Kamis, 16 Januari 2014

Strategi dan Inovasi dalam Membangun Pendidikan Modern

Salah satu dari tujuan yang ada dalam Millenium Development Goals (MDGs) 2015 serta bagian yang tidak terpisahkan dalam sebuah peradaban satu negara adalah majunya pendidikan. Berdasarkan data, mengenai pendidikan, pada data tahun 2008 tercatat angka 94,7% anak laki-laki dan perempuan masuk sekolah dasar. Namun, perbedaan antar 
daerah satu dengan daerah yang lainnya masih cukup tinggi, yaitu dari 89,31% untuk Aceh hingga 86,91% untuk Papua. Semenjak 18 tahun yang lalu pada implementasi wajib belajar 9 tahun melalui Inpres Nomor 1 tahun 1994 terlihat sepertinya pemerintah masih harus mengevaluasi program ini, meski pada kenyatannya masih banyak masyarakat Indonesia yang belum tamat pada jenjang pendidikan dasar. Permasalahan semakin muncul dengan adanya banyak program yang akan dibahas pada makalah ini mulai dari SMP Terbuka, SD-SMP satu atap, RSBI, Ujian Nasional, sertifikasi guru dan pendidik dan masih banyak lagi. Salah satu strategi dan inovasi dalam pendidikan yang akan dibahas pada makalah ini adalah mengenai peran teknologi informasi dan komunikasi pada kehidupan sehari-hari yang tidak dapat dipisahakan, terkadang penggunaanya sangat membantu dan juga terkadang menjadikan tertinggal karena terlalu cepatnya perkembangannya, khususnya jika jenjang kualifikasi yang dimiliki masyarakatnya rendah. 

Bagaimana kita bisa menyikapi perkembangan teknologi informasi terlebih lagi untuk masyarakat yang ada di Indonesia pada 3 hingga 5 tahun ke depan, pertanyaan yang timbul kapankah terwujudnya percepatan serta keberhasilan dalam pendidikan untuk realisasi MDGs di Indonesia? Jawabannya sangat tergantung pada seberapa besar usaha dan kepedulian seluruh masyarakat Indonesia bersama-sama dengan pemerintah agar bisa mencapai tujuan dan realisasi yang tertuang dalam MDGs pada 3 tahun lagi menuju 2015. 

Selasa, 14 Januari 2014

Membangun SDM yang Unggul

“Sangking banyaknya yang saya harus sampaikan kepada Anda, tidak tau bagaimana caranya dalam waktu yang singkat”. “Karena masalahnya yang saya mau saya sampaikan adalah bagian dari perjuangan Bangsa Indonesia”. demikian disampaikan oleh Presiden ke-3 Republik Indonesia, Prof. Dr. Ing. H. Bacharuddin Jusuf Habibie (B. J. Habibie) mengawali awal pidato kunci pada acara Rakornas Ristek 2013 dengan judul Iptek untuk Kemajuan Bangsa, acara ini dalam rangkaian gelaran Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) ke-18 tahun 2013 yang diselenggarakan di Gedung Sasono Langen Budoyo, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta.

“Saya tidak pernah mendapatkan Pedoman Penghayatan Pengamalan Pancasila (P4) tapi saya menjadi instruktur P4, dan saya tidak pernah mengikuti Lenhamnas, tetapi kalau saya kembali saya disuruh mengajar di Lemhanas. Tapi satu yang saya dapatkan adalah indoktrinasi, Anda tidak dapat itu”. Pada zaman dahulu, untuk pergi keluar negeri itu sulit sekali, dan yang boleh pergi adalah mahasiswa dari negara yang mengembangkan bidang dirgantara dan pembuatan kapalan. “Logikanya gampang kita satu-satunya benua maritime di dunia”, namanya maritime Indonesia, tidak mungkin dari sabang sampai marauke dihubungkan dengan kereta api dengan mobil dengan kapal untuk barang kadang-kadang terlalu lambat.

Satu yang diputuskan oleh Presiden Republik Indonesia yang pertama Proklamator Bung Karno dalam mengadapi tantangan tersebut adalah untuk segera mengirimkan putra dan putri terbaik Indonesia keluar negeri untuk menekuni dua bidang penguasaan teknologi dalam pembuatan pesawat terbang dan pembuatan kapal (kapal laut-red), waktu itu usia Prof. B.J. Habibie baru 18 tahun.
Ide dirgantara diawali oleh generasi pertama Pak Wieko meneruskan mengembangkan Garuda Indonesia Air. Dan yang melanjutkan Pak Wieko adalah gelombang kedua Nurtanio (Bapak Perintis Industri Pesawat Indonesia) sampai dengan tahun 1960, dia mampu mengembangkan si Kumbang, tetapi belum sasarannya, sasaran kita bukan pesawat tempur, sasaran kita adalah pesawat penumpang. Sebagai bentuk dukungan terhadap industri pesawat, bung Karno berinisiatif membuat Komando Pelaksana Industri Pesawat Terbang dengan anggota kabinet penuh dan dipimpin oleh seorang menteri dibantu oleh Angkatan Udara Marsekal Imam Sukotjo.

Habibie menerima gelar S-3 (Doktor Ingenieur) studi teknik penerbangan, spesialisasi dalam konstruksi pesawat terbang pada tahun 1964 di usia 28 tahun dari RWTH (Rheinisch Westfälische Technische Hoschchule) Aachen, Jerman Barat. Sebelum kembali ke tanah air, Beliau pernah bekerja di perusahaan penerbangan yang berpusat di Hamburg, Jerman. Pada tahun 1973, Beliau kembali ketanah air atas permintaan Presiden Soeharto untuk mengembangkan industri pesawat terbang nasional.
Bapak Industri Pesawat Modern Indonesia ini mangatakan bahwa “Anda itu lebih baik dari Habibie, jika tidak berarti generasi Habibie gagal. Tidak ada orang yang merencanakan bahwa anak-anaknya cucu-cucunya lebih buruk dari dirinya. Siapa lagi yang akan membangun bangsa ini, jika bukan kita semua.”
Suatu bangsa tidaklah mungkin mengandalkan sumber daya alam semata, namun harus mengandalkan sumber daya manusia (SDM).Untuk menghasilkan sumber daya manusia yang efisien dan produktif (SDM unggul) adalah dengan mensinergikan secara positif antara elemen budaya dan agama (pembudayaan secara implisit dan eksplisit), serta pendidikan yang sistematis. SDM unggul akan tercipta setelah mengalami proses keunggulan, dimana SDM tersebut mampu mengukur kemampuan diri dan menemukan keunggulan diri sehingga proses keunggulan identik dengan lapangan kerja.
Menutup paparannya, Habibie berpesan kepada hadirin yang hadir pada acara Rakornas Ristek 2013 bahwa Kita harus belajar untuk melanjutkan perjuangan sebelumnya, tidak mengulangi kesalahan yang sama, tidak berhenti berusaha (kontinyuitas), dan tetap konsisten serta terus berkreasi. Jangan mengharapkan bangsa lain untuk membangun bangsa ini, mereka hanya datang kesini hanya mau mengambil sumber daya alam kita saja. 

Senin, 13 Januari 2014

Pendidikan Ala Rosululloh


Praktik pendidikan Nabi Muhammad SAW pada anak-anaknya dapat di gambarkan di bawah ini:

1. Rasulullah senang bermain-main (menghibur) dengan anak-anak dan kadang-kadang beliau memangku mereka. Beliau menyuruh Abdullah, Ubaidillah, dan lain-lain dari putra-putra pamannya Al-Abbas r.a. untuk berbaris lalu berkata, “ Siapa yang terlebih dahulu sampai kepadaku akan aku beri sesuatu (hadiah).”merekapun berlomba-lomba menuju beliau, kemudian duduk di pangkuannya lalu Rasulullah menciumi mereka dan memeluknya.

2. Ketika ja’far bin Abu Tholib r.a, terbunuh dalam peperangan mut’ah, Nabi Muhammad SAW, sangat sedih. Beliau segera datang ke rumah ja’far dan menjumpai isterinya Asma bin Umais, yang sedang membuat roti, memandikan anak-anaknya dan memakaikan bajunya. Beliau berkata, “Suruh kemarilah anak-anak ja’far. Ketika mereka dating, beliau menciuminya. Sambil meneteskan air mata. Asma bertanya kepada beliau karena telah mengetahui ada musibah yang menimpanya.

3. “Wahai rasulullah, apa gerangan yang menyebabkan anda menangis? Apakah sudah ada beritayang sampai kepada anda mengenai suamiku Ja’far dan kawan-kawanya?” Beliau menjawab, “Ya benar, mereka hari di timpa musibah.” Air mata beliau mengalir dengan deras. Asma pun menjerit sehingga orang-orng perempuan berkumpul mengerumuninya. Kemudian Nabi Muhammad SAW. kembali kepada keluarganya dan beliau bersabda, “janganlah kalian melupakan keluarga ja’far, buatlah makanan untuk mereka, kerena sesungguhnya mereka sedang sibuk menghadapi musibah kematian ja’far.”

4. Ketika Rasulullah melihat anak Zaid menghampirinya, beliau memegang kedua bahunya kemudian menagis. Sebagian sahabat merasa heran karena beliau menangisi orang yang mati syahid di peperangan Mut’ah. Lalu Nabi Muhammad SAW. pun menjelaskan kepada mereka bahwa sesungguhnya ini adalah air mata seorang kawan yang kehilangan kawannya.

5. Al-Aqraa bin harits melihat Nabi Muhammad SAW. mencium Al-Hasan r.a. lalu berkata, “Wahai Rasulullah, aku mempunyai sepuluh orang anak, tetapi aku belum pernah mencium mereka.” Rasulullah bersabda, “Aku tidak akan mengangkat engkau sebagai seorang pemimpin apabila Allah telah mencabut rasa kasih sayang dari hatimu. Barang siapa yang tidak memiliki rasa kasih sayang, niscaya dia tidak akan di sayangi.”

6. Seorang anak kecil dibawa kepada Nabi Muhammad SAW. supaya di doakan dimohonkan berkah dan di beri nama. Anak-anak tersebut di pangku oleh beliau. Tiba-tiba anak itu kencing, lalu orang-orang yang melihatnya berteriak. Beliau berkata, “jangan di putuskan anak yang sedang kencing, buarkanlah dia sampai selesai dahulu kencingnya.”
Beliau pun berdoa dan memberi nama, kemudian membisiki orang tuanya supaya jangan mempunyai perasaan bahwa beliau tidak senang terkena air kencing anaknya. Ketika mereka telah pergi, beliau mencuci sendiri pakaian yang terkena kencing tadi.

7. Ummu Kholid binti kho;id bin sa’ad Al-Amawiyah berkata, “Aku beserta ayahku menghadap Rasululloh dan aku memakai baju kurung (gamis) berwarna kuning. Ketika aku bermain-main dengan cincin Nabi Muhammad SAW. ayahku membentakku, maka beliau berkata, “Biarkanlah dia.” Kemudian beliau pun berkata kepadaku, “bermainlah sepuas hatimu, Nak!

8. Dari Anas, diriwayatkan bahwa Nabi Muhammad SAW. selalu bergaul dengan kami. Beliau berkata kepada saudara lelakiku yang kecil, “Wahai Abu Umair, mengerjakan apa si nugair (nama burung kecil).”

9. Nabi Muhammad SAW. melakukan shalat, sedangkan Umamah binti zainab di letakkan di leher beliau. Di kala beliau sujud, Umamah tersebut di letakkanya dan bila berdiri di letakkan lagi dil leher beliau. Umamah adalah anak kecil dari Abu Ash bin Rabigh bin Abdusysyam .

10. Riwayat yang lebih masyhur menyebutkan, Rasulullah perna lama sekali sujud. dalam shalatnya, maka salah seorang sahabat bertanya,” Wahai Rasulullah, sesungguhnya anda lama sekali sujud, hingga kami mengira ada sesuatu kejadian atau anda sedang menerima wahyu. Nabi Muhammad SAW, menjawab, “Tidak ada apa-apa, tetaplah aku di tunggangi oleh cucuku, maka aku tidak mau tergesa-gesahsampai dia puas.” Adapun anak yang di maksud ialah Al-Hasan atau Al-Husain Radhiyallahu Anhuma

11. Ketika Nabi Muhammad SAW. melewati rumah putrinya, yaitu sayyidah fatimah r.a., beliau mendengar Al-Husain sedang menangis, maka beliau berkata kepada Fatimah, “Apakah engkau belum mengerti bahwa menangisnya anak itu menggangguku.” Lalu beliau memangku Al-Husain di atas lehernya dan berkata, Ya Allah, sesungguhnya aku cinta kepadanya, maka cintailah dia.
Ketika Rasulullah SAW. sedang berada di atas mimbar, Al-Hasan tergelincir. Lalu beliau turun dari mimbar dan membawa anak tersebut.

12. Nabi Muhammad SAW. sering bermain-main dngan Zainab binti Ummu Salamah r.a. beliau memanggilnya, “Hai Zuwainib, hai Zuwainib berulang-rulang.”

13. Nabi Muhammad SAW. sering berkunjung ke rumah para sahabat Anshar dan memberi salam pada anak-anaknya serta mengusap kepala mereka.

14. Diriwayatkan, pada suatu hari raya Rasulullah SAW. keluar rumah untuk menunaikan shalat ID. Di tengah jalan, beliau melihat banyak anak kecil sedang berman dengan gembira sambil tertawa-tawa. Mereka mengenakan baju baru, sandal mereka pun tampak mengkilap. Tiba-tiba pandangan beliau tertuju pada salah seorang yang sedang duduk menyendiri dan sedang menangis tersedu-sedu. Bajunya compang-camping dan kakinya tiada bersandal. Rasulullah SAW, pun mendekatinya , lalu di usap-usap anak itu mendekapya ke dadabeliau seraya bertanya, “mengapa kau menangis, Nak .” Anak itu hanya menjawab, “biarkanlah aku sendiri.” Anak itu belum tahu bahwa orang yang ada di hadapannya itu adalah Rasulullah SAW. yang terkenal sebagai pengasih. “Ayahku mati dalam suatu pertempuran bersama Nabi,” lanjut anak itu. “Lalu ibuku kawin lagi. Hartaku habis di makan suami ibuku, lalu aku di usir dari rumahnya. Sekarang, aku tak mempunyai baju baru dan makanan yang enak. Aku sedih meihat kawan-kawanku bermain dengan riangnya itu.l”

Baginda Rasulullah SAW. lantas membimbing anak tersebut seraya menghiburnya, “Sukakah kamu bila aku menjadi bapakmu, Fatimah menjadi kakakmu, Aisyah menjadi ibumu, Ali sebagai pamanmu, Hasan dan Husain menjadi saudaramu?” Anak itu segera tahu dengan siapa ia berbicara. Maka langsung ia berkata, “mengapa aku tak suka, ya Rasulullah?” kemudian, Rasulullah SAW, pun membawa anak itu ke rumah beliau, dan di berinya pakaian yang paling indah, memandikannya, dan memberinya perhiasan agar ia tampak lebih gagah, lalu mengajak makan.
Sesudah itu, anak itu pun keluar bermain dengan kawan-kawannya yang lain, sambil tertawa-tawa sambil kegirangan. Melihat perubahan pada anak itu, kawan-kawannya merasa heran lalu bertanya, “Tadi kamu menagis, mengapa sekarang bergembira?” jawab anak itu, tadi aku kelaparan, sekarang sudah kenyang. Tadi aku tak mempunyai pakaian, sekarang aku mempunyainya, tadi aku tak punya bapak, sekarang bapakku Rasulullah dan ibuku Aisyah.” Anak-anak lain bergumam, Wah, andaikan bapak kita mati dalam perang.” Hari-hari berikutnya, anak itu tetap di pelihara, oleh Rasulullah SAW. hingga beliau wafat.

Senin, 06 Januari 2014

Membangun Sistem Pendidikan Islam

Allah SWT berfirman:  "Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan hikmah (As Sunnah). dan Sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata." (QS. Al Jum’ah 2).

Ayat di atas menggambarkan betapa Nabi Muhammad saw. yang berasal dari bangsa Arab yang buta huruf diutus oleh Allah SWT membawa misi perubahan dengan pendidikan Islam untuk menghasilkan bangsa yang baru, yang maju, bahkan yang terbaik di antara umat manusia (QS.  Ali Imran 110).

Proses pendidikan Islam yang dibawa oleh Rasulullah saw. dengan membacakan ayat-ayat Al Quran kepada kaum yang buta huruf, tidak pandai baca tulis, maupun menghitung, yang terbelakang dan diliputi kebodohan jahiliyah. Dengan ayat-ayat mukjizat itu Rasulullah saw. membersihkan hati dan pikiran mereka dari noda-noda syirik dan jahiliyah, serta mengajarkan kepada mereka hukum-hukum halal haram dalam seluruh aspek kehidupan sehingga terjadi perubahan dan pembangunan bangsa yang luar biasa.

Ya, Bangsa Arab yang jahiliyah berubah menjadi umat Islam yang berpengetahuan. Bangsa Arab yang terbelakang berubah menjadi umat Islam yang mampu meruntuhkan imperium Persia dan memukul mundur imperium Rumawi sampai ke Konstantinopel.  Hanya dalam tempo 28 tahun setelah turunnya ayat Al Quran yang pertama (QS. Al Alaq 1-5) umat Islam berkuasa atas dunia (QS. An Nuur 55) pada masa Khalifah Umar bin Al Khaththab pada tahun 15H.

Umat Islam mempelopori kemajuan peradaban dunia 
Dengan menguasai dunia, menerapkan syariah secara kaffah, dan pengagungan ilmu yang luar biasa, umat Islam menjadi pelopor peradaban dan kemajuan ilmu pengetahuan. Sejarah mencatat bahwa ilmu-ilmu sains Yunani diterjemahkan, dianalisis, dan dikembangkan oleh para ulama kaum muslimin. Banyak penemuan dilakukan oleh para ilmuan muslim sepanjang kemajuan peradaban Islam dan kejayaan kekuasaan Khilafah Islamiyyah.

Kalau hari ini dengan teleskop kita bisa mengintip gerakan planet, bintang, dan galaksi; berbagai kejadian di seluruh dunia bisa dilaporkan melalui TV oleh para reporter dan kameraman; kejadian apapun di mall dan kantor bisa direkam oleh CCTV; itu semua  tidak lepas dari jasa ilmuwan muslim Al-Hasan Ibnu al-Haitham (965-1039 M) yang menemukan kamera obscura. Perkembangan teknologi IT yang demikian luar biasa yang mampu mendekatkan manusia dengan media sosial seperti facebook dan twitter serta website dan juga berbagai sistem perhitungan untuk design mobil dan pesawat serta berbagai peralatan canggih, semua berkat teknologi komputasi yang luar biasa yang dasarnya menggunakan sistem biner, yakni  bilangan 0 dan 1. Dan bilangan nol adalah temuan ilmuwan muslim al-Khawarizmi  (780 M). Tak terbayangkan oleh kita, apa jadinya jika tidak ditemukan bilangan nol dan peradaban manusia masih berdasar pada angka Rumawi. Maha benar Allah SWT yang telah berfirman: “niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Mujaadilah 11).

Tujuan Sistem Pendidikan Islam Untuk membangun suatu bangsa atau umat agar menjadi bangsa dan umat yang unggul di dunia, diperlukan strategi pendidikan yang tepat, yang memiliki tujuan mulia melahirkan generasi unggulan(khairu ummah). 
Dalam perspektif Islam, negara harus menetapkan bahwa tujuan pendidikan bangsa atau umat adalah:
Pertama, membangun kepribadian bangsa dan umat dengan kepribadian Islam yang istimewa (as syakhshiyyah al Islamiyyah al mutamayyizah).  Kepribadian Islami yang istimewa terbentuk dengan menanamkan aqidah Islamiyyah di hati setiap insan peserta didik, dan memenuhi hati (qalbu) mereka dengan berbagai ayat Al Quran seputar aqidah Islamiyyah, baik tentang iman kepada keesaan dan kekuasaan Allah SWT, pencipta manusia, kehidupan, dan seluruh alam semesta,  keimanan kepada kiamat, kebangkitan manusia setelah mati, pengumpulan dan persidangan di padang mahsyar, penghitungan dan penimbangan amal, hingga kenikmatan penghuni surga (ahlul jannah) maupun kesengsaraan penghuni neraka (ahlun naar). Aqidah Islamiyyah inilah yang akan menghidupkan hati (qalbu) setiap muslim sehingga akan terus gemar membaca dan mempelajari Al Quran dan Sunnah Rasulullah saw, yang menerangkan tentang berbagai perkara terkait dengan aqidah Islamiyyah dan hukum halal-haram. Aqidah Islamiyyah yang diikat oleh hati (qalbu) setiap  muslim ini akan menjadi asas berfikirnya sehingga dia memiliki cara berfikir Islami (al aqliyyah Islamiyyah), dan akan menjadi asas pengatur tingkah lakunya sehingga dia memiliki cara pengendalian diri Islami (an nafsiyyah Islamiyyah).
Dengan cara berfikir Islami, yakni mememahami dan memutuskan hukum suatu fakta (benda/perbuatan) dengan perspektif Islam, seorang muslim akan memiliki pemahaman Islam(mafahim Islamiyyah). Dan dengan pemahaman Islam itulah dia mengendalikan perilakunya agar senantiasa Islami, yakni sesuai dengan hukum syariah.

Kedua, membekali bangsa dan umat yang dididik dengan berbagai ilmu pengetahuan agar kelak menjadi ulama-ulama yang ahli dalam berbagai kehidupan, baik dalam bidang ilmu-ilmu Islam(tsaqafah Islamiyyah) seperti ahli dalam bidang fiqh, ijtihad, qadla, tafsir, hadits, dan lain-lain, maupun ahli dalam bidang sains eksperimental (al ulum at tajribiyyah)   seperti kimia, fisika, kedokteran, teknik mesin, otomotif, teknik pesawat terbang/aeronautika, teknik komputer, teknik informasi, dan lain-lain. Dengan keahlian-keahlian di atas maka bangsa dan umat ini akan menjadi unggul di dunia, mandiri, dan berpengaruh, bukan menjadi bangsa pembebek dan pengekor apalagi antek bangsa dan umat lain.

Strategi Pendidikan Islam
Untuk mencapai tujuan di atas perlu disusun strategi sistem pendidikan oleh negara sebagai berikut:
1. Memperkuat nuansa imani dalam kehidupan umat dengan menyemarakkan kegiatan sholat jamaah, shiyam Ramadhan, hari raya, ibadah qurban, haji, dan lain-lain  dan penerapan syariat dalam bidang pakaian, makanan, akhlak, muamalah ekonomi, penerapan hudud dan qishash,  penggiatan tabligh, taklim, dan amar makruf nahi mungkar, hingga jihad fi sabilillah.
2. Menyusun kurikulum yang diterapkan seluruh sekolah dengan materi pelajaran yang memenuhi tujuan pendidikan Islam di atas, yakni membangun kepribadian Islam, menyiapkan bekal menjadi ulama Islam, dan menyiapkan bekal menjadi ahli-ahli dalam bidang sains dan teknologi untuk menguasai kehidupan.
3. Menyiapkan guru-guru berkepribadian Islam istimewa, yang menguasai Al Quran dan As Sunnah serta berbagai bidang ilmu yang menjadi tanggung jawabnya untuk menjalankan kurikulum serta sabar dan arif bijaksana dalam mendidik para siswa.
4. Menetapkan metode pengajaran fikriyyah, yakni pengajaran oleh guru dengan penyampaian yang mengaktifkan kemampuan berfikir siswa untuk memahami persoalan dengan mengikatkan fakta materi pelajaran dengan berbagai informasi yang berkaitan dengan fakta itu.  Jadi tidak pernah disampaikan sebuah informasi tanpa mengajak para siswa untuk memahami faktanya.  Atau memberikan gambaran yang mendekatkan kepada fakta yang dibahas. Sebagai contoh, ketika menerangkan ayat tentang darah haid sebagai penyakit, dan larangan seorang suami menyetubuhi istri saat haid ( QS. Al Baqarah 222) perlu dihubungkan dengan informasi kedokteran bahwa gerakan dzakar pada saat berhubungan suami istri di masa haid juga bisa menjadi pemicu terjadinya gelembung udara ke pembuluh darah yang terbuka yang masuk ke dalam pembuluh darah, maka akan mengakibatkan penyumbatan pembuluh darah dan bisa mengakibatkan mati mendadak.
5. Membangun perpustakaan, laboratorium, dan pusat-pusat bahasa Arab/ Inggris dan ilmu pengetahuan serta menyediakan ulama-ulama pembimbing untuk mendukung pengembangan ilmu.
6. Menyelenggarakan sekolah dan universitas dengan sistem bebas biaya sebagai layanan pemerintah terhadap kebutuhan kolektif masyarakat dan kemudahan penyediaan SDM handal yang berkepribadian Islam, cerdas, terampil, produktif, dan kreatif, untuk memperkuat posisi tawar bangsa dan umat.
7. Menarik minat belajar, menuntut ilmu,  dan mengembangkan ilmu dengan membeli hak paten para ilmuwan untuk disedekahkan secara gratis kepada masyarakat atau temuan teknologi terapan yang diadopsi industri BUMN untuk diproduksi dan dijual murah kepada masyarakat.

Dengan tujuh strategi di atas insyaallah pendidikan bangsa dan umat ini bisa diarahkan untuk benar-benar mencerdaskan kehidupan bangsa dan memajukan kesejahteraan umat secara umum.Wallahua’lam!

Sabtu, 04 Januari 2014

Bagaimana Mengarahkan Anak Menjadi Kreatif & Inovatif?

Berbagai bukti menunjukkan bahwa semua bayi manusia yang lahir itu adalah makhluk kreatif dan inovatif. Dalam enam tahun pertama, semua bayi bisa meniru bahasa apapun yang dipakai orangtuanya. Bukankah itu kreativitas dan inovasi yang luar biasa dahsyatnya?
Tapi seiring dengan pola asuh yang diterimanya dari orang dewasa (orangtua, keluarga, sekolah, dan lain-lain), kreativitas dan inovasi itu ada yang semakin membaik dan ada yang sebaliknya. Umumnya, kreativitas dan inovasi bayi mulai menurun. 
Praktek pemupusan yang paling umum adalah melalui ucapan. Celakanya...ucapan itu kemudian dipedomani oleh si anak. Bisa kita hitung sendiri berapa perbandingan antara kata ”jangan” yang kita ucapkan dengan kata ”silahkan”? Umumnya yang paling sering kita ucapkan adalah kata ”jangan” dan berbagai ungkapan lain yang mengarah pada pembatasan. Inilah yang disebut dengan mental block atau self-limiting belief. Anak-anak berusaha membatasi dirinya karena batasan yang kita ciptakan di alam mentalnya.
“Lho, apa tidak boleh kita membatasi anak? Bukankah itu untuk kebaikannya? Tentu bukan seperti itu pengertiannya. Kalau merujuk pada model pola asuh yang sudah kita bahas di sini, yang perlu kita jauhi adalah perlakuan yang ekstrim, terlalu membiarkan dan terlalu mengawasi.
Terlalu membiarkan akan membuat anak-anak akan sulit membedakan mana yang benar, baik, dan bermanfaat, sembrono, menggampangkan sesuatu yang tidak gampang. Tetapi, terlalu membatasi juga bisa membuat mereka punya potensi ”minder”, merasa atau berkesimpulan bahwa di dunia ini lebih banyak batasannya ketimbang peluangnya. Mereka terbatasi oleh mentalnya sendiri
Memang, dalam prakteknya pasti tidak ada orangtua yang memiliki posa asuh sempurna untuk anak-anaknya. Kesempurnaan dalam parenting itu hanya akan terwujud dengan cara disempurnakan, selalu dan setiap saat, apabila: a) terbuka terhadap masukan baru, b) menambah ilmu, dan c) mau memperbaiki apa yang salah atau kurang (learning).
Perbaikan seperti apa yang penting untuk dilakukan? Jika kita melihat anak-anak kita turun daya kreativitas dan inovasinya setelah menginjak usia ke yang lebih tinggi, nasehat para pakar psikologi (Human Development: 1989) di bawah ini barangkali pas untuk kita jalankan:
  1. Menghormati hak anak untuk menginisiatifkan cara belajar yang pas untuk dirinya. Sebelum kita mengatakan ”jangan”, katakan ”silahkan” dulu, baru kemudian kita kasih pengarahan.
  2. Menghormati hak anak untuk ingin tahu dan mengalami. Sejauh tidak membahayakan, terkadang kita perlu memberikan kesempatan kepada mereka untuk mengalami (experiencing).
  3. Menghormati hak anak untuk menolak / menerima berbagai masukan setelah mempertimbangkannya. Terkadang kita harus siap dengan pilihan anak. Sejauh pilihan itu sudah kita jelaskan, dan dia memilih apa yang bukan kita pilih, saatnya kita menghormati pilihannya.
  4. Mendorong anak untuk lebih merasa tertantang dalam menghadapi masalah. Yang paling berharga dari proses ini bukan hasilnya, melainkan prosesnya itu. Jika si anak ternyata berhasil menyelesaikan masalah yang dihadapinya dengan caranya sendiri, itu telah menyumbangkan konsep-diri positif yang luar biasa.
  5. Memberikan kesempatan untuk berkreasi. Ini bisa dilakukan juga dengan cara memberikan rangangan, motivasi, atau kesempatan.
Lima hal di atas pasti mudah untuk diketahui tetapi belum pasti mudah untuk dijalankan. Kenapa? Kebanyakan kita lebih memilih jurus yang langsung instan, tidak perlu berpikir sulit, dan efeknya langsung nyata. Jurus itu adalah: jangan (melarang) atau (membiarkan). Semoga bermanfaat. Ditulis oleh Sahabat Nestlé

Remaja Kreatif dan Inovatif

KOMPAS.com - Menyaksikan kreativitas dan inovasi hasil riset para remaja, kita hanya bisa geleng-geleng kepala. Takjub, karena inovasi yang mereka hasilkan sederhana, tetapi menjadi solusi berbagai persoalan yang ada di masyarakat. Mereka pun masih berusia sangat belia, baru belasan tahun.

Naufal Rasendriya Apta R (15) dan Archel Valiano (15), misalnya, baru duduk di kelas IX SMP Islam Al Azhar 26, Yogyakarta. Namun, keduanya bisa menghasilkan karya yang membuat decak kagum pengunjung maupun dewan juri Kompetisi Ilmiah Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) 2013.

Naufal dan Archel menawarkan helm untuk pengendara sepeda motor ataupun sepeda yang dilengkapi lampu sein atau rating di telinga kiri dan kanannya.

Mereka memodifikasi alat sensor yang dapat menghidupkan lampu sein di helm. Uniknya, pengendara cukup menggelengkan kepala ke kiri atau ke kanan saat hendak berbelok sesuai arah, maka lampu sein menyala. Jika sudah tidak dipakai, pengendara tinggal menganggukkan kepala ke depan dua kali, maka lampu sein akan mati.

”Kami buat helm ini supaya bisa mengurangi angka kecelakaan di jalan raya,” kata Naufal yang atas karyanya ini, dia diganjar menjadi juara kedua kategori National Young Inventor Award (NYIA) Ke-6.

Di ajang NYIA beragam karya ditawarkan siswa SD, SMP, dan SMA sederajat berusia 8-18 tahun. Untuk mengatasi kejahatan, misalnya, siswa SMAN 6 Yogyakarta menawarkan gelang anti-penculikan dengan sensor alarm otomatis dan sandal antimaling. Ada juga sistem pengamanan terhadap benda pasif maupun aktif tanpa menggunakan kunci yang ditawarkan siswa SMA Dharma Karya, Tangerang Selatan.

Siswa SMAN 6 Yogyakarta juga membuat 3 in 1 shoes, yakni sepatu yang bisa dimodifikasi untuk tiga penampilan, iBlind yakni komunikasi melalui layanan pesan singkat (short message service/SMS) berformat huruf braille untuk penyandang tunanetra yang juga tunarungu. Ada pula kursi roda hidrolik yang memudahkan penyandang cacat untuk pindah sendiri ke tempat tidur tanpa bantuan orang lain.

Putri Khusna Millaty, siswa MAN 2 Kudus, Jawa Tengah, menciptakan alat pembelah durian. Cara kerja alat ini mengikuti prinsip payung terbalik.

”Anak nakal”
Menjadi juara dalam Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) dalam Kompetisi Ilmiah LIPI, bagi para peserta, bukan sekadar meraih hadiah dan piagam penghargaan. Tantangan terberat justru melawan rasa takut, ejekan orang lain, sulit mencari pembimbing, hingga terbatasnya fasilitas.

Naufal dan Archel yang masih SMP, umpamanya, sempat merasa takut menghadapi peserta lain yang umumnya siswa SMA/MA tersohor.

”Menyuntikkan semangat kepada mereka butuh kesabaran,” kata Ferry Kurniawan, guru Fisika SMP Islam Al Azhar yang juga pembimbing Naufal dan Archel.

Tak hanya juara dalam mengatasi ketakutan, mereka juga juara karena bisa mengatasi penolakan dari pimpinan sekolah yang meragukan potensi dua remaja yang dicap ”anak nakal” di sekolahnya.

Ferry mengisahkan pimpinan sekolah yang lama sempat menolak Naufal dan Archel mewakili sekolah untuk ikut Kompetisi Ilmiah LIPI. Pimpinan sekolah tersebut menganggap yang layak dikirim adalah anak-anak yang juara. Sebab, prestasi Naufal dan Archel di kelas biasa-biasa saja dan suka usil sehingga dicap ”anak nakal”.

”Sebenarnya mereka punya potensi yang bagus untuk eksperimen. Itulah yang saya lihat di diri mereka,” kata Ferry. ”Keberhasilan Naufal dan Archel ini akan jadi inspirasi buat banyak orang,” tambah Ferry.

Bogie Soedjatmiko Eko Tjahjono, Ketua Pelaksana Kompetisi Ilmiah LIPI 2013, mengatakan hasil karya di ajang NYIA berpotensi paten. Karya tersebut berpotensi untuk diproduksi massal. Sayang, belum banyak perusahaan yang melirik potensi peneliti remaja ini. Meski demikian, ada pula hasil-hasil inovasi remaja yang kemudian diproduksi massal seperti helm berpendingin.

Ajang penelitian remaja oleh LIPI ini tak hanya didominasi peserta di bidang sains dan teknologi. Para remaja yang berminat di penelitian sosial juga mendapat tempat dalam LKIR dan Pemilihan Peneliti Remaja Indonesia (PPIR)

Di ajang LKIR yang memasuki penyelenggaraan ke-45, minat peneliti remaja memasukkan karya cukup tinggi, lebih dari 1.000 karya tahun ini.

Rizki Muliyawati dan Dea Despianti, siswa SMAN 1 Muncang, Lebak, Banten, misalnya, melakukan penelitian terhadap para petambang pasir tradisional di Haurgajrug Cipanas, Kabupaten Lebak, Banten. ”Saya harus bertahan di sekolah sampai malam untuk membuat laporan penelitian karena di rumah tidak ada komputer dan laptop,” ujar Rizki yang meraih juara kedua LKIR kategori Ilmu pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan.

”Indonesia harus memperhatikan remaja-remaja hebat ini. Menyalakan semangat mereka agar terus berkarya,” kata Kepala LIPI Lukman Hakim.(KOMPAS CETAK/Ester Lince Napitupulu)

Jumat, 03 Januari 2014

Humor Bisa Membuat Anak Cerdas dan Kreatif

Menjadi orangtua tidak perlu terlalu ‘serius,’  hanya peduli pada jam makan, jam tidur, jam mandi, dan hal-hal rutin dengan tujuan disiplin. Sekali-kali bersikaplah konyol yang mengundang gelak tawa anak. Humor yang mengakibatkan anak tertawa dapat meningkatkan kecerdasan, kreativitas, kemampuan bersosialisasi, empati, rasa percaya diri, serta kemampuan menyelesaikan masalah.

Menurut Louis R. Franzini, PhD, psikolog anak yang juga seorang stand-up comedian dan Ketua Laughmasters and Toastmasters International Club, AS, banyak orangtua yang tidak menyadari bahwa bersikap konyol, yang mengundang gelak tawa anak merupakan salah satu cara membuat anak bahagia. Melakukan hal-hal konyol membuat anak tertawa, luwes, kreatif, dan sehat.

Pertanyaannya melakukan hal-hal konyol seperti apa yang membuat anak tertawa? Bunda, sebagai uji coba, saat bersama anak dan ia kelihatan mulai bosan, katakan padanya, “Sebentar, ya, Bunda  tidur dulu.” Duduklah di kursi dengan mata terpejam, pura-pura tidur dengan mimik wajah lucu. Lalu buat suara mengorok yang berirama. Si kecil akan tersenyum melihatnya, bahkan mungkin meniru Anda pura-pura tidur dan mengorok. Nah, kini giliran Anda yang dibuatnya tertawa, melihat gayanya mengorok.

Ada sebuah pepatah kuno yang mengatakan bahwa tertawa 30 kali sehari akan membuat Anda sehat. Sayangnya,  semakin dewasa seseorang semakin berkurang jumlah tertawanya. Menurut penilitian,  bayi tertawa 200 kali setiap hari, bahkan  beberapa di antaranya 300 kali sehari. Sementara orang dewasa hanya 15 kali sehari.

Nah, agar anak bisa menjaga jumlah tawa dan Anda bisa menambah waktu tertawa, cobalah menjadi ‘standing comedian’ untuknya dengan melakuka hal-hal konyol, yang membuat Anda dan anak bahagia tertawa terbahak-bahak. (ayahbunda.com/me)

Rabu, 27 November 2013

Dicari ... GURU Terbaik ...

SDIT Wirausaha Indonesia membutuhkan Guru, baik untuk posisi Wali Kelas maupun Guru Partner. Persyaratan silakan lihat di : www.yswi.blogspot.com

Penerimaan Murid Baru TP. 2014/2105


Penerimaan Siswa Baru Angkatan ke-3 SDIT Wirausaha Indonesia:
- Pendaftaran Rp.200.000,-
- Uang pangkal Rp.4.900.000,- (dicicil s/d April 2014). Bagi yang LUNAS
bulan Nopember 2013 cukup membayar Rp.4 juta
- SPP / bulan Rp.200.000,-

Penerimaan Siswa Baru Angkatan ke-1 KB/TK Islam Bunaya Kreatifa:
- Pendaftaran Rp.150.000,-
- Uang pangkal Rp.1.700.000,-
- SPP / bulan Rp.150.00,-
Catatan: Bagi anak yatim/piatu GRATIS seluruh biaya. Telp.021-70845128
-------------------
Ekskul yang sudah ada: Jarimatika & Pencak silat
Ekskul yang akan ada: Desain grafis, Seni Nasyid dll




Kamis, 14 November 2013

Cara Mengajari Anak Kreatif

Jika dibiarkan sendiri, anak-anak sangat kreatif bahkan seringkali lebih kreatif daripada kita. Namun, tanpa disadari kita sering menciptakan lingkungan yang membuat anak-anak tidak kreatif. Misalnya anak-anak lebih banyak menonton tivi atau bermain permainan komputer.
Anak-anak membutuhkan pengetahuan dan keterampilan, tetapi mereka juga perlu belajar bagaimana untuk berpikir kreatif yaitu menciptakan ide-ide baru dari awal. Kreatifitas adalah keterampilan hidup yang penting.
Jika para guru di sekolah tidak mengajarkan anak-anak berkreatifitas Anda bisa melakukannya di rumah. Jadi mematikan TV, matikan permainan komputer dan ajak anak Anda untuk melakukan permainan yang memerlukan kreatifitas.
Cobalah lakukan kegiatan ini:
1. Melakukan kegiatan diluar rumah. Dorong mereka untuk pergi ke luar dan bermain.
2. Membuat suatu seni kerajinan. Masukan kertas, memo, lem, pernak-pernik, spidol, krayon, karet gelang, klip kertas, kancing, benang, dan hal lain yang dapat Anda temukan di atas meja. Ajak anak-anak Anda untuk membuat sesuatu.
3. Bermain permainan hewan. Ajukan pertanyaan. Bagaimana hewan membantu mereka bertahan hidup? Minta mereka untuk menggambar binatang dengan kepala satu, tubuh besar dan ekor pendek. Nama apa yang akan mereka berikan kepada hewan ini? Apa yang akan dimakan hewan ini?Bagaimana dia bertahan hidup? Bagaimana bunyi suaranya? Dimana hewan ini akan hidup?
4. Bercerita. Anda mulai dengan dua kalimat pertama. "Disuatu desa ada seorang gadis kecil bernama Ratna yang mencintai anjing kecilnya bernama Siro pada suatu hari Siro mendadak. ..." Anak-anak menyambung dengan kalimat selanjutnya dan kalimat lain yang berhenti di tengah. Anda mendapatkan giliran yang lain. Mereka juga akan mendapatkan giliran lagi. Beri waktu untuk permainan ini. Masing-masing mendapat satu atau dua menit dan ketika bel berbunyi giliran pemain berikutnya yang akan bercerita..
5. Membuat hal-hal dari kayu. Anak-anak suka membuat hal-hal dari kayu. Bantu mereka membuat rumah burung. Gunakan rancangan dari buku atau dari internet. Buatlah sebuah kotak kecil dengan atap, lubang, dan tongkat untuk bertengger lalu menggantungnya di pohon dan sekarang anak-anak bisa menonton burung dengan senang.
6. Bermain dengan boneka. Gunakan kertas untuk boneka jari. Buat sesuatu yang sederhana seperti wajah kecil pada selembar kertas, dipotong, dan ditempel di jari bisa menjadi boneka. Buat boneka seolah-olah bisa bicara dan bernyanyi. Selanjutnya Anda dapat beralih ke cerita wayang, mulailah dengan hanya dua karakter: satu anak dan satu dewasa, dua anak, dua hewan. Mereka akan mulai menambahkan karakter. 
 7. Percobaan dengan ilmu pengetahuan. Cari petunjuk dari internet atau buku cara membuat bel atau motor listrik dari sampah seperti kaleng, kawat, sekrup. Lalu buat sebuah perlombaan dan mereka mungkin akan terkejut melihat siapa yang menang.  Jika mereka mencari tahu mengapa mereka bisa kalah dan dimana letak masalahnya, suatu hari nanti mereka akan mempelajarinya dalam pelajaran fisika.
Jika Anda tidak mempunyai ide sendiri, Anda bisa mencari ide dari buku, perpustakaan atau dari internet untuk mendapat ide-ide agar anak Anda bisa melakukan kegiatan-kegiatan yang membutuhkan kreatifitas mereka. 
Sumber:  http://mendidikanakanak.blogspot.com/2012/12/cara-mengajari-anak-kreatif.html