Jumat, 02 Agustus 2013

Santunan Yatim & Dhuafa SWI

Alhamdulillah hari ini Jum'at/02 Agustus 2013 Sekolah Wirausaha Indonesia (SWI) sukses menyelenggarakan Santunan Yatim & Dhuafa. Santunan dilakukan secara langsung "door to door" ke rumah-rumah anak yatim dan dhuafa yang dilakukan oleh Ketua Yayasan, Kepala SDIT Wirausaha Indonesia didampingi oleh tokoh masyarakat setempat. 

Ramadhan tahun ini SWI menyantuni sekitar 30 an anak yatim & dhuafa yang dananya diperoleh dari orang tua murid dalam bentuk zakat, infaq dan shodaqoh dan dari yayasan sendiri. Santunan dipusatkan di kampung sekitar sekolah, yaitu di kampung Pisang Batu, Kampung Poncol dan Kampung Walahir Desa Karang Raharja, Kecamatan Cikarang Utara, Kab. Bekasi.

Berikut beberapa foto kegiatan


Jumat, 26 Juli 2013

Pentingnya Kurikulum Berbasis Kewirausahaan

Oleh : Kuncoro*)


Kurikukulum pendidikan kerap kali berganti dan disesuaikan dengan perkembangan situasi dan kondisi yang berkembang saat ini. Perubahan kurikulum yang terlalu sering juga akan tidak baik terhadap dunia pendidikan dan perlu diingat bahwa anak didik bukanlah kelinci percobaan untuk implementasi kurikulum baru.
Perubahan kurikulum yang terpenting adalah bagaimana memasukan atau mengembangkan mata pelajaran yang dapat menumbuhkan jiwa kewirausahaan bagi anak didiknya. Mengapa jiwa kewirausahaan menjadi penting? Hal itu disebabkan karena saat ini banyaknya lulusan yang bermental pencari kerja sementara lapangan pekerjaan tidak sebanding dengan pertumbuhan lulusan dunia pendidikan yang akhir menambah angka pengangguran.
Mencari lapangan pekerjaan hanyalah salah satu jalan untuk bisa memperoleh pekerjaan namun bukan satu-satunya cara untuk memperoleh penghasilan, sementara berwirausaha adalah pilihan tepat manakala lapangan pekerjaan tidak dapat menyerap para lulusan dunia pendidikan secara keseluruhan.
Seringkali orang tua bertanya pada anaknya :”Nak, cita-cita kamu nanti kalau sudah besar mau jadi apa?, anaknya pasti akan menjawab salah satu profesi yang terlihat mapan oleh pandangan si anak seperti mau jadi PNS, mau jadi Tentara, mau jadi Dokter atau mau Pengacara. Pertanyaan tersebut hanya akan menumbuhkan mental pencari kerja bagi putra-putri  kita, bahwa saya akan mencari pekerjaan setelah menyelesaikan  pendidikannya nanti.
Saat ini mungkin pertanyaan itu harus sudah diubah “Nak, nanti kalau kamu sudah besar apa yang bisa kamu ciptakan? Pertanyaan tersebut tentunya akan membuat anak berpikir bahwa bagaimana dia menciptakan sesuatu yang dapat bermanfaat untuk dirinya dan orang lain, serta si anak  akan berfikir kreatif dan inovatif dalam melihat peluangan dan tantangan yang ada. Melalui pertanyaan tersebut diharapkan si Anak dapat menumbuhkan jiwa kewirausahaan dan menciptakan sebuah lapangan pekerjaan.
Dengan tumbuhnya jiwa Inovasi dan kreatifitas pada anak-anak bangsa,  hal ini menciptakan jiwa wirausahawan, serta akan dapat mendorong dan memberikan perubahan terhadap kemajuan suatu negara. Wirausahawan adalah seorang yang menciptakan sebuah bisnis yang berhadapan dengan resiko dan ketidakpastian bertujuan memperoleh profit dan mengalami pertumbuhan dengan cara mengidentifikasi kesempatan dan memanfaatkan sumber daya yang diperlukan.
Saat ini pertumbuhan ekonomi Indonesia tumbuh cukup baik  sebesar 6,3% dan menjadi nomor 2 di dunia setelah Tiongkok  yang memiliki perrtumbuhan ekonomi 7,7% . Indonesia memiliki sumber daya alam yang cukup berlimpah, artinya semua itu adalah kesempatan untuk berwirausaha bagi setiap orang yang jeli melihat peluang bisnis.
Menjadi wirausahawan akan mendukung kesejahteraan rakyat serta memberikan banyak pilihan barang dan jasa bagi konsumen, baik dalam maupun luar negeri. Meskipun perusahaan raksasa lebih menarik perhatian publik dan sering kali menghiasi berita utama, bisnis kecil tidak kalah penting perannya bagi kehidupan sosial dan pertumbuhan ekonomi suatu negara.
Indonesia sebagai negara yang sedang berkembang masih memiliki potensi yang cukup besar dalam membangun wirausahawan-wirausahawan baru namun  pada kenyataannya mungkin saat ini masih Indonesia masih  kekurangan wirausahawan.
Hal tersebut mungkin karena belum dikembangkannya kurikulum pendidikan yang menunjang dalam membangun kewirausahaan. Kurikulum pendidikan masih banyak didominasi oleh kurikulum pendidikan yang konvensional.
Karenanya, kurikulum pendidikan yang berbasis kewirausahaan sudah selayaknya dikembangkan kedalam kurikulum pendidikan di Indonesia mulai pendidikan dasar. Hal ini dimaksudkan agar menumbuhkan jiwa kewirausahaan pada putra-putri bangsa sejak dini yang pada akhirnya dapat menumbuhkan jiwa kewirusahaan akan menjadi bekal bagi anak-anak negeri manakala tidak tersedianya lapangan pekerjaan untuk mereka.

*) Kasubid Penanggulangan Kemiskinan Setkab

Jumat, 21 Juni 2013

Bagaimana Memahami Karakter Anak?

Pernahkah Anda melihat ada batita sedang mengaduk-aduk tanah menggunakan sekop sambil memetiki tanaman cabai, hingga membuat badan dan pakaiannya belepotan tanah? Bagaimana pendapat Anda? Nakalkah anak tersebut?
Kejadian itu saya alami sendiri. Beberapa bulan yang lalu saat usianya masih 2 tahun, saya memergokinya sedang memetiki daun cabai di halaman lalu memasukkannya ke dalam tanah yang sudah digali memakai sekop mainan. Badan dan bajunya belepotan tanah. Untungnya saat itu belum memasuki musim hujan, jadi kotorannya tidak menempel kuat.
Demi melihat tanah berhamburan di halaman dan pohon cabai yang nyaris gundul tanpa daun, saya hampir saja mau memarahinya. Tapi syukurlah masih bisa ditahan. Pelan-pelan saya tanya apa yang sedang dilakukannya? Dan jawaban ini meluncur dari mulutnya:
“Gaza lagi tanam cabai, Bun. Kan waktu itu Gaza petikin cabai Bunda. Kata Bunda nanti cabainya habis. Terus Gaza petik aja daunnya, tanam deh di situ. Jadi nanti cabai Bunda banyak, enggak habis-habis lagi.” ujarnya dengan penuh percaya diri.
Saya sebetulnya pengin bilang, “Apanya yang tumbuh kalau yang ditanam daunnya?” Tapi niat itu segera saya urungkan. Bukankah kita harus menghargai apa yang dilakukan oleh anak? Apalagi maksud Gaza baik, meski caranya kurang tepat. Jadi saya cuma bilang, “Ya Gaza hebat. Nah anak hebat sekarang masuk dulu ya, mandi dan ganti baju.”. Gaza pun menyimpan sekopnya lalu mandi. Beres, tidak ada pertengkaran sama sekali. Mungkin lain ceritanya jika tadi saya memarahinya sebelum sempat mendengar penjelasannya.
Di lain waktu, begini lah polah Gaza. Selepas kami berdua shalat Maghrib, dia menarik saya ke tempat tidur dan bilang bahwa dia mau cerita. “Cerita apa?” tanya saya. Dan cerita itu pun mengalunlah dari mulut mungilnya:
“Bun, suatu hari ada anak kucing namanya Mio. Anak kucingnya nakal engga mau makan.”
“Kenapa?” tanya saya
“Karena males dan ngantuk. Terus dia pergi ke sekolah. Eh di sekolahnya dia ngantuk. Sama bu guru ditanya ini gambar apa? Engga tau. Ini warna apa? Engga tau. Terus sama bu guru ditanya, Mio kamu kenapa engga tau aja? Karena saya engga makan bu guru. Ya udah kamu pulang aja! Bu gurunya marah.”
“Terus habis itu gimana?” kembali saya bertanya
“Mio pulang. Eh di jalan ada kakek bawa karung, Mio diculik dimasukin karung. Terus Mio berdoa Ya Allah tolong selamatkan aku.”
“Sama Allah ditolong ngga?” tanya saya yang mulai larut dalam ceritanya.
“Iya doanya dikabulkan Allah. Mio selamat deh! Terus Mio pulang ke rumah. Disuruh makan sama bundanya.”
“Mau makan?”
“Mau, Mio makan nyam nyam.. Habis itu Mio pergi lagi, ketemu penculik lagi.”
“Diculik lagi dong?” saya kaget dengan kelanjutan cerita ini. Saya pikir cerita tamat setelah si Mio makan.
“Engga lah, kan Mio udah makan. Jadi badannya berat, ga kuat penculiknya masukin karung. Mio selamat deh.”
Demikianlah cerita Gaza. Sebetulnya sudah cukup sering dia bercerita tentang kisah binatang, tapi itu adalah cerita pertamanya yang selesai sampai akhir.

Perpaduan Kecerdasan Linguistik-Natural-Kinestetik
Tiga tahun full saya mendampingi Gaza. Dia tidak memiliki pengasuh dan belum saya sekolahkan di PAUD/Play Group seperti kebanyakan temannya yang lain. Alasannya simpel saja, karena saya tidak bekerja di kantor jadi saya masih sanggup mengajarinya. Lagipula ia masih terlalu kecil, khawatir nantinya malah cepat bosan. Karena itulah nyaris 24 jam aktifitasnya selalu terpantau oleh saya. Dari hasil pantauan itu, inilah yang saya peroleh: Besar dugaan saya bahwa dia menonjol dalam 3 bidang kecerdasan yaitu Linguistik, Natural dan Kinestetik (Mengacu pada Multiple Intelligences-nya Howard Gardner).
Perkembangan bahasanya meningkat pesat sejak ia berusia 17-18 bulan. Sebelumnya kami masih sering bingung dengan ocehannya. Tapi setelah melalui usia tersebut, mulut Gaza bagaikan mesin pelontar peluru yang nyaris tak pernah berhenti bertanya dan bercerita.
Kecerdasan Natural-nya bisa dilihat dari minatnya yang demikian besar terhadap alam sekitar. Gaza senang sekali mengamati ulat, kupu-kupu, kelinci, sampai kambing. Ia bahkan hobi keluar di malam hari sambil membawa senter cuma agar bisa melihat kodok, jangkrik dan binatang malam lainnya. Tidak hanya melihat langsung, Gaza juga senang menonton tayangan tentang binatang di tivi dan video. Hal ini saya manfaatkan betul. Jadi setiap ia menonton tayangan binatang, saya usahakan untuk selalu mendampingi dan menjelaskan kepadanya (terutama kalau tayangannya dalam bahasa Inggris). Awalnya saya pikir ia tidak menyimak penjelasan saya, karena fokus sekali pada tontonannya. Namun betapa saya terkejut ketika suatu hari dia mampu memprotes ayah saya yang mengatakan bahwa semut membawa dedaunan kering dan ranting pohon itu untuk berantem. Eh dengan tegas dia bilang bahwa itu dilakukan semut untuk membuat sarang, seperti penjelasan saya berdasarkan narasi di fil dokumenter tersebut.
Sementara kecerdasan kinestetik saya lihat dari tubuhnya yang selalu bergerak. Mulai dari berlari, melompat, berjalan di atas kayu, dan belajar sepeda roda empat hanya dalam waktu empat puluh menit sejak sepeda itu tiba di rumah. Dari yang awalnya naik pun harus dibantu, dalam waktu kurang dari satu jam Gaza sudah lancar naik-turun sendiri dan mengayuh sepedanya dengan relatif cepat tanpa menabrak. Padahal bahkan menurut saya, itu bukan hal yang mudah. Gaza melakukannya di ruang tamu kami yang mungil. Otomatis setiap beberapa meter ia harus berbelok atau memutar. Tapi Gaza melakukannya seperti yang sudah berlatih selama berhari-hari.

Menghadapi Anak Berdasarkan Bidang Kecerdasannya
Sebagai orangtua tentu saya sangat bersyukur melihat perkembangannya. Meski menghadapi anak tipe ini juga tak selalu mudah. Saya dan suami harus sangat berhati-hati dalam berbicara kepadanya, sebab dia ahli sekali membolak-balikkan kalimat. Seperti saat saya menyuruhnya tidur siang, malah diskusi seperti inilah yang terjadi di antara kami
Gaza: Kenapa sih Gaza harus tidur siang, Bun?
Saya: Biar segar, gak lemas
Gaza: Kemarin Bunda bilang biar pintar?
Saya: Iya biar pintar juga. Tidur siang itu manfaatnya banyak. Biar pintar, gak lemas, gak gampang capek.
Gaza: Manfaat itu apa sih?
Saya: Manfaat itu…gini, kalau tidur siang MANFAATNYA biar pintar. Kalau mandi MANFAATNYA biar segar dan gak bau. Kalau makan MANFAATNYA biar sehat.
Gaza: Oh, kalau habis main harus diberesin, MANFAATNYA biar gak berantakan dan Bunda gak marah, gitu?
Saya: Ah, iya betul! Anak pintar!
Gaza (turun dari kasur)
Saya: Mau kemana?
Gaza: Beresin mobilan
Gaza pun batal tidur siang.

Atau di lain waktu saat dia sedang asyik bermain netbook dan saya menyuruhnya berhenti, dengan santai dia akan bilang, “Duh jangan ganggu dong. Ini Gaza lagi kerja. Kalau nggak kerja nanti nggak punya uang untuk beli mainan.” dengan nada yang persis sama dengan saya.
Saya juga harus menjaga stamina agar tetap kuat, untuk membiasakan diri mengejar-ngejarnya saat bermain. Mencoba menyamakan kecepatan berlari dengannya, tangkas menangkapnya saat ia meluncur melewati perosotannya atau bahkan berdiri dengan satu kaki saat ia menggunakan sebelah kaki saya sebagai tumpuan untuk memanjat lemari. Saya dan suami juga mengupayakan untuk sering-sering melibatkannya dalam kegiatan alam. Salah satu rekreasi favoritnya adalah memberi makan rusa di pagar Istana Bogor.
Beberapa kali ada yang bertanya pada saya, “Kok Gaza pinter banget ya? Dikasih makan apa?”
Setelah bersyukur, jawaban saya biasanya simpel, “Makan tahu, tempe, sayur, buah, susu ya semua lah yang bergizi. Yang penting sih menghindari pengawet dan penyedap (MSG).”
Kadang ada yang tak percaya, dikiranya saya memberi Gaza asupan berbagai macam suplemen. Tidak, sejauh ini suplemen hanya saya berikan hanya jika nafsu makan Gaza sedang turun. Jika sudah kembali normal, asupan suplemen saya hentikan.

Mendukung Anak dan Menghindari Pemaksaan
Menurut saya kecerdasan Gaza berasal dari Minatnya yang dikembangkan secara optimal. Saya melihat bahwa dia menyukai kegiatan outdoor terutama yang berkaitan dengan alam, maka saya optimalkan dengan pemberian stimulasi dalam hal tersebut. Perilakunya yang tak bisa diam, tidak saya marahi sambil menyuruhnya diam. Tapi saya persepsi bahwa itu adalah minatnya yang lain. Maka saya mengarahkannya dengan memberinya sepeda, mobil-mobilan yang bisa dinaiki, motor-motoran dan mainan lainnya agar gerakannya lebih terkontrol. Untuk menstimulasi motorik halus sekaligus konsentrasinya, saya memberinya krayon, lego dan puzzle. Sementara untuk mendukung kemampuan bicaranya, saya sediakan banyak buku cerita dari yang biasa sampai yang elektronik.
Selain mendukung kecerdasan dengan mengoptimalkan stimulasi di bidang yang diminatinya, saya juga tidak memaksakan ia mempelajari hal yang tidak disukai atau tidak dikuasainya. Misalnya saja menyanyi. Untuk yang satu ini (saat ini) saya sangat yakin kalau Gaza bukan penyanyi yang baik. Disaat teman-teman seusianya sudah bisa menyanyikan beberapa lagu anak-anak dengan nada dan lirik yang tepat, Gaza belum. Oke mungkin liriknya benar, tapi nadanya salah total. Atau seringkali nadanya pun dia ubah seenaknya, entah karena lupa atau kreatif. Padahal bukan tak pernah saya mengajarinya bernanyi. Sejak ia masih bayi, saya sering bernyanyi untuk menimbulkan suasana semangat. Tapi ya itu, mungkin Gaza memang kurang berminat pada menanyi, atau bisa jadi karena kecerdasan musikalnya tergolong rendah.

Membentuk Seorang Pakar Sejak Dini
Memahami karakter anak agar bisa mencari cara yang pas untuk menstimulasi kecerdasannya menurut saya penting dilakukan oleh semua ibu. Saya suka miris kalau mendengar masih saja ada ibu yang memaksakan anaknya untuk kursus matematika atau bahasa asing karena nilainya kurang bagus, sementara melarang sang anak belajar musik atau beladiri seperti minatnya, hanya karena berpikir kalau musik dan beladiri itu tidak bisa ‘berdiri tunggal’ untuk menopang masa depannya kelak. Padahal yang saya tahu di negara-negara maju, jika ada anak yang berbakat menari balet, maka biasanya sang orangtua akan menyekolahkan anaknya di sekolah balet, sementara pendidikan akademis akan ditempuhnya setelah ia menjalani sekolah balet atau bahkan sekalian saja homeschooling. Itulah salah satu alasan penting kenapa negara maju banyak menghasilkan profesional/pakar di berbagai bidang, sementara negara berkembang lebih banyak menghasilkan tenaga kerja. Itu karena sejak kecil mereka menggeluti bidang yang diminati serta fokus di situ. Pikirannya tidak terbagi-bagi pada banyaknya mata pelajaran di sekolah plus pekerjaan rumah yang acapkali dibebankan oleh guru seperti yang banyak terjadi di sekolah-sekolah umum di Indonesia. Ini membuat anak hanya mampu menghafal (lalu kemudian melupakannya) dan mengetahui setiap ilmu hanya sampai permukaan.
Beruntungnya saya dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang mendukung potensi anak. Kedua orangtua saya membebaskan anak-anaknya untuk memilih bidang yang disukai, meski itu dinilai minus oleh orang lain. Contohnya ketika saya memilih bidang studi IPS di SMA. Orangtua saya tutup kuping terhadap omongan miring teman dan kerabat bahwa bidang tersebut tak memiliki masa depan. Ini karena mereka tahu apa tujuan saya kelak. Dan mereka sangat tahu bahwa saya bisa terkena psikosomatis setiap kali melihat laboratorium biologi beserta isinya.
Dengan demikian, mengoptimalkan kecerdasan anak sejak dini tidak terlalu sulit bukan? Meski bukan pula hal yang mudah karena memerlukan pengamatan sepanjang waktu. Apalagi di usia balita, anak seringkali terkena jenuh atau malas. Di sinilah kesabaran serta kreativitas orangtua diuji. Salah satu kunci yang saya yakini adalah jika anak bahagia dalam beraktifitas, maka ia bisa menjadi cerdas dari aktifitas yang dilakukannya.

By: Prita Khalida

Rabu, 29 Mei 2013

Gedung Sekolah Wirausaha Indonesia dari Masa ke Masa

Gedung Sementara Sekolah Wirausaha Indonesia di Perumahan Grand Cikarang City Blok F1R No.33


Gedung Sementara Sekolah Wirausaha Indonesia, Jl. Nakula Raya No.1-4 Perum. Grand Cikarang City Blok C-09

Rencana Gedung Baru Sekolah Wirausaha Indonesia, Jl. Nakula Raya No.1-4 Perum. Grand Cikarang City Blok C-09


Senin, 18 Maret 2013

Prestasi Siswa




Muhammad Wildan Arafat, Juara 1 Lomba Jarimatika
se-Kabupaten Bekasi untuk Tingkat Sekolah Dasar


Alhamdulillah kami panjatkan atas anugerah yang luar biasa ini. Atas izin Alloh subhanahu wa ta’ala siswa kami berhasil menyabet Juara 1 Lomba Jarimatika se-Kabupaten Bekasi untuk Tingkat Sekolah Dasar. Lomba yang diikuti oleh lebih dari 600 siswa dari berbagai sekolah dasar ini diselenggarakan pada hari Ahad tanggal, 03 Maret 2013 di Mall Sentra Grosir Cikarang – Bekasi.

Prestasi ini tidak kami sangka-sangka sama sekali. Hal ini dikarenakan kami tidak mentargetkan kepada siswa-siswa kami yang menjadi peserta lomba untuk memenangi lomba. Kami menyadari bahwa sekolah kami masih sangat baru dan belum siap untuk mengikuti berbagai even lomba.

Tentu saja prestasi ini bukan segala-galanya yang bisa membuat lupa diri. Prestasi ini insya Alloh akan menjadi wasilah bagi prestasi-prestasi berikutnya. Amiin.

Senin, 03 September 2012

Tips Menumbuhkan Kreatifitas Anak

Anak yang kreatif adalah anak yang aktif, selalu penuh rasa ingin tahu, penuh dengan ide baru, pertanyaan atau pendapatnya baru dan mengesankan, dan setelah besar akan bisa eksis.

Ada 10 cara mengasah kreativitas anak, yaitu:
1.      Memiliki tokoh idola
Masa kanak-kanak adalah masa meniru. Maka rajin-rajinlah memperkenalkan mereka dengan tokoh-tokoh sukses yang anda kagumi melalui cerita yang menarik.
2.      Mengaktifkan otak kanan
Mulailah mengaktifkan otak kanan anak dengan memberi kesempatan untuk mendengarkan musik, ikut bernyanyi dan menari, melukis, membuat puisi, mengajak anak berimajinasi. Kegiatan melamun ternyata dapat menguatkan otot-otot kreatif.
3.      Menambahkan perbendaharaan kata-katanya
Satu hari satu kata baru sudah cukup baik untuk anak agar siap menangkap (berhubungan) dengan setiap gagasan baru.
4.      Menggunakan ke dua sisi tubuh
Latihlah anak menggunakan kedua sisi tubuhnya secara bergantian. Misalnya pada kegiatan sehari-hari seperti menyisir, menyikat gigi, menangkap dan melempar bola. Tujuannya adalah agar ke dua sisi otak dapat diaktifkan secara bersamaan.
5.      Biasakan melihat secara mendetail
Ajaklah anak untuk melihat banyak hal serta melihat bagian-bagian kecilnya. Pada kesempatan yang berbeda, tanyakan hal-hal tersebut pada anak dan ciri – cirinya.
6.      Biasakan membuat catatan atau gambar
Kegiatan menggambar biasa sangat disukai oleh anak. Bisa menggunakan crayon atau pun pensil warna. Warna sendiri dapat merangsang otak untuk membuat hubungan dan asosiasi yang berbeda-beda.
7.      Ajarkan mendengar atau menyimak
Dengan menjadi pendengar yang baik, anak akan menjadi pribadi yang menarik dan penuh minat, sekaligus memiliki daya ingat dan daya kreatif untuk melihat berbagai sudut pandang.
8.      Ajarkan bergurau
Karena humor adalah suatu kegiatan yang sangat kreatif, maka ajaklah anak bergurau agar dapat menambah daya kreatifnya.
9.      Latih menghubungkan konsep
Hal ini dapat dilakukan misalnya dengan permainan meniru gerakan . Contohnya kita melayang seperti burung, atau kita terbang seperti pesawat.
10.  Kreatif sehari-hari
Jadikan waktu luang penuh dengan kegiatan, seperti membuat kue, membuat kartu, membuat mainan dari barang bekas, berkebun, menata rumah, dan melakukan permainan yang dapat memupuk daya sportifitas anak. (Desri Susilawani)

Sabtu, 04 Agustus 2012

Menumbuhkan Jiwa Entrepreneur Anak


Entrepreneurship (jiwa kewirausahaan) merupakan kemampuan untuk menginternalisasikan kemampuan wirausaha dan menangkap peluang usaha atau bisnis yang ada. Seorang wirausaha akan berani mengambil risiko, inovatif, kreatif, disiplin, pantang menyerah, dan mampu menyiasati peluang secara tepat. Kewirausahaan juga bisa menjadi salah satu jalan (peluang) untuk mendapatkan rezeki. Rasulullah saw. bersabda, “Sebaik-baik pekerjaan adalah pekerjaan seorang pria dengan tangannya dan setiap jual beli yang mabrur.” (HR Ahmad, al-Bazzar, ath-Thabrani).

Pentingnya Jiwa Entrepreneur
Memiliki jiwa entrepeneur berarti mendorong adanya mental yang mandiri, kreatif, inovatif, bertanggung jawab, disiplin, dan tak mudah menyerah, seperti layaknya seorang wirausaha ketika memulai usahanya dari bawah. Alangkah baiknya jika sifat-sifat ini ditanamkan pada anak sejak dini untuk membantu mereka menjalani seluruh kehidupannya.
Memiliki jiwa entrepreneur akan membuat anak tumbuh menjadi anak yang lebih mandiri dan tidak bergantung pada orang lain, mampu berpikir kreatif dan inovatif, serta lebih menghargai uang dan barang. Kelak bila sudah dewasa, ia akan relatif lebih mudah untuk benar-benar menjadi wirausahawan. Dalam konteks perjuangan, berbisnis adalah jalan paling masuk akal untuk meraih kebebasan ideologis, yang biasanya diawali dari didapatnya kebebasan finansial. Maksudnya, dengan memiliki usaha yang mantap, kelak ia akan bisa memenuhi kebutuhan hidupnya secara mandiri, tidak bergantung pada sebuah instansi atau lembaga yang kadang membuatnya harus terikat, baik dari segi waktu apalagi dari sisi ideologi. Maka dari itu, dari kebebasan finansial akan didapat kebebasan ideologis atau kebebasan untuk berjuang.
Menjadi entrepreneur yang tangguh membutuhkan proses, tidak bisa instant dalam sekejap. Motivasi yang kuat adalah modal utama, selain keberanian dan ketekunan. Di sinilah menjadi penting bagaimana menumbuhkan jiwa entrepreneur ini pada anak-anak.

Beberapa Kiat
1. Keteladanan orangtua.
Jiwa keriwausahawan memerlukan contoh nyata. Contoh terbaik datang dari orangtua. Bila orang tua adalah seorang pengusaha, biasanya tidak sulit untuk membentuk jiwa kewirausahawan pada diri anak oleh karena mereka sehari-hari melihat hal itu pada diri orangtua.
Kenalkan jiwa entrepreneur dalam lingkungan keluarga dan orangtua bisa menjadi teladan buat anak. Jika di rumah memiliki usaha, libatkan anak. Sepakati jenis pekerjaan apa yang mesti dilakukan anak. Tentu sebatas yang bisa dijangkau oleh mereka. Kalau perlu, beri anak “upah”, dari apa yang telah dia kerjakan. Cara ini tentu bukan dimaksudkan untuk mempekerjakan mereka, tetapi melatih mereka agar memiliki pengalaman bagaimana menjadi pekerja, sekaligus menanamkan pelajaran bagaimana menghargai hasil keringat sendiri.
Sesekali ajak anak-anak berbelanja kebutuhan mereka dari usaha yang dilakukan. Beri mereka tugas untuk mencari informasi berbagai harga barang-barang di pasar yang dibutuhkan. Selanjutnya, hasil survei pasar bisa dianalisis dan dijadikan bahan diskusi dalam keluarga. Ini agar anak menjadi akrab dengan kehidupan nyata, mampu berkomunikasi dengan baik, mengemukakan pendapat, menarik kesimpulan, sekaligus membiasakan diri selalu mengikuti perkembangan ekonomi sehari-hari.
2. Latihan di sekolah.
“Business Day” atau ”Market Day” merupakan salah satu cara bagaimana melatih jiwa entrepreneur anak di sekolah. Pada acara tersebut, anak-anak bisa dibagi menjadi beberapa kelompok, yang akan mulai berjualan. Target konsumen adalah kakak, adik kelas, guru dan orangtua. Anak-anak boleh menerapkan berbagai macam strategi yang halal tentunya, agar barang-barangnya laku terjual. Untuk bisa menghasilkan barang produksi yang layak jual, mereka harus melalui proses yang panjang. Pertama dimulai dari mendiskusikan jenis barang yang akan  dijual dan bagaimana cara mendapatkan modalnya. Setelah itu, tahap pengerjaan yang bisa dilakukan di rumah atau di sekolah. Barang-barang yang sudah siap dijual masih perlu di kemas agar terlihat lebih rapi dan menarik. Barulah setelah semuanya selesai, barang-barang hasil karya anak dijual oleh mereka sendiri di sekolah.
Mereka sendirilah yang menjadi pelaku bisnis dan aktif menjalankan kegiatan perniagaan; mulai dari membuat barang, mengemas dan mempromosikan barang sampai pada tahap akhir penjualan. Di sini pula mereka bisa belajar tentang artinya untung atau rugi. Yang dapat untung bersyukur, dan setelah uang modal kembali, mereka membagi hasil keuntungannya sama rata. Yang mendapat rugi, tidak perlu kecewa, karena ini adalah pelajaran yang berharga buat mereka agar nantinya lebih pandai membuat strategi pemasaran.
3. Melalui cerita.
Menceritakan kisah hidup akan merangsang anak untuk meniru atau meneladaninya. Abdurahman bin Auf adalah sosok entrepreuneur yang sukses. Tidak hanya pejuang Islam yang hebat, ia juga pengusaha yang sukses. Tatkala Rasulullah saw. dan para sahabat diizinkan Allah hijrah ke Madinah, Abdurrahman bin Auf dipersaudarakan dengan Saad bin Rabi al-Anshari. Saad termasuk orang kaya di antara penduduk Madinah. Ia berniat membantu saudaranya dengan sepenuh hati, namun Abdurrahman menolak. Ia hanya berkata, “Tunjukkanlah padaku di mana letak pasar di kota ini!”
Sejak itulah kehidupan Abdurrahman menjadi makmur. Begitu besar berkah yang diberikan Allah kepadanya sampai ia dijuluki ‘Sahabat Bertangan Emas’.
Abdurrahman bin Auf adalah sahabat yang dikenal paling kaya dan dermawan. Ia tak segan-segan mengeluarkan hartanya untuk jihad di jalan Allah. Pada waktu Perang Tabuk, Rasulullah memerintahkan kaum Muslim untuk mengorbankan harta benda mereka. Dengan patuh Abdurrahman bin Auf memenuhi seruan Nabi saw. Ia memelopori dengan menyerahkan dua ratus ‘uqyah emas. Setelah Rasulullah wafat, Abdurrahman bin Auf bertugas menjaga kesejahteraan dan keselamatan Ummahat al-Mu’minin (para istri Rasulullah). Beliau bertanggung jawab memenuhi segala kebutuhan mereka dan mengadakan pengawalan bagi ibu-ibu mulia itu bila mereka bepergian. Begitulah, doa Rasulullah bagi Abdurrahman bin Auf terkabulkan. Allah senantiasa melimpahkan berkah-Nya, sehingga ia menjadi orang terkaya di antara para sahabat. Bisnisnya terus berkembang dan maju. Semakin banyak keuntungan yang ia peroleh semakin besar pula kedermawanannya. Hartanya dinafkahkan di jalan Allah, baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. Walau termasuk konglomerat terbesar pada masanya, itu tidak mempengaruhi jiwanya yang dipenuhi iman dan takwa.
4. Memadukan usaha dengan hobi.
Cobalah perhatikan kegemaran anak. Jika dia senang membaca, misalnya, tanyakan berapa banyak koleksi bukunya. Kalau cukup banyak, berilah saran agar ia menyewakan koleksinya kepada teman-temannya. Pujilah hasil karya anak, agar ia merasa percaya diri untuk menjual kepada teman-temannya. Langkah berikut, ajarkan kepada anak untuk menentukan harga. Sebagai orangtua yang bijak, katakan kepadanya agar tidak mengambil keuntungan terlalu banyak. Lalu ajari dia untuk membuat laporan keuangan yang sangat sederhana, agar ia bisa bertanggung jawab terhadap setiap pemasukan dan pengeluaran.
5. Mengajak anak melihat tempat usaha.
Mengajak anak melihat tempat usaha juga merupakan cara yang ampuh. Tak perlu menjadi pengusaha terlebih dulu untuk mengenalkan anak pada dunia usaha. Ajak anak melihat berjalannya suatu usaha ke teman yang punya usaha kecil, misalnya. Kalau perlu mintalah izin kepadanya untuk menerimanya magang saat liburan.
6. Melalui permainan.
Carilah permainan yang anak tak sekadar bermain, namun juga menyusun strategi bisnis dan berinvestasi. Dari permainan diharapkan anak akan bisa mengelola keuangan, membelanjakan uang, bahkan kerugian atau risiko dalam bisnis.
7. Magang.
Selain memperkenalkan anak pada kondisi usaha riil, dengan magang anak bisa melihat langsung praktik dari teori-teori yang telah dia peroleh. Akan lebih efektif jika sekolah juga mendirikan usaha nyata. Misalnya, sekolah mendirikan kantin, dan secara bergiliran anak-anak yang mengelola kantin tersebut.
Dengan menumbuhkan jiwa entrepreneur pada anak, diharapkan sebesar apa pun krisis finansial yang dia hadapi nantinya, akan dapat disikapi dengan tenang. Sebab, anak telah terbiasa memecahkan problem berat dengan strategi yang cepat dan tepat. Bagaimanapun perjuangan menegakkan syariah dan Khilafah, tidak hanya membutuhkan semangat dan ilmu, tetapi juga dana. Ketika kebebasan finansial sudah dimiliki, insya Allah akan membantu kelancaran jalannya dakwah, dan kemampuan finansialnya akan melengkapi perjuangannya; seperti halnya yang terjadi pada Abdurrahman bin Auf. WalLahu a‘lam. [] Zulia Ilmawati adalah Pemerhati Masalah Anak dan Keluarga (HTI).