinya?” Dia menjawab, “Ya.” Al-Harits kemudian menoleh kepada anak-anak yang sedang bermain itu dan bertanya, “Apakah orang tua ini muslim?” mereka menjawab, “Ya.” Al-Harits lalu pergi meninggalkannya, namun penjual kurma itu mengejar sehingga berhasil menahannya, dan kemudian bertanya kepadanya, “Demi Allah aku tidak akan melepasmu sehingga engkau katakan kepadaku apa sebenarnya yang ada pada benakmu tentang diriku.” Al-Harits kemudian berkata, “Wahai orang tua jika engkau adalah seorang muslim, maka mintalah keikhlasan kepada pemilik kurma itu sehingga engkau bisa lepas dari tanggung jawab, sebagaimana engkau meminta air ketika engkau sangat kehausan. Wahai orang tua, engkau memberi makanan kepada anak-anak muslim dari barang yang haram, sedangkan engkau sendiri adalah seorang muslim?!” orang tua itu kemudian berkata, “ Demi Allah, aku tidak akan lagi berjualan jika hanya untuk keuntungan dunia!”
Demikian beberapa kisah dari para salafus shalih yang menunjukkan betapa pentingnya penanaman kecintaan kepada Allah subhanahu wa ta’ala, memohon pertolongan-Nya, merasa selalu diawasi oleh-Nya, serta beriman kepada qadha’ dan qadar, sehingga mereka menjadi generasi terbaik bagi umat ini. Semoga kita diberi kemudahan oleh Allah untuk menanamkan hal tersebut bagi anak-anak kita. (Sumber: muslimah.or.id)

Minggu, 30 November 2014

DVD MUROTTAL 4 MODE untuk Tilawah, Hafalan & Muroja'ah



DVD Murottal Al-Qur'an 4 Mode untuk Tilawah, Hafalan dan Muroja’ah. 1 DVD berisi: MP3 per surat, per juz, per halaman dan per ayat. Infaq minimal Rp.100.000,-. Seluruh keuntungan penjualan DVD akan digunakan untuk: PEMBIBITAN WIRAUSAHA DAN PENGHAFAL AL-QUR’AN.

Cara pemesanan :  Ketik: DVD_Nama_Alamat Lengkap_No.HP  Kirim ke: 081289584947
DVD BISA DIKIRIM DAHULU, PEMBAYARAN SETELAH DVD SAMPAI

Informasi lebih lanjut silakan hubungi kami:
081289584947 (WA), Pin BB: 7D657864



Jumat, 21 November 2014

Pentingnya Mengajarkan Al-Quran Sejak Dini

Orang tua mana yang tidak bangga jika memiliki anak di usia dini (seusia anak SD) sudah pintar membaca Al Qur’an. Terlebih lagi yang mampu hafal Al Qur’an 30 Juz. Mungkin, tidak hanya orangtuanya yang bangga, tapi orang lain pun akan sangat kagum dengan kehebatan anak kita.
 

Sayangnya, pada zaman kita saat ini munculnya seorang anak yang masih kecil hafal Al Qur’an, menjadi barang yang sangat langka, hal ini tentu bertolak belakang dengan anak-anak jaman sekarang, umumnya mereka tidak bisa membaca Al Qur’an.
 

Begitu semangatnya para orang tua yang ingin anaknya menguasai dan hafal Al Qur’an 30 Juz di usia dini, telah mendorong para orang tua melakukan usaha dengan berbagai cara. Entah cara tersebut selaras atau tidak dengan perkembangan jiwa anak, entah sesuai atau tidak dengan hak-hak anak, yang penting anak bisa hafal Al Qur’an.
 

Akhirnya, keinginan dan harapan untuk bisa hafal Al Qur’an di usia dini bukan merupakan kesadaran seorang anak yang ditanamkannya sejak dini. Tetapi lebih pada keinginan para orang tua yang cenderung dipaksakan. Lucunya lagi, orang tuanya justru banyak yang tidak bisa atau tidak punya kemampuan dalam membaca dan menghafal Al-Qur’an.
Jika kita mengamati perjalanan proses belajar mengajar di lembaga semacam pondok pesantren yang menampung anak-anak kecil seusia SD, untuk dididik menjadi penghafal Al-Qur’an 30 Juz. Mereka tinggal di pondok selama 24 jam dan jauh dari orang tua. Padahal sebenarnya anak seusia SD masih sangat membutuhkan kasih sayang dan perhatian orang tuanya.
Masa kecil adalah masa di mana seorang anak ingin dekat dengan orang tuanya dan ingin mendapatkan bimbingan langsung dari orang tua. Hanya karena idealisme orang tualah, akhirnya mereka harus rela terpisah dengan orang tua. Jika pun mereka dapat bertemu hanya sesaat semata, kalaupun ingin memberikan perhatian pada sang buah hati biasanya uang saja yang datang.
Jika saja seorang anak bisa berargumen, mungkin dirinya akan mencoba meluruskan idealisme orang tuanya. Akan tetapi bagaimana mungkin anak sekecil itu mampu menolak. Bahkan, dia menangis meronta pun orangtua akan tetap bersikukuh meninggalkannya di pesantren bersama sang ustadz. Karena orang tua, senantiasa memberikan nasehat, bahwa semua yang dilakukannya demi masa depan dirinya.
Keinginan orang tua untuk memiliki anak yang hafal Al Qur’an 30 juz dengan cara seperti ini, jelas tidak realitis dengan kondisinya. Dirinya berkeinginan anaknya bisa hafal Al Qur’an 30 juz, bagaikan sosok Imam Syafi’i yang mampu hafal Al Qur’an 30 Juz di usia dini, yakni 7 tahun. Tetapi perangkat dan kemampuan yang dimiliki para orang tua tidak cukup memberikan dukungan terhadap cita-cita tersebut. Beberapa perbedaan nyata antara kita dan Imam Syafii antara lain:

Silsilah atau garis keluarga, kebanyakan kita tidak memiliki sisilah keluarga yang paham Islam ataupun hafal Al Qur’an, beda jauh dari silsilah imam Syafii bukan?
Lingkungan dimana kita tinggal, tidak sebagaimana lingkungan zaman Imam Syafi’i, yang begitu menghargai pendalaman ilmu Al-Quran.
Dari sisi bahasa, bukankah membaca buku dalam bahasa Indonesia jauh lebih mudah dibanding bahasa lain? Lalu kira-kira, orang mana yang lebih mudah memahami sekaligus menghafal Al Quran?.

Saya tidak bermaksud untuk menghalangi Anda mendidik anak usia dini bisa hafal Al Qur’an, asal keinginan tersebut memang selaras dengan perkembangan anak dan tidak perlu harus ditarget untuk hafal 30 Juz di usia dini (yang terpenting bisa hafal Al Qur’an, mungkin di usia SLTA baru hafal Al Qur’an, atau syukur-syukur di usia SLTP sudah hafal Al Qur’an 30 Juz), terlebih lagi jika keinginan tersebut harus memisahkan anak anda dari diri anda selaku orang tua.
 

Biarkan anak Anda menikmati masa kanak-kanaknya dengan nyaman berserta Anda disampingnya. Penuhilah hak anak dengan sempurna, agar dia kelak nanti ketika tumbuh besar atau dewasa tidak menuntut haknya kembali pada Anda selaku orang tua. Berikan kasih sayang dengan tulus dengan baik, selagi mereka bersama-sama Anda. Ajarkan Al Qur’an pada anak kita dengan semampunya dan alamiyah saja, tanpa harus menghilangkan hak anak kita bermain, tanpa harus memisahkan anak kita dari kita selaku orang tua.
Mengajarkan Al-Qur’an selaras dengan perkembangan anak, sebagaimana yang saya sampaikan di atas akan terwujud dengan baik, jika pengajaran Al-Qur’an tersebut langsung dipegang oleh para orang tua atau bisa juga Anda titipkan pada seorang guru qiroah, namun anak Anda setiap hari masih bisa ketemu dengan Anda.
 

Kalau kita melihat hikmah pengajaran shalat untuk anak. Rasulullah n memberikan tuntunan pada usia 7 tahun anak diajak dan disadarkan untuk sholat, jadi tanpa diberikan sanksi, tetapi jika anak sudah mencapai usia 10 tahun anak tetap tidak sholat, ia baru diseri sanksi. Jika seorang anak sudah baligh maka ia tidak boleh meninggalkan sholat sampai akhir hayat.
Jika untuk shalat yang merupakan kewajiban yang paling utama saja, Islam sangat menghormati perkembangan dan kepribadian anak, sampai benar-benar siap dan mampu menjalankan amanah dengan benar. Tapi, mengapa dalam bersoalan membaca Al Qur’an kita seringkali mengabaikan perkembangan dan kepribadian anak.
 

Saya punya pengalaman yang menarik terkait tema di atas, tepatnya pada saat saya dulu mengajar tahfizh shighor (anak-anak usia SD) di salah satu pondok pesantren. Pada waktu itu, anak-anak yang saya bimbing berumur 6 hingga 9 tahun, proses bimbingan tahfizh yang lakukan tidak bisa berjalan dengan baik, bahkan target dan kualitas hafalan pun sangat buruk sekali, saya sediri waktu itu heran dan bertanya-tanya.
Setelah saya selidiki, ternyata banyak dari mereka yang sering menangis tanpa sebab, ketika ditanya, mereka menjawab, ”Kangen sama Umi”. Saat saya membimbing mereka, mereka umumnya mengalami kegoncangan kepribadian, tidak seperti anak-anak yang tumbuh bersama orang tuanya.
Bahkan belum lama ini saya mendengar dari seorang teman lama, bahwa anaknya si A yang dulu –pada saat mondok- berumur 6 tahun itu, sekarang telah telah berumur 20 tahun. Saat ini anaknya sudah tidak mau mondok dengan alasan bosan, tidak mau sekolah dan juga tidak mau bekerja. Aktivitasnya di rumah hanya bersama Uminya, santai, bermain-main dan berjalan-jalan saja.
 

Dia juga tidak mau merampungkan menghafalnya Seakan anak ini ingin mengganti masa kecil dulu yang takkan pernah kembali, padahal sekaranglah seharusnya dirinya siap untuk ke luar untuk beramal dan mencari pengalaman hidup. Cerita yang saya sampaikan ini mungkin saja mewakili sekian banyak anak yang terampas hak-haknya oleh para orang tuannya sendiri.
Sebagai akhir tulisan, semestinyalah pendidikan Al Qur’an anak-anak kita kembali kepada diri kita selaku orang tua. Sebagai ibu yang amanah, wajib bagi kita membekali diri kita dengan Al Qur’an, sehingga tidak perlu kita renggut kebebasan masa kecil anak kita dari bermain dan dekat bersama kita. Allahummarhamnaa bil Quran..

Maroji' :
Oleh Ustadzah Romlah Al-Hafadzah Fillah

Senin, 27 Oktober 2014

Lima Poin Pendidikan Anak dalam Islam

Bunda, apakah ilmumu hari ini? Sudahkah kau siapkan dirimu untuk masa depan anak-anakmu? Bunda, apakah kau sudah menyediakan tahta untuk tempat kembali anakmu? Di negeri yang Sebenarnya. Di Negeri Abadi? Bunda, mari kita mengukir masa depan anak-anak kita. Bunda, mari persiapkan diri kita untuk itu.
Hal pertama Bunda, tahukah dikau bahwa kesuksesan adalah cita-cita yang panjang dengan titik akhir di Negeri Abadi? Belumlah sukses jika anakmu menyandang gelar atau jabatan yang tertinggi, atau mengumpulkan kekayaan terbanyak. Belum Bunda, bahkan sebenarnya itu semua tak sepenting nilai ketaqwaan. Mungkin itu semua hanyalah jalan menuju ke Kesuksesan Sejati. Atau bahkan, bisa jadi, itu semua malah menjadi penghalang Kesuksesan Sejati.
Gusti Allah Yang Maha Mencipta Berkata dalam KitabNya:
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS 3:185)
Begitulah Bunda, hidup ini hanya kesenangan yang menipu, maka janganlah tertipu dengan tolok ukur yang semu. Pancangkanlah cita-cita untuk anak-anakmu di Negeri Abadi, ajarkanlah mereka tentang cita-cita ini. Bolehlah mereka memiliki beragam cita-cita dunia, namun janganlah sampai ada yang tak mau punya cita-cita Akhirat.
Kedua, setelah memancangkan cita-cita untuk anak-anakmu, maka cobalah memulai memahami anak-anakmu. Ada dua hal yang perlu kau amati:
Pertama, amati sifat-sifat khasnya masing-masing. Tidak ada dua manusia yang sama serupa seluruhnya. Tiap manusia unik. Pahami keunikan masing-masing, dan hormati keunikan pemberian Allah SWT.
Yang kedua, Bunda, fahami di tahap apa saat ini si anak berada. Allah SWT mengkodratkan segala sesuatu sesuai tahapan atau prosesnya.
Anak-anak yang merupakan amanah pada kita ini, juga dibesarkan dengan tahapan-tahapan.
Tahapan sebelum kelahirannya merupakan alam arwah. Di tahap ini kita mulai mendidiknya dengan kita sendiri menjalankan ibadah, amal ketaatan pada Allah dan juga dengan selalu menjaga hati dan badan kita secara prima. Itulah kebaikan-kebaikan dan pendidikan pertama kita pada buah hati kita.
Pendidikan anak dalam Islam, menurut Sahabat Ali bin Abitahalib ra, dapat dibagi menjadi 3 tahapan/ penggolongan usia:
  1. Tahap BERMAIN (“la-ibuhum”/ajaklah mereka bermain), dari lahir sampai kira-kira 7 tahun.
  2. Tahap PENANAMAN DISIPLIN (“addibuhum”/ajarilah mereka adab) dari kira-kira 7 tahun sampai 14 tahun.
  3. Tahap KEMITRAAN (“roofiquhum”/jadikanlah mereka sebagai sahabat) kira-kira mulai 14 tahun ke atas.
Ketiga tahapan pendidikan ini mempunyai karakteristik pendekatan yang berbeda sesuai dengan perkembangan kepribadian anak yang sehat. Begitulah kita coba memperlakukan mereka sesuai dengan sifat-sifatnya dan tahapan hidupnya.
Hal ketiga adalah memilih metode pendidikan. Setidaknya, dalam buku dua orang pemikir Islam, yaitu Muhammad Quthb (Manhaj Tarbiyah Islamiyah) dan Abdullah Nasih ’Ulwan (Tarbiyatul Aulad fil Islam), ada lima Metode Pendidikan dalam Islam.
Yang pertama adalah melalui Keteladanan atau Qudwah, yang kedua adalah dengan Pembiasaan atau Aadah, yang ketiga adalah melalui Pemberian Nasehat atau Mau’izhoh, yang keempat dengan melaksanakan Mekanisme Kontrol atau Mulahazhoh, sedangkan yang terakhir dan merupakan pengaman hasil pendidikan adalah Metode Pendidikan melalui Sistem sangsi atau Uqubah.
Bunda, jangan tinggalkan satu-pun dari ke lima metode tersebut, meskipun yang terpenting adalah Keteladanan (sebagai metode yang paling efektif).
Setelah bicara Metode, ke empat adalah Isi Pendidikan itu sendiri. Hal-hal apa saja yang perlu kita berikan kepada mereka, sebagai amanah dari Allah SWT.
Setidak-tidaknya ada 7 bidang. Ketujuh Bidang Tarbiyah Islamiyah tersebut adalah: (1) PendidikanKeimanan (2) Pendidikan Akhlaq (3) Pendidikan Fikroh/ Pemikiran (4) Pendidikan Fisik (5) PendidikanSosial (6) Pendidikan Kejiwaan/ Kepribadian (7) Pendidikan Kejenisan (sexual education). Hendaknya semua kita pelajari dan ajarkan kepada mereka.

Lowongan Guru SD dan Tata Usaha

Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Wirausaha Indonesia membutuhkan: 


GURU KELAS, persyaratan: 
1. Pria/Wanita, usia maksimal 35 tahun
2. Pendidikan S-1 Pendidikan
3. Bisa menulis dan membaca Al-Qur'an dengan baik dan benar
4. Menguasai komputer (MS Word, Excel & Power Point)
5. Memahami administrasi guru
6. Berpengalaman di Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT)
7. Tinggal di sekitar Cikarang Utara



TATA USAHA, persyaratan:
1. Pria/Wanita, usia maksimal 30 tahun 
2. Pendidikan minimal SMA/sederajat
 
3. Bisa menulis dan membaca Al-Qur'an dengan baik dan benar
 
4. Menguasai komputer (MS Word, Excel & Power Point)
 
5. Memahami administrasi sekolah
 
6. Tinggal di sekitar Cikarang Utara
 

Lamaran diantar langsung ke 
SDIT Wirausaha Indonesia
Jl. Nakula Raya No.1-4 Perumahan Grand Cikarang City Blok C9 
 Telp. 0813-17517835

Jumat, 24 Oktober 2014

Peringatan Tahun Baru 1 Muharram 1436 Hijriyah

SELAMAT TAHUN BARU 1 MUHARRAM 1436 H


Sambut Indonesia yang Lebih Sejahtera, Bermartabat dan Mandiri.

Peringatan Tahun Baru 1 Muharram kali ini adalah siswa berbaris rapih dengan membawa tulisan-tulisan penggugah semangat. Pawai siswa dilakukan dimulai dari sekolah, kemudian berjalan santai ke blok A dan B di Perumahan Grand Cikarang City. 

Setelah kembali ke sekolah, setiap siswa mendapatkan makanan ringan untuk dinikmati secara bersama-sama teman-temannya.

Semoga tahun baru Islam kali akan membawa dampak yang besar pada perubahan, khususnya di SDIT Wirausaha Indonesia. Amiiin.

Kamis, 23 Oktober 2014

Kurikulum 2013, Kesiapan Guru SDIT Wirausaha Indonesia

Peran guru dalam proses pembelajaran sangatlah penting. Sekalipun di Era Globalisasi, dimana teknologi komputer yang berkembang dengan pesat menggantikan sebagian pekerjaan manusia. Namun kedudukan guru tidak dapat digantikan dengan media lain. Hal ini menunjukkan bahwa peran guru tetap diperlukan dalam keadaan apapun.
Guru harus memiliki kesiapan baik materiil maupun psikologi. Dalam hal aspek kesiapan materiil, guru harus menguasai panduan mengajar khususnya dengan KURIKULUM 2013 yang sudah dicanangkan pemerintah beberapa waktu yang lalu.
Proses Pembelajaran akan terjadi manakala terdapat interaksi atau hubungan timbal balik antara siswa dengan lingkungannya dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Hubungan timbal balik ini merupakan syarat terjadinya proses pembelajaran yang di dalamnya tidak hanya menitikberatkan pada transfer of knowledge, akan juga transfer of value. Transfer of knowledge dapat diperoleh siswa dari media-media belajar, seperti buku, majalah, museum, internet, guru, dan sumber-sumber lain yang dapat menambah pengetahuan siswa. 
Insya Alloh SDIT Wirausaha Indonesia siap dengan kebijakan pemerintah yang sudah menggunakan Kurikulum 2013 mulai semester ini, antara lain dengan sudah selesai dicetaknya BUKU PEGANGAN GURU.  

Rabu, 22 Oktober 2014

Melatih Kepedulian Peserta Didik

Tidak hanya berprestasi di sekolah dalam hal pelajaran saja, tetapi mendidik anak tentang kepribadian dengan menumbuhkan kepedulian sosial yang tinggi terhadap sesama juga tidak kalah pentingnya.
Kepedulian sosial adalah suatu nilai penting yang harus dimiliki seseorang karena terkait dengan nilai kejujuran, kasih sayang, kerendahan hati, keramahan, kebaikan dan lain sebagainya. Untuk memiliki sikap kepedulian sosial memang dibutuhkan tingkat kematangan tertentu. Memang sulit mendidik anak tentang kepedulian sosial, namun bukan berarti mereka tidak perlu belajar. Secara perlahan anak akan mengerti tentang pentingnya sikap peduli terhadap sesama sejak usia dini. 
1. Menunjukan atau memberikan contoh sikap kepedulian sosial.
Memberikan nasihat pada anak tanpa disertai dengan contoh langsung Anda tidak akan memberikan efek yang besar. Jika sikap Anda dalam kehidupan sehari-hari menunjukan sikap peduli pada sesama maka kemungkinan besar anak akan mengikutinya.
2. Melibatkan anak dalam kegiatan sosial.
Biasakan untuk mengajak anak dalam kegiatan sosial seperti memberikan sumbangan ke panti asuhan dan berzakat.
3. Tanamkan sifat saling menyayangi pada sesama.
Menanamkan sifat saling menyayangi pada sesama dapat diterapkan dari rumah, misalnya dengan membantu orang tua, kakak ataupun menolong teman yang jatuh.
4. Memberikan kasih sayang pada anak.
Dengan orang tua memberikan kasih sayang maka anak akan merasa aman dan disayangi, dengan hal itu kemungkinan anak akan memiliki sikap peduli pada orang lain yang ada disekitarnya. Sedangkan anak yang kurang mendapatkan kasih sayang justru akan cenderung tumbuh menjadi anak yang peduli pada dirinya sendiri.
5. Mendidik anak untuk tidak membeda-bedakan teman.
Mengajarkan pada anak untuk saling menyayangi terhadap sesama teman tanpa membedakan kaya atau miskin, warna kulit dan juga agama. Berikan pengertian bahwa semua orang itu sama yaitu ciptaan Alloh subhanahu wa ta'ala.

Ekstrakurikuler Seni Rupa

Untuk menghadapi dan mengarungi kehidupan yang semakin ketat dalam persaingan, ternyata tak cukup hanya dengan intelegensia saja. Kreativitas pun tak kalah pentingnya. Nah, apa saja yang bisa kita lakukan untuk menciptakan anak yang kreatif?
Dalam belajar kita diharapkan dapat menggunakan kedua belahan otak, kanan dan kiri secara seimbang, pasalnya, kedua belahan otak tersebut daling bergantung dan mendukung satu sama lain. ” Apabila tidak digunakan secara seimbang maka belahan otak yang jarang digunakan akan mengalami hambatan-hambatan dalam menjalankan fungsinya. 

Bisa jadi hal inilah yang menjadi penyebab munculnya kenyataan buruk yang dialami anak-anak. Ini terjadi karena dalam sistem belajar negara kita cenderung lebih sering menggunakan belahan otak kiri sementara belahan otak kanan sangat jarang digunakan malah terkesan diabaikan sehingga menjadikan anak-anak kita kurang kreatif. Dengan kata lain mereka hanya dituntut untuk berprestasi dari sisi akademik yang mengandalkan intelegensia saja. Ditambah lagi di sekolah-sekolah para guru lebih cenderung menekankan pada pelajaran menulis, menghitung, menghafal yang justru menjadikan anak tak berpikir kreatif. Karena fungsi imajinasi yang terletak di belahan otak kanan diabaikan.

Salah satu fungsi belahan otak kanan adalah mengontrol hal-hal yang bersifat non-verbal, holistik, intuitif serta imajinatif. “Intuisi dan imajinasi adalah hal-hal yang dibutuhkan dalam kreativitas yaitu kemampuan yang mencerminkan kelancaran, keluwesan, dan orisinalitas dalam berpikir serta kemampuan untuk mengelaborasi atau mengembangkan,memperkaya dan merinci suatu gagasan.

Ada beragam alasan mengapa kreativitas harus dikembangkan sejak dini. Diantaranya karena kreativitas sangat berpengaruh dalam kehidupan anak sehari-hari dan terutama untuk mempersiapkan anak menghadapi era globalisasi . Kreativitas juga memiliki kegunaan lain:
- Membantu anak mengaktualisasi atau menunjukkan dirinya
- Memungkinkan anak berpikir kreatif untuk melihat berbagai kemungkinan pemecahan sebuah masalah.
- Memberikan kepuasan pada anak yang bisa bersibuk diri secara kreatif
- Memungkinkan seorang anak meningkatkan kualitas hidupnya.

Lowongan Guru dan Tata Usaha

Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Wirausaha Indonesia membutuhkan karyawan untuk posisi:

GURU KELAS (persyaratan sesuai tertera di pamflet)

TATA USAHA, dengan persyaratan:
1. Pria/Wanita, usia maksimal 30 tahun 
2. Pendidikan minimal SMA/sederajat
3. Bisa menulis dan membaca Al-Qur'an
4. Menguasai komputer (MS Word, Excel & Power Point)
5. Memahami administrasi sekolah
6. Tinggal di sekitar Cikarang Utara 

Lamaran di antar langsung ke SDIT Wirausaha Indonesia 
Jl. Nakula Raya No.1-4 Perumahan Grand Cikarang City Blok C9
Telp. 0813-17517835