Kamis, 24 Mei 2012

4 Cara Tumbuhkan Jiwa Wirausaha pada Anak




Ajak anak untuk mulai berani berinteraksi dengan orang lain, dan tampil lebih percaya diri akan kemampuan mereka.


KOMPAS.com - Menjadi pewirausaha dianggap sebagai jalan keluar untuk mengatasi berbagai masalah di dunia kerja. Bahkan, Mary Mazzio, pembuat film sekaligus seorang pengusaha di Amerika, mengatakan bahwa setiap orang memiliki kewajiban untuk menjadi wirausaha. "Namun Anda harus bertanya bagaimana cara menciptakan nilai lebih pada produk, dan mengetahui cara bisnis yang lebih baik," ungkap Mazzio.
Untuk menambah ilmunya tentang wirausaha, Mazzio banyak mewawancarai para pengusaha sukses seperti Richard Branson, pemilik Virgin Group, dan Arthur Blank, co-founder The Home Depot. Dalam wawancaranya, satu hal yang paling diingat oleh Mazzio adalah sifat kewirausahaan ini bisa diajarkan pada anak-anak, agar mereka memiliki jiwa wirausaha sejak kecil. Untuk menanamkan jiwa wirausaha pada anak-anak, ini yang harus Anda lakukan:

1. Tumbuhkan rasa percaya diri
"Anak saya sangat pemalu ketika masih kecil, dan ia akan mengarang berbagai alasan untuk menolak permintaan saya untuk mulai berwirausaha," ungkap Mazzio.
Sebaiknya didik anak untuk lebih percaya diri dan menghilangkan rasa malu dalam dirinya. Berhenti berpikir tentang rasa malu terhadap orang lain, dan berhentilah untuk hanya berpikir tentang diri sendiri. Ajak anak untuk mulai berani berinteraksi dengan orang lain, dan tampil lebih percaya diri akan kemampuan mereka.

2. Membuat kamar inspirasi
Dimana para pengusaha mendapatkan inspirasi dan ide-ide terbaik mereka? Menurut Mazzio, sebagian besar ide terbaik para pengusaha dihasilkan dari sebuah ruang untuk berpikir kreatif. Buatlah sebuah ruang bermain yang penuh dengan berbagai hal yang bisa meningkatkan kreativitas anak.

"Jika anak-anak merasa bosan, hindari untuk membeli mainan untuk mereka. Ajari mereka untuk memikirkan cara menghibur diri mereka sendiri," sarannya.
Proses ini bertujuan untuk mengajarkan anak-anak memecahkan masalah mereka, lebih kreatif, dan punya inisiatif yang tinggi. Inilah salah satu modal seorang pengusaha yang sukses.

3. Tingkatkan produktivitas
Ketika bekerja atau berwirausaha, uang memang merupakan imbalan yang akan didapatkan sebagai hasil dari produktivitas dan kreativitas mereka. Namun, biasakan untuk mengajarkan pada anak-anak bahwa uang tidak selalu bisa menjamin kebahagiaan mereka. Beri pengertian pada anak, bahwa sebenarnya proses produktiflah yang terpenting dalam pekerjaan. Karena proses produktif akan memberi mereka rasa kebebasan dan kemerdekaan.
"Pacu mereka untuk giat belajar matematika dan keterampilan menulis, karena dua pelajaran ini bisa diterapkan pada kehidupan sehari-hari, dan bisa digunakan untuk memenangkan rencana bisnis untuk investor," tukasnya.

4. Jangan remehkan kegagalan
Mazzio mengungkapkan bahwa nilai kewirausahaan bukan hanya dibutuhkan untuk menciptakan bisnis yang sukses. Kewirausahaan juga merupakan cara hidup dan cara berpikir seseorang. Ketika yang tertanam pada diri kita adalah wirausaha merupakan cara untuk mendapat kesuksesan dan menghasilkan uang yang banyak, jangan heran bila kita mengalami kegagalan.
"Banyak orang yang meremehkan kegagalan, dan kadang bicara dalam konteks menghina. Padahal dari kegagalan kita bisa belajar. Pengusaha yang besar adalah orang yang bisa bangun dan menarik diri kembali setelah gagal," tukasnya.
Belajar dari kegagalan bisa memperluas karakter Anda, dan membuat Anda berpikir lebih kreatif tentang bagaimana mencapai berbagai hal yang sulit dicapai. Ajarkan anak-anak untuk siap menghadapi berbagai kegagalan yang mungkin terjadi, dan ajarkan mereka untuk lebih berani menghadapi berbagai risiko. (Christina Andhika Setyanti | Dini | Sabtu, 31 Maret 2012 | 07:36 WIB)

Selasa, 24 April 2012

Pentingnya Pendidikan Wirausaha

Kecenderungan yang terjadi pada masyarakat, kebanyakan dari mereka lebih menginginkan pekerjaan yang mapan setelah menyelesaikan pendidikannya. Mereka tidak mau mengawali kehidupan setelah lulus dengan memulai suatu usaha. Kesuksesan seseorang mereka lihat dari ukuran seberapa makmur kehidupan orang tersebut, berapa besar gaji yang diperolehnya, apakah ia sudah memiliki mobil mewah atau rumah yang indah. Padahal, sukses tidaknya seorang wirausahawan bukan dilihat dari sudut pandang kemakmuran dan kesejahteraan seseorang. Namun lebih dinilai dari usaha apa yang telah diperbuat dalam pekerjaannya, baik itu dengan memulai suatu usaha sendiri atau lewat pekerjaan yang digelutinya.
Pendidikan kewirusahaan sekarang ini cenderung kepada bagaimana memulai suatu usaha dan mengelola usaha tersebut dengan baik. Wirausaha bukan berarti harus memiliki suatu usaha. Wirausahawan secara umum adalah orang-orang yang mampu menjawab tantangan-tantangan dan memanfaatkan peluang-peluang yang ada. Bekerja keras unutk menjawab tantanga-tatangan yang ada dan memanfaatkan peluang-peluang yang ada dengan sebaik-baiknya tanpa harus melanggar aturan dan etika yang ada.
Pendidikan kewirausahaan sangatlah penting bagi wirausaha, agar mereka tidak meraba-raba dalam melakukan bisnis mereka. Dengan adanya pendidikan maka mereka akan mempertimbangkan semua yang akan mereka lakukan dengan matang. Pendidikan akan membentuk para wirausahawan atau pebisnis yang handal dan tangguh. Siap menghadapi tantangan yang akan mereka hadapi. Besar kecilnya resiko akan mereka pertinmbangkan matang-matang, melakukan segala hal dengan petunjuk yang mereka ketahui tanpa adanya kebimbangan yang tidak pasti.

Kamis, 19 April 2012

Mendidik Anak agar Berjiwa Entrepreneur

KOMPAS.com — Tak mudah memiliki mental seorang entrepreneur. Memiliki jiwa entrepreneur, berarti mendorong adanya mental yang mandiri, kreatif, inovatif, bertanggung jawab, dan tak mudah menyerah, seperti layaknya seorang wirausaha ketika memulai usahanya dari bawah. Alangkah baiknya jika sifat-sifat ini ditanamkan pada anak sejak dini untuk membantu mereka sukses menjalani seluruh kehidupannya.

"Bagi saya, entepreneur itu bukan sekadar seseorang yang berwirausaha, tetapi lebih kepada sifat dan mental seseorang yang kreatif dan mandiri," ungkap psikolog Tika Bisono kepada Kompas Female saat acara Swoma (Sekar Womenpreneur Award) di Gedung Smesco, Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu.
Orang dewasa saja belum tentu memiliki sifat entrepreneur karena berbagai alasan. Maka, tak ada salahnya mendidik anak-anak sejak kecil untuk menerapkan sifat-sifat tersebut dalam hidup sehari-hari. "Sebaiknya dilatih sejak anak usia TK karena dalam tahap ini otak mereka lebih cepat menyerap informasi dan meniru semua perbuatan orangtuanya karena rasa ingin tahunya yang besar," tukasnya.

Memiliki jiwa entrepreneur akan membuat anak tumbuh menjadi anak yang lebih mandiri dan tidak bergantung pada orang lain, mampu berpikir kreatif dan inovatif, serta lebih menghargai uang dan barang. Ada banyak cara yang bisa digunakan untuk mendidik anak agar punya jiwa entrepreneur ini, salah satunya adalah mengenalkan uang kepada anak sejak dini.

"Salah jika ada yang berpikiran untuk menunggu sampai anak besar baru dikenalkan pada uang. Justru kenalkan anak nilai dan nominal uang sejak kecil agar mereka bisa tahu bahwa untuk mendapatkan uang butuh perjuangan. Namun, yang harus diperhatikan adalah cara yang digunakan haruslah sesuai dengan usia si anak," beber Tika lagi.

Orangtua bisa memberi contoh kepada anak untuk menabung atau mengajak anak berbelanja dan mengenalkannya dengan harga-harga. Menurut Tika, ketika anak-anak sudah kenal uang dan perjuangan untuk mencari uang, mereka akan lebih berhati-hati ketika meminta sesuatu kepada orangtuanya.
Selain itu, biasakan juga untuk mengajarkan anak menabung uang sakunya sendiri. Hal ini bertujuan membiasakan anak hidup hemat. Sifat hidup hemat yang ditanamkan sejak kecil akan berdampak baik sampai ia dewasa.

Anda sebagai orangtua sebaiknya juga tidak terlalu memanjakan anak dengan selalu menuruti semua keinginannya. Didik anak untuk mandiri dan tidak terlalu sering merajuk. Boleh-boleh saja sesekali menuruti permintaannya, tetapi jangan terlalu mudah terbujuk rengekan atau tangisannya ketika meminta sebuah barang.

"Ajarkan ia untuk bersabar ketika meminta sesuatu, atau minta saja dia menabung uang jajannya sendiri untuk membeli mainan tersebut. Beri pengertian kepadanya bahwa untuk mendapatkan mainan butuh uang dan harus ditabung terlebih dulu. Karena, menurut penelitian, anak yang mampu meredam keinginannya dan bersabar ternyata lebih pintar daripada anak yang tidak biasa bersabar," pungkas Tika.
Mengajarkan anak untuk bersabar sekaligus akan melatih kemandirian dan tanggung jawabnya untuk mampu mengendalikan diri serta emosionalnya.

Senin, 09 April 2012

Lulusan SD Jadi Pengusaha, Sarjana Jadi Karyawan

TEMPO.CO, Jakarta - Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah mencatat angka lulusan sarjana (S1) kalah telak dari lulusan sekolah dasar dalam hal memulai menjadi seorang pengusaha.
"Datanya diolah dari data yang kami dapat dari Kementerian Pendidikan," ujar Deputi Pengembangan Kewirausahaan Kementerian Koperasi, Taty Ariati, Sabtu, 7 April 2012.

Berdasarkan data itu minat lulusan sekolah menengah umum untuk menjadi pelaku usaha kecil dan menengah hanya 22,63 persen. Angka ini kalah dibanding minat dari lulusan SD dan sekolah menengah pertama yang mencapai 32,46 persen. Adapun lulusan perguruan tinggi hanya 6,14 persen.

Taty menyatakan data tersebut bisa menjadi catatan bahwa kurikulum pendidikan yang diajarkan di bangku sekolah saat ini cenderung tidak mendorong seseorang berminat menjadi seorang wirausahawan, tapi lebih tertarik bekerja kantoran.

Sekolah tidak lebih banyak mengajarkan keterampilan bagi peserta didik, sehingga cakap dalam persaingan usaha. Hal itu semakin kuat karena hingga kini budaya sebagian masyarakat Indonesia, sebagian besar orang tua, masih berharap anak-anaknya dapat menjadi karyawan sebuah perusahaan ketimbang membuka usaha sendiri.

"Kesannya ketika makin tinggi (tingkat pendidikannya), orang malas jadi pengusaha UKM karena di bayangannya mereka inginnya jadi karyawan," ujar dia.

Melihat fenomena itu lembaganya terus memberikan edukasi dan informasi bagi lulusan sekolah berbagai tingkatan untuk menjadi pengusaha, sehingga semakin banyak lapangan kerja baru. "Mereka (UKM) itu tidak bergantung pada peluang kerja yang diberikan pihak lain. Justru mereka membuat (peluang) sendiri," kata dia.
JAYADI SUPRIADIN

Senin, 05 Maret 2012

Gerakan Kewirausahaan Nasional Dimulai

Jakarta (ANTARA News) - Menteri Koperasi dan UKM, Sjarifuddin Hasan, menyatakan Gerakan Kewirausahaan Nasional (GKN) telah dimulai sejak 2 Februari 2011.

"Mulai hari ini, Gerakan Kewirausahaan Nasional telah dimulai," kata Sjarifuddin Hasan di Jakarta, Rabu, dalam acara Pencanangan GKN yang dihadiri oleh Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono.

Pencanangan GKN menandai telah dimulainya sebuah program untuk melahirkan lebih banyak wirausaha baru di Indonesia.

Ia mengatakan, saat ini jumlah wirausaha di Tanah Air baru sebanyak 0,24 persen dari total populasi penduduk, padahal untuk dapat dikatakan sebagai negara maju diperlukan setidaknya 2 persen jumlah wirausaha dari seluruh jumlah penduduk.

"Melalui GKN ini kita berharap dapat meningkatkan jumlah wirausaha minimal 2 persen dari total populasi penduduk kita," katanya.

Menurut Menteri, jika hal itu dapat dicapai maka bukan tidak mungkin jumlah pengangguran dan tingkat kemiskinan dapat ditekan sehingga kesejahteraan rakyat dapat tercapai.

Ia menambahkan, berbagai upaya dilakukan untuk mendukung GKN di antaranya program pengembangan sumber daya manusia, peningkatan program pembiayaan, dan pemasaran bagi calon wirausaha.

"Seluruh kementerian bersinergi dengan BUMN, perbankan, organisasi masyarakat dengan satu tujuan untuk meningkatkan kualitas, kuantitas, dan eksistensi GKN," katanya.

Selain itu, berbagai program yang digulirkan pemerintah antara lain program wirausaha 1.000 sarjana, pelatihan kewirausahaan, PKBL (Program Kemitraan dan Bina Lingkungan), program pembiayaan CSR, PNPM Mandiri, hingga Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang tahun ini ditarget Rp20 triliun tanpa jaminan.

"Ini komitmen pemerintah untuk mendorong agar generasi muda menjadi wirausaha andal dan menjadi generasi yang menciptakan pekerjaan bukan sebagai `job seeker`," katanya.

Begitu pula program pemasaran, kata Sjarifuddin, yang diarahkan untuk mendukung kemudahan bagi calon wirausaha dalam memasarkan produknya.

"Kami juga telah bekerja sama dengan kementerian lain untuk meningkatkan fungsi pemasaran baik domestik maupun internasional," katanya.

Pihaknya telah menyediakan ruang pamer Gedung Smesco yang siap menampung pemasaran produk KUKM dari seluruh Indonesia.

Pihaknya berharap GKN akan menjadi titik balik sinerginya seluruh pemangku kepentingan untuk mendorong lahirnya lebih banyak wirausaha yang andal, mandiri, dan berdaya saing.

"Kita akan membawa rakyat Indonesia ke arah negara `the best on new economic` melalui kewirausahaan," katanya.

Dalam pencanangan GKN terangkai pula acara expo kewirausahaan, pemberian penghargaan kepada tokoh, perbankan, wirausaha muda sukses, koperasi, dan kepala daerah penggerak kewirausahaan.

Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono, dalam sambutannya menyatakan gembira dan bangga terhadap seorang wirausaha atau mereka yang bertekad menjadi wirausaha.

"Wirausaha adalah seorang yang punya ide, kreatif, dan inovatif. Mereka berani melakukan sesuatu yang baru, berani mengambil risiko," katanya.

Wirausaha, menurut Presiden juga tidak pasif tetapi aktif untuk berkarya bagi kemajuan hidupnya.

( By Sufajar Butsianto )

Sabtu, 03 Maret 2012

Merubah Paradigma Pendidikan Anak

NUSA DUA, KOMPAS.com - Pendidikan di Indonesia harus mampu mengubah cara pandang yang semula bekerja sebagai pegawai, menjadi wirausaha. Perubahan ini harus ditanamkan sejak anak-anak memasuki sekolah tingkat taman kanak-kanak.
Pengusaha senior Ciputra mengemukakan hal itu kepada wartawan, seusai menjadi pembicara dalam Pertemuan Kewirausahaan Regional di Nusa Dua, Bali, Sabtu (23/7). Dalam pertemuan yang diselenggarakan Global Entrepreneur Program (GEP) bermitra dengan Global Entrepreneur Program Indonesia (GEPI), hadir wirausaha dari Indonesia dan 11 investor dari Amerika Serikat yang tergabung dalam Angel Investor.
Ciputra yang tercatat sebagai salah seorang pendiri GEPI berpendapat, saat ini, seorang anak yang duduk di TK justru diajar untuk selalu patuh. Anak itu tidak diajarkan berpikir kreatif. Akibatnya, pikiran untuk selalu menurut terbawa hingga dewasa. ”Maka dari itu, cara pandang harus diubah menjadi bagaimana cara menjadi wirausaha mandiri yang kreatif,” ujarnya.
Saat ini, jumlah wirausaha di Indonesia sekitar 450.000 orang atau sekitar 0,18 persen dari total jumlah penduduk Indonesia. Jumlah ini masih jauh dari ideal, yakni 2 persen dari jumlah penduduk. Persentase ini kalah jauh dibandingkan sengan Singapura yang wirausahanya 7,2 persen dari jumlah penduduk, Amerika Serikat sekitar 12 persen, dan Malaysia 3 persen....
Selengkapnya, baca Harian Kompas, 25 Juli 2011.

Kamis, 09 Februari 2012

Peresmian oleh Bupati Bekasi


Alhamdulillah pada hari Rabu tanggal, 8 Februari 2012 bertepatan dengan 15 Robiul Awal 1433 Hijriyah telah diresmikan pembukaan SEKOLAH WIRAUSAHA INDONESIA (SWI) oleh Bapak Bupati Bekasi, Dr. H.Sa'duddin, MM yang dalam hal ini diwakili oleh Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bekasi, yaitu Bapak Dr. Rusdi, Bio Med. 

Dalam sambutannya, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bekasi mengatakan bahwa masyarakat saat ini buta bahasa, buta teknologi informasi dan buta wirausaha. Sekolah Wirausaha Indonesia diharapkan dapat mengikis buta-buta yang dialami oleh masyarakat. SWI sudah mulai mengenalkan anak-anak untuk bisa berbahasa mandarin disamping bahasa Inggris dan bahasa Arab.
Di sekolah ini juga mulai dikenalkan dengan teknologi dan informasi yang saat ini semakin canggih dan mengalami kemajuan yang sangat pesat. Dan yang tidak kalah penting adalah bagaimana anak-anak diarahkan untuk menjadi mandiri, kreatif dan inovatif sebagai modal utama menjadi manusia-manusia yang unggul dan bersaing di kancah global. Amiin.

Dalam peresmian ini juga dihadiri oleh Ketua Fraksi DPRD Kabupaten Bekasi, Bapak Faisal Hafan Farid, SE yang juga memberikan sambutannya yang cukup antusias dengan kehadiran SDIT yang konsen dengan wirausaha ini. Terakhir, acara yang sangat bersejarah ini ditutup dengan do'a yang dibawakan oleh Ustadz Adih Amin, Lc, MA. Beliau adalah Direktur Boarding School SMPIT Thariq Bin Ziyad.   

Senin, 06 Februari 2012

Grand Opening Sekolah Wirausaha Indonesia



Peresmian Oleh Bupati Bekasi, Dr.H.Sa'duddin, MM

Apabila Allah berkenan, insya Allah pada hari Rabu/08 Februari 2012 SEKOLAH WIRAUSAHA INDONESIA (SWI) akan diresmikan pembukaannya oleh Bapak Bupati Bekasi, Dr. H. Sa'duddin, MM. Acara akan diramaikan oleh Pentas Kreasi Anak Muslim dari TK/TPA/PAUD se-Perumahan Grand Cikarang City dan sekitarnya.

Mohon doanya, mudah-mudahan segalanya berjalan dengan lancar dan sekolah ini akan membawa manfaat sebesar-besanya bagi umat dan Allah meridhoi usaha yang kami jalankan. Amiin. 


Selasa, 10 Januari 2012

Gerakan Kewirausahaan Nasional

Gedung Smesco, Rabu, 2 Februari 2011. Para pengusaha kecil sampai yang besar, para pejabat dari berbagai instansi, kepala daerah, mahasiswa, hingga masyarakat umum, ikut ambil bagian dalam ajang bertajuk gerakan kewirausahaan nasional. Agenda besar hari itu, Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono secara resmi mencanangkan Gerakan Kewirausahaan Nasional di Indonesia.
Sebagai bagian dari Gerakan Kewirausahaan Nasional, Tim Koordinasi Nasional Pengembangan Wirausaha Kreatif yang diketuai DR. Handito Hadi Joewono menggelar Entrepreneur Summit 2011 (2 – 4 Februari 2011) ditempat yang sama. Pameran kewirausahaan pun digelar. Seminar kewirausahaan dengan berbagai tema juga dilakukan. Para pengusaha besar pun turun gunung. Nama besar seperti Ir. Ciputra dan Chairul Tanjung (Trans Corp/Para Group) berbaur ditengah-tengah massa. Para kepala daerah, Bupati/Walikota dan Gubernur, juga hadir di Smesco. Para menteri Kabinet Indonesia Bersatu jilid II tidak ketinggalan mengambil peran. Bahkan Ketua DPR, Ketua MPR, Ketua DPD, Ketua Komisi Yudisial, hingga Ketua Mahkamah Konstitusi ikut menjadi saksi pencanangan Gerakan Kewirausahaan Nasional.
SBY: Peluang Wirausaha Di Indonesia Masih Terbuka
Dalam sambutannya, Presiden SBY mengatakan peluang menekuni dunia wirausaha di Indonesia masih terbuka. Setidaknya, ada enam alasan yang diutarakan presiden untuk menggambarkan besarnya peluang sukses berwirausaha di Indonesia. Pertama, Indonesia memiliki sumber daya alam yang lebih besar dibandingkan dengan banyak negara lain, termasuk negara tetangga. Kedua, Indonesia memiliki sumber daya manusia yang besar mengingat banyak penduduk masuk dalam kelompok produktif. Ketiga, pereknomian tanah air saat ini sedang mengalami pertumbuhan. Keempat, berbagai bidang usaha masih bisa dikembangkan di seluruh daerah di Indonesia. Kelima, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi semakin baik. Terakhir, pemerintah dan seluruh dunia usaha ingin memberi bantuan kepada pengusaha rintisan, misalnya dalam bentuk pelatihan, modal, pinjaman, dan KUR.
Presiden juga mengatakan wirausaha merupakan pahlawan ekonomi rakyat. Sebab, aktivitas usahanya dapat menciptakan lapangan kerja baru sehingga bisa mengurangi tingkat pengangguran. Untuk itu, aktivitas usaha yang dapat menciptakan lapangan kerja baru layak terus dikembangkan. Kesejahteraan rakyat makin meningkat manakala kemiskinan tidak terus berkembang. Kenapa masih ada orang miskin? Karena masih ada yang berpenghasilan kecil atau tidak memiliki penghasilan. Mengapa seseorang tidak memiliki penghasilan? Karena tidak punya pekerjaan. Karena itu, SBY mengatakan wirausaha yang dapat menciptakan lapangan kerja baru sebagai pahlawan ekonomi rakyat. Mengutip data BPS tahun 2010 yang up date hingga saat ini, SBY mengatakan, pengangguran di Indonesia berjumlah 8,32 juta (7,14%).
Menurut SBY, yang namanya wirausaha adalah seorang yang kreatif dan inovatif. Mereka juga seorang yang berani melakukan hal yang baru, yang sebelumnya belum ada, dibikin ada. Juga seorang yang berani mengambil risiko apakah terobosannya, penemuannya, idenya, berhasil atau tidak dikemudian hari. Wirausaha juga seorang yang aktif menemukan sesuatu, berkarya bagi kemajuan hidupnya. Dalam konteks dunia ekonomi, seorang wirausaha adalah yang menemukan produk/jasa yang baru, yang membuka pasar yang tadinya belum ada, yang bisa memberikan nilai tambah terhadap barang/jasa yang diproduksi selama ini. SBY juga mengatakan, wirausaha tidak identik dengan pengusaha mikro, kecil, dan menengah. Tapi hampir pasti, seorang wirausaha lahirnya dari aktivitas usaha mikro, kecil, dan menengah.
Pada kesempatan yang sama, SBY juga menganugerahkan penghargaan penggerak kewirausahaan. Untuk kepala daerah terbaik dalam pengembangan kewirausahaan antara lain Gubernur Jateng Bibit Waluyo, Gubernur Jabar Ahmad Heryawan, Gubernur Jatim Soekarwo, Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo, dan Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo. Sedangkan Ir. Ciputra, (pendiri Ciputra Global Entrepreneurship), Dirut Bank Mandiri Zulkifli Zaini, Dirut Bogasari Baking School Werianty Setiawan, dan Presdir PT Shell Indonesia Darwin Silalahi, tercatat sebagai penerima penghargaan pembina kewirausahaan terbaik yang menggerakkan kewirausahaan. Penerima penghargaan lembaga keuangan terbaik penggerak kewirausahaan adalah BNI, Bank Nagari, Kospin Jasa, dan KSU Setiabudi Wanita Malang. Penerima penghargaan wirausaha muda sukses adalah Achmad Rofiq (rumah produksi animasi), Fauzan Hangriawan (lele sangkuriang), M. Asmui Kammury (Javapuccino), Nur Kartika (nata de cassava), dan Ali Bagus Antra. S (Bebek Garang).
Menkop & UKM: Program Untuk Melahirkan Lebih Banyak Wirausaha
Menurut Menkop UKM Sjarifuddin Hasan, pencanangan GKN menandai telah dimulainya program untuk melahirkan lebih banyak wirausaha baru di Indonesia. Untuk dapat dikatakan sebagai negara maju, paling tidak diperlukan jumlah wirausaha 2% dari total jumlah penduduk. Ia berharap jumlah tersebut dapat dicapai melalui pencanangan GKN. “Jika angka itu tercapai, bukan tidak mungkin jumlah pengangguran dan tingkat kemiskinan dapat ditekan sehingga kesejahteraan rakyat dapat tercapai,” ujarnya.
Menkop UKM juga mengatakan, berbagai upaya dilakukan untuk mendukung GKN, diantaranya program pengembangan sumberdaya manusia, peningkatan program pembiayaan, dan pemasaran bagi calon wirausaha. Seluruh kementerian bersinergi dengan BUMN, Perbankan, Organisasi Masyarakat, dengan satu tujuan untuk meningkatkan kualitas, kuantitas, dan eksistensi GKN. Program yang digulirkan pemerintah antara lain program wirausaha 1000 sarjana, pelatihan kewirausahaan, Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL), program pembiayaan CSR, PNPM Mandiri, dan Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang tahun ini ditarget menyerap Rp 20 triliun.
Ir. Ciputra : 10% Total Anggaran Pendidikan untuk Pelatihan dan Pendidikan Entrepreneur
Salah satu peraih penghargaan Pembina kewirausahaan terbaik menggerakkan kewirausahaan, Ir. Ciputra mengatakan, Gerakan Kewirausahaan Nasional yang digaungkan merupakan suatu langkah yang luar biasa. Dia berharap Indonesia betul-betul menjadi negara entrepreneur dengan menciptakan 45 juta entrepreneur baru dalam waktu 25 tahun.
“Sekarang sudah diproklamirkan. Kemudian, bagaimana implementasinya? Ada lima yang harus kita lakukan, antara lain yang penting yaitu, supaya sekolah kita dari sekolah dasar sampai universitas, mempunyai program entrepreneur,” terang Ir. Ciputra. Dia menambahkan, entrepreneur itu berupa mind set, value dan karakter yang kemudian bisa jadi budaya. Budaya lalu menciptakan peradaban (civilization). Oleh Karen itu, makin muda seseorang belajar entrepreneur, semakin matang dia. Kita mulai dari kecil, menengah, besar, dan internasional. Implementasinya, satu pihak ada pelatihan, satu pihak implementasinya. Pelatihan harus menyiapkan sumber daya manusia, terutama peranan dari P & K. Kemudian implementasi departemen-departemen lain, terutama departemen koperasi & UKM.
Yang menjadi kesulitan bagi masyarakat Indonesia, tidak memiliki orang tua entrepreneur. Disamping itu, tidak cukup lingkungan entrepreneur, dan tidak cukup sekolah tempat pelatihan entrepreneur. Sedangkan entrepreneur menurut Ciputra lahir dari orang tua, dari lingkungan, atau dari sekolah. Hal itu yang menyebabkan lebih sulit bagi Indonesia untuk melahirkan entrepreneur. Tapi, lanjutnya, kita harus cerdas. “(Jika)Anda tidak bisa ciptakan orang tua. (Maka) Anda harus berusaha menciptakan lingkungan,” tandasnya. Sekolah diganti menjadi entrepreneur center. Kemudian sekolah juga harus punya kurikulum entrepreneur. Lebih dini anak belajar, lebih berkesempatan untuknya berhasil dan bisa menjadi besar. Oleh karena itu, tamatan SMK atau universtas, serahkan kepada departemen, misalnya departemen koperasi & UKM. Sekalian berikan kredit (modal usaha).
“Saya minta 10% saja dari total anggaran pendidikan khusus untuk pendidikan dan pelatihan entrepreneur. KUR sudah ada. Sekarang, khusus untuk pendidikan dan pelatihan. 10% dari 20 triliun (anggaran pendidikan negara) kali 25 tahun, hanya 500 triliun. Kenaikan entrepreneur kita akan naik jadi 2%. GDP akan naik kira-kira 4 kali lipat,” paparnya. Ciputra menambahkan saat ini, jumlah entrepreneur yang dimiliki Indonesia kira-kira 0,25%. Malaysia sudah 2%, Thailand 4%, dan Singapura 7%. Untuk mengejarnya, mesti dimulai dengan pelatihan dan pendidikan. Kemudian sediakan fasilitas. Entrepreneur center diberlakukan. Kredit diusahakan. Ia mengibaratkan, Anda punya anak, bagaimana dia menjadi pengusaha kalau Anda sendiri bukan pengusaha. Anda punya lingkungan tidak sesuai untuk dia belajar. Jadi harus berlatih di sekolah.
Chairul Tanjung: Pengusaha Harus Punya Semangat Yang Besar
Bos Para Group Chairul Tanjung, yang juga hadir dalam moment tersebut mengatakan, banyaknya bermunculan wirausaha muda merupakan petanda yang bagus karena masyarakat mulai senang dan menekuni dunia wirausaha. Dia juga membagi beberapa pengalamannya dalam menekuni dunia usaha hingga bisa meraih kesuksesan saat ini. Pertama, pengusaha harus punya semangat yang besar. Semangat tersebut jangan pernah pudar. “Terus bangkit jika menghadapi cobaan, karena itu bagian dari proses untuk menjadi besar,” kata pemilik Trans Corp ini.
Kedua, pengusaha harus memiliki kecerdasan. Kecerdasan yang dimaksud Chairul Tanjung bukan dilihat dari kecerdasan ilmu, namun cerdas melihat peluang pasar dan peluang-peluang yang lain. Sekecil apapun peluang itu harus dipegang, jangan sampai terlewatkan atau lepas. Sebab, peluang sama dengan momentum yang tidak datang untuk kedua kalinya. Kemudian, pengusaha juga harus pintar melihat peluang yang dekat-dekat saja. “Lihat di sekitar kita peluang yang bisa kita kembangkan,” tandasnya.
“Jika sesorang peka dalam melihat peluang, maka biasanya dapat mengakumulasikan sumberdaya yang begitu besar dan menguntungkan. Siapa yang pertamakali melihat peluang itu, dia pasti akan lebih dulu menikmati kesuksesan. Maka itu, pengusaha harus pintar dan cekatan memanfaatkan setiap peluang yang ada,” paparnya. Ingat, tangkap peluang sekecil apapun.
BNI Syariah: Bank Terbantu Adanya KUR
Masih dalam event yang sama, Direktur BNI Syariah Hanawijaya mengatakan, porsi kredit pembiayaan UMKM memang menjadi prioritas BNI Syariah. Di 2011, bank yang dipimpinnya ini menargetkan penyaluran 25% - 35%. “KUR adalah salah satu pintu masuk kita untuk mengembangkan UMKM. Karena, program tersebut menurut pendapat bank, baik,” ucapnya. Penyaluran pembiayaan KUR tetap melalui prosedur bank, namun jika terjadi sesuatu dengan nasabah, bank dicover sebesar 70%. “Itu kan bagus untuk bank,” tambahnya.
Selain itu, target penyaluran KUR merupakan wirausaha-wirausaha baru yang secara bankable – karena alasan jaminan – tidak masuk, tetapi secara cash flow usaha, dia baik. Karena itu, kata Hana Wijaya, pihak bank terbantu sekali dengan mendapat kesempatan ikut program KUR. “Menurut saya, program ini (KUR) merupakan salah satu program jenius bagi pemerintahan sekarang,” ungkapnya. Sebab, bank susah mengakses orang yang non bankable tadi. Kedua, ini bisa jadi modal utama bagi bank untuk membiayai entrepreneur baru. BNI Syariah sendiri, berhasil membuat 791 nasabah KUR-nya naik kelas menjadi komersial pada 2010. “Kita kasih modal KUR dulu, lama-lama cash flow-nya dapat memberi Kapital. Kapitalnya sekarang dijaminkan, dia lepas dari KUR. Jadi UMKM melalui KUR ini adalah salah satu jalan keluar bagi bank yang ada kesulitan dibidang akses ke UMKM, terutama UMKM baru,” kata Hanawijaya.
Ketua Tim Koordinasi Nasional Pengembangan Wirausaha Kreatif Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian RI: Gerakan Wirausaha Makin Massif dan Membesar
Menurut Ketua Tim Koordinasi Nasional Pengembangan Wirausaha Kreatif Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian RI Handito Hadi Joewono, pencanangan GKN membuat gerakan wirausaha semakin massif dan membesar. Terkait itu, Tim Koordinasi yang bertugas menciptakan wirausaha baru di Indonesia melakukan beberapa program yang dijalankan secara bertahap. Diantaranya membuat modul yang aplikatif berisi lesson learn atau true story yang biasa ditemukan di lapangan. Modul yang akan dibuat mencakup berbagai bidang, misalnya selling.
“Pengembangan wirausaha kami bagi dalam beberapa tahap,” ungkap Handito. Pertama, tahap pembenihan, yaitu tahap untuk mendorong masyarakat yang akan memulai bisnis baru. Misalnya dengan ceramah, media massa, seminar motivasi bisnis, workshop simulasi bisnis, dll. Tahap kedua, penempaan. Bagi calon wirausaha kreatif yang mempunyai niat kuat, akan dilakukan penempaan berupa pengadaan pelatihan-pelatihan seperti simulasi bisnis riil, kompetensi wirausaha, standar kompetensi, pelatihan kewirausahaan, dll. Tahap ketiga adalah pengembangan, yang akan dilakukan dengan cara pembukaan akses pasar, pembiayaan usaha, pameran & misi dagang, dll. “Jadi yang akan kita kembangkan bukan wirausaha baru yang baru mau berbisnis. Tapi sudah mempunyai usaha namun belum berkembang,” jelas Chief Strategi Consultant Arbey Indonesia ini. Para wirausaha kreatif tersebut nantinya diseleksi untuk masuk di jenjang pembenihan, penempaan, dan pengembangan. (Disalin dari: Ade Ahyat)