Jakarta (ANTARA
News) - Menteri Koperasi dan UKM, Sjarifuddin Hasan, menyatakan Gerakan
Kewirausahaan Nasional (GKN) telah dimulai sejak 2 Februari 2011.
"Mulai
hari ini, Gerakan Kewirausahaan Nasional telah dimulai," kata
Sjarifuddin Hasan di Jakarta, Rabu, dalam acara Pencanangan GKN yang
dihadiri oleh Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono.
Pencanangan GKN menandai telah dimulainya sebuah program untuk melahirkan lebih banyak wirausaha baru di Indonesia.
Ia
mengatakan, saat ini jumlah wirausaha di Tanah Air baru sebanyak 0,24
persen dari total populasi penduduk, padahal untuk dapat dikatakan
sebagai negara maju diperlukan setidaknya 2 persen jumlah wirausaha dari
seluruh jumlah penduduk.
"Melalui GKN ini kita berharap dapat meningkatkan jumlah wirausaha minimal 2 persen dari total populasi penduduk kita," katanya.
Menurut
Menteri, jika hal itu dapat dicapai maka bukan tidak mungkin jumlah
pengangguran dan tingkat kemiskinan dapat ditekan sehingga kesejahteraan
rakyat dapat tercapai.
Ia menambahkan, berbagai upaya dilakukan
untuk mendukung GKN di antaranya program pengembangan sumber daya
manusia, peningkatan program pembiayaan, dan pemasaran bagi calon
wirausaha.
"Seluruh kementerian bersinergi dengan BUMN,
perbankan, organisasi masyarakat dengan satu tujuan untuk meningkatkan
kualitas, kuantitas, dan eksistensi GKN," katanya.
Selain itu,
berbagai program yang digulirkan pemerintah antara lain program
wirausaha 1.000 sarjana, pelatihan kewirausahaan, PKBL (Program
Kemitraan dan Bina Lingkungan), program pembiayaan CSR, PNPM Mandiri,
hingga Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang tahun ini ditarget Rp20 triliun
tanpa jaminan.
"Ini komitmen pemerintah untuk mendorong agar
generasi muda menjadi wirausaha andal dan menjadi generasi yang
menciptakan pekerjaan bukan sebagai `job seeker`," katanya.
Begitu
pula program pemasaran, kata Sjarifuddin, yang diarahkan untuk
mendukung kemudahan bagi calon wirausaha dalam memasarkan produknya.
"Kami
juga telah bekerja sama dengan kementerian lain untuk meningkatkan
fungsi pemasaran baik domestik maupun internasional," katanya.
Pihaknya telah menyediakan ruang pamer Gedung Smesco yang siap menampung pemasaran produk KUKM dari seluruh Indonesia.
Pihaknya
berharap GKN akan menjadi titik balik sinerginya seluruh pemangku
kepentingan untuk mendorong lahirnya lebih banyak wirausaha yang andal,
mandiri, dan berdaya saing.
"Kita akan membawa rakyat Indonesia ke arah negara `the best on new economic` melalui kewirausahaan," katanya.
Dalam
pencanangan GKN terangkai pula acara expo kewirausahaan, pemberian
penghargaan kepada tokoh, perbankan, wirausaha muda sukses, koperasi,
dan kepala daerah penggerak kewirausahaan.
Presiden RI, Susilo
Bambang Yudhoyono, dalam sambutannya menyatakan gembira dan bangga
terhadap seorang wirausaha atau mereka yang bertekad menjadi wirausaha.
"Wirausaha
adalah seorang yang punya ide, kreatif, dan inovatif. Mereka berani
melakukan sesuatu yang baru, berani mengambil risiko," katanya.
Wirausaha, menurut Presiden juga tidak pasif tetapi aktif untuk berkarya bagi kemajuan hidupnya.
( By Sufajar Butsianto )
Senin, 05 Maret 2012
Sabtu, 03 Maret 2012
Merubah Paradigma Pendidikan Anak
NUSA DUA, KOMPAS.com - Pendidikan di Indonesia harus
mampu mengubah cara pandang yang semula bekerja sebagai pegawai,
menjadi wirausaha. Perubahan ini harus ditanamkan sejak anak-anak
memasuki sekolah tingkat taman kanak-kanak.
Pengusaha senior Ciputra mengemukakan hal itu kepada wartawan, seusai menjadi pembicara dalam Pertemuan Kewirausahaan Regional di Nusa Dua, Bali, Sabtu (23/7). Dalam pertemuan yang diselenggarakan Global Entrepreneur Program (GEP) bermitra dengan Global Entrepreneur Program Indonesia (GEPI), hadir wirausaha dari Indonesia dan 11 investor dari Amerika Serikat yang tergabung dalam Angel Investor.
Ciputra yang tercatat sebagai salah seorang pendiri GEPI berpendapat, saat ini, seorang anak yang duduk di TK justru diajar untuk selalu patuh. Anak itu tidak diajarkan berpikir kreatif. Akibatnya, pikiran untuk selalu menurut terbawa hingga dewasa. ”Maka dari itu, cara pandang harus diubah menjadi bagaimana cara menjadi wirausaha mandiri yang kreatif,” ujarnya.
Saat ini, jumlah wirausaha di Indonesia sekitar 450.000 orang atau sekitar 0,18 persen dari total jumlah penduduk Indonesia. Jumlah ini masih jauh dari ideal, yakni 2 persen dari jumlah penduduk. Persentase ini kalah jauh dibandingkan sengan Singapura yang wirausahanya 7,2 persen dari jumlah penduduk, Amerika Serikat sekitar 12 persen, dan Malaysia 3 persen....
Selengkapnya, baca Harian Kompas, 25 Juli 2011.
Pengusaha senior Ciputra mengemukakan hal itu kepada wartawan, seusai menjadi pembicara dalam Pertemuan Kewirausahaan Regional di Nusa Dua, Bali, Sabtu (23/7). Dalam pertemuan yang diselenggarakan Global Entrepreneur Program (GEP) bermitra dengan Global Entrepreneur Program Indonesia (GEPI), hadir wirausaha dari Indonesia dan 11 investor dari Amerika Serikat yang tergabung dalam Angel Investor.
Ciputra yang tercatat sebagai salah seorang pendiri GEPI berpendapat, saat ini, seorang anak yang duduk di TK justru diajar untuk selalu patuh. Anak itu tidak diajarkan berpikir kreatif. Akibatnya, pikiran untuk selalu menurut terbawa hingga dewasa. ”Maka dari itu, cara pandang harus diubah menjadi bagaimana cara menjadi wirausaha mandiri yang kreatif,” ujarnya.
Saat ini, jumlah wirausaha di Indonesia sekitar 450.000 orang atau sekitar 0,18 persen dari total jumlah penduduk Indonesia. Jumlah ini masih jauh dari ideal, yakni 2 persen dari jumlah penduduk. Persentase ini kalah jauh dibandingkan sengan Singapura yang wirausahanya 7,2 persen dari jumlah penduduk, Amerika Serikat sekitar 12 persen, dan Malaysia 3 persen....
Selengkapnya, baca Harian Kompas, 25 Juli 2011.
Kamis, 09 Februari 2012
Peresmian oleh Bupati Bekasi
Alhamdulillah pada hari Rabu tanggal, 8 Februari 2012 bertepatan dengan 15 Robiul Awal 1433 Hijriyah telah diresmikan pembukaan SEKOLAH WIRAUSAHA INDONESIA (SWI) oleh Bapak Bupati Bekasi, Dr. H.Sa'duddin, MM yang dalam hal ini diwakili oleh Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bekasi, yaitu Bapak Dr. Rusdi, Bio Med.
Dalam sambutannya, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bekasi mengatakan bahwa masyarakat saat ini buta bahasa, buta teknologi informasi dan buta wirausaha. Sekolah Wirausaha Indonesia diharapkan dapat mengikis buta-buta yang dialami oleh masyarakat. SWI sudah mulai mengenalkan anak-anak untuk bisa berbahasa mandarin disamping bahasa Inggris dan bahasa Arab.
Di sekolah ini juga mulai dikenalkan dengan teknologi dan informasi yang saat ini semakin canggih dan mengalami kemajuan yang sangat pesat. Dan yang tidak kalah penting adalah bagaimana anak-anak diarahkan untuk menjadi mandiri, kreatif dan inovatif sebagai modal utama menjadi manusia-manusia yang unggul dan bersaing di kancah global. Amiin.
Dalam peresmian ini juga dihadiri oleh Ketua Fraksi DPRD Kabupaten Bekasi, Bapak Faisal Hafan Farid, SE yang juga memberikan sambutannya yang cukup antusias dengan kehadiran SDIT yang konsen dengan wirausaha ini. Terakhir, acara yang sangat bersejarah ini ditutup dengan do'a yang dibawakan oleh Ustadz Adih Amin, Lc, MA. Beliau adalah Direktur Boarding School SMPIT Thariq Bin Ziyad.
Senin, 06 Februari 2012
Grand Opening Sekolah Wirausaha Indonesia
Peresmian Oleh Bupati Bekasi, Dr.H.Sa'duddin, MM
Apabila Allah berkenan, insya Allah pada hari Rabu/08 Februari 2012 SEKOLAH WIRAUSAHA INDONESIA (SWI) akan diresmikan pembukaannya oleh Bapak Bupati Bekasi, Dr. H. Sa'duddin, MM. Acara akan diramaikan oleh Pentas Kreasi Anak Muslim dari TK/TPA/PAUD se-Perumahan Grand Cikarang City dan sekitarnya.
Mohon doanya, mudah-mudahan segalanya berjalan dengan lancar dan sekolah ini akan membawa manfaat sebesar-besanya bagi umat dan Allah meridhoi usaha yang kami jalankan. Amiin.
Mohon doanya, mudah-mudahan segalanya berjalan dengan lancar dan sekolah ini akan membawa manfaat sebesar-besanya bagi umat dan Allah meridhoi usaha yang kami jalankan. Amiin.
Selasa, 10 Januari 2012
Gerakan Kewirausahaan Nasional
Gedung Smesco, Rabu, 2 Februari 2011. Para pengusaha kecil
sampai yang besar, para pejabat dari berbagai instansi, kepala daerah,
mahasiswa, hingga masyarakat umum, ikut ambil bagian dalam ajang
bertajuk gerakan kewirausahaan nasional. Agenda besar hari itu,
Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono secara resmi mencanangkan Gerakan
Kewirausahaan Nasional di Indonesia.
Sebagai
bagian dari Gerakan Kewirausahaan Nasional, Tim Koordinasi Nasional
Pengembangan Wirausaha Kreatif yang diketuai DR. Handito Hadi Joewono
menggelar Entrepreneur Summit 2011 (2 – 4 Februari 2011) ditempat yang
sama. Pameran kewirausahaan pun digelar. Seminar kewirausahaan dengan berbagai tema juga dilakukan. Para pengusaha besar pun turun gunung. Nama
besar seperti Ir. Ciputra dan Chairul Tanjung (Trans Corp/Para Group)
berbaur ditengah-tengah massa. Para kepala daerah, Bupati/Walikota dan
Gubernur, juga hadir di Smesco. Para menteri Kabinet Indonesia Bersatu
jilid II tidak ketinggalan mengambil peran. Bahkan
Ketua DPR, Ketua MPR, Ketua DPD, Ketua Komisi Yudisial, hingga Ketua
Mahkamah Konstitusi ikut menjadi saksi pencanangan Gerakan
Kewirausahaan Nasional.
SBY: Peluang Wirausaha Di Indonesia Masih Terbuka
Dalam
sambutannya, Presiden SBY mengatakan peluang menekuni dunia wirausaha
di Indonesia masih terbuka. Setidaknya, ada enam alasan yang diutarakan
presiden untuk menggambarkan besarnya peluang sukses berwirausaha di
Indonesia. Pertama, Indonesia memiliki sumber daya alam yang lebih
besar dibandingkan dengan banyak negara lain, termasuk negara tetangga.
Kedua, Indonesia
memiliki sumber daya manusia yang besar mengingat banyak penduduk masuk
dalam kelompok produktif. Ketiga, pereknomian tanah air saat ini sedang
mengalami pertumbuhan. Keempat, berbagai bidang usaha masih bisa
dikembangkan di seluruh daerah di Indonesia. Kelima, penguasaan ilmu
pengetahuan dan teknologi semakin baik. Terakhir, pemerintah dan
seluruh dunia usaha ingin memberi bantuan kepada pengusaha rintisan,
misalnya dalam bentuk pelatihan, modal, pinjaman, dan KUR.
Presiden
juga mengatakan wirausaha merupakan pahlawan ekonomi rakyat. Sebab,
aktivitas usahanya dapat menciptakan lapangan kerja baru sehingga bisa
mengurangi tingkat pengangguran. Untuk itu, aktivitas usaha yang dapat
menciptakan lapangan kerja baru layak terus dikembangkan. Kesejahteraan
rakyat makin meningkat manakala kemiskinan tidak terus berkembang.
Kenapa masih ada orang miskin? Karena masih ada yang berpenghasilan
kecil atau tidak memiliki penghasilan. Mengapa seseorang tidak memiliki
penghasilan? Karena tidak punya pekerjaan. Karena itu, SBY mengatakan
wirausaha yang dapat menciptakan lapangan kerja baru sebagai pahlawan
ekonomi rakyat. Mengutip data BPS tahun 2010 yang up date hingga saat
ini, SBY mengatakan, pengangguran di Indonesia berjumlah 8,32 juta
(7,14%).
Menurut
SBY, yang namanya wirausaha adalah seorang yang kreatif dan inovatif.
Mereka juga seorang yang berani melakukan hal yang baru, yang
sebelumnya belum ada, dibikin ada. Juga seorang yang berani mengambil
risiko apakah terobosannya, penemuannya, idenya, berhasil atau tidak
dikemudian hari. Wirausaha juga seorang yang aktif menemukan sesuatu,
berkarya bagi kemajuan hidupnya. Dalam konteks dunia ekonomi, seorang
wirausaha adalah yang menemukan produk/jasa yang baru, yang membuka
pasar yang tadinya belum ada, yang bisa memberikan nilai tambah
terhadap barang/jasa yang diproduksi selama ini. SBY juga mengatakan,
wirausaha tidak identik dengan pengusaha mikro, kecil, dan menengah.
Tapi hampir pasti, seorang wirausaha lahirnya dari aktivitas usaha
mikro, kecil, dan menengah.
Pada
kesempatan yang sama, SBY juga menganugerahkan penghargaan penggerak
kewirausahaan. Untuk kepala daerah terbaik dalam pengembangan
kewirausahaan antara lain Gubernur Jateng Bibit Waluyo, Gubernur Jabar
Ahmad Heryawan, Gubernur Jatim Soekarwo, Gubernur Sulsel Syahrul Yasin
Limpo, dan Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo. Sedangkan Ir. Ciputra,
(pendiri Ciputra Global Entrepreneurship), Dirut Bank Mandiri Zulkifli
Zaini, Dirut Bogasari Baking School Werianty Setiawan, dan Presdir PT
Shell Indonesia Darwin Silalahi, tercatat sebagai penerima penghargaan
pembina kewirausahaan terbaik yang menggerakkan kewirausahaan. Penerima
penghargaan lembaga keuangan terbaik penggerak kewirausahaan adalah
BNI, Bank Nagari, Kospin Jasa, dan KSU Setiabudi Wanita Malang.
Penerima penghargaan wirausaha muda sukses adalah Achmad Rofiq (rumah
produksi animasi), Fauzan Hangriawan (lele sangkuriang), M. Asmui
Kammury (Javapuccino), Nur Kartika (nata de cassava), dan Ali Bagus
Antra. S (Bebek Garang).
Menkop & UKM: Program Untuk Melahirkan Lebih Banyak Wirausaha
Menurut
Menkop UKM Sjarifuddin Hasan, pencanangan GKN menandai telah dimulainya
program untuk melahirkan lebih banyak wirausaha baru di Indonesia.
Untuk dapat dikatakan sebagai negara maju, paling tidak diperlukan
jumlah wirausaha 2% dari total jumlah penduduk. Ia berharap jumlah
tersebut dapat dicapai melalui pencanangan GKN. “Jika angka itu
tercapai, bukan tidak mungkin jumlah pengangguran dan tingkat
kemiskinan dapat ditekan sehingga kesejahteraan rakyat dapat tercapai,”
ujarnya.
Menkop
UKM juga mengatakan, berbagai upaya dilakukan untuk mendukung GKN,
diantaranya program pengembangan sumberdaya manusia, peningkatan
program pembiayaan, dan pemasaran bagi calon wirausaha. Seluruh
kementerian bersinergi dengan BUMN, Perbankan, Organisasi Masyarakat,
dengan satu tujuan untuk meningkatkan kualitas, kuantitas, dan
eksistensi GKN. Program yang digulirkan pemerintah antara lain program
wirausaha 1000 sarjana, pelatihan kewirausahaan, Program Kemitraan dan
Bina Lingkungan (PKBL), program pembiayaan CSR, PNPM Mandiri, dan
Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang tahun ini ditarget menyerap Rp 20
triliun.
Ir. Ciputra : 10% Total Anggaran Pendidikan untuk Pelatihan dan Pendidikan Entrepreneur
Salah
satu peraih penghargaan Pembina kewirausahaan terbaik menggerakkan
kewirausahaan, Ir. Ciputra mengatakan, Gerakan Kewirausahaan Nasional
yang digaungkan merupakan suatu langkah yang luar biasa. Dia berharap
Indonesia betul-betul menjadi negara entrepreneur dengan menciptakan 45
juta entrepreneur baru dalam waktu 25 tahun.
“Sekarang
sudah diproklamirkan. Kemudian, bagaimana implementasinya? Ada lima
yang harus kita lakukan, antara lain yang penting yaitu, supaya sekolah
kita dari sekolah dasar sampai universitas, mempunyai program
entrepreneur,” terang Ir. Ciputra. Dia menambahkan, entrepreneur itu
berupa mind set, value dan karakter yang kemudian bisa jadi budaya.
Budaya lalu menciptakan peradaban (civilization). Oleh Karen itu, makin
muda seseorang belajar entrepreneur, semakin matang dia. Kita mulai
dari kecil, menengah, besar, dan internasional. Implementasinya, satu
pihak ada pelatihan, satu pihak implementasinya. Pelatihan harus
menyiapkan sumber daya manusia, terutama peranan dari P & K.
Kemudian implementasi departemen-departemen lain, terutama departemen
koperasi & UKM.
Yang
menjadi kesulitan bagi masyarakat Indonesia, tidak memiliki orang tua
entrepreneur. Disamping itu, tidak cukup lingkungan entrepreneur, dan
tidak cukup sekolah tempat pelatihan entrepreneur. Sedangkan
entrepreneur menurut Ciputra lahir dari orang tua, dari lingkungan,
atau dari sekolah. Hal itu yang menyebabkan lebih sulit bagi Indonesia
untuk melahirkan entrepreneur. Tapi, lanjutnya, kita harus cerdas.
“(Jika)Anda tidak bisa ciptakan orang tua. (Maka) Anda harus berusaha
menciptakan lingkungan,” tandasnya. Sekolah diganti menjadi
entrepreneur center. Kemudian sekolah juga harus punya kurikulum
entrepreneur. Lebih dini anak belajar, lebih berkesempatan untuknya
berhasil dan bisa menjadi besar. Oleh karena itu, tamatan SMK atau
universtas, serahkan kepada departemen, misalnya departemen koperasi
& UKM. Sekalian berikan kredit (modal usaha).
“Saya
minta 10% saja dari total anggaran pendidikan khusus untuk pendidikan
dan pelatihan entrepreneur. KUR sudah ada. Sekarang, khusus untuk
pendidikan dan pelatihan. 10% dari 20 triliun (anggaran pendidikan
negara) kali 25 tahun, hanya 500 triliun. Kenaikan entrepreneur kita
akan naik jadi 2%. GDP akan naik kira-kira 4 kali lipat,” paparnya.
Ciputra menambahkan saat ini, jumlah entrepreneur yang dimiliki
Indonesia kira-kira 0,25%. Malaysia sudah 2%, Thailand 4%, dan
Singapura 7%. Untuk mengejarnya, mesti dimulai dengan pelatihan dan
pendidikan. Kemudian sediakan fasilitas. Entrepreneur center
diberlakukan. Kredit diusahakan. Ia mengibaratkan, Anda punya anak,
bagaimana dia menjadi pengusaha kalau Anda sendiri bukan pengusaha.
Anda punya lingkungan tidak sesuai untuk dia belajar. Jadi harus
berlatih di sekolah.
Chairul Tanjung: Pengusaha Harus Punya Semangat Yang Besar
Bos
Para Group Chairul Tanjung, yang juga hadir dalam moment tersebut
mengatakan, banyaknya bermunculan wirausaha muda merupakan petanda yang
bagus karena masyarakat mulai senang dan menekuni dunia wirausaha. Dia
juga membagi beberapa pengalamannya dalam menekuni dunia usaha hingga
bisa meraih kesuksesan saat ini. Pertama, pengusaha harus punya
semangat yang besar. Semangat tersebut jangan pernah pudar. “Terus
bangkit jika menghadapi cobaan, karena itu bagian dari proses untuk
menjadi besar,” kata pemilik Trans Corp ini.
Kedua,
pengusaha harus memiliki kecerdasan. Kecerdasan yang dimaksud Chairul
Tanjung bukan dilihat dari kecerdasan ilmu, namun cerdas melihat
peluang pasar dan peluang-peluang yang lain. Sekecil apapun peluang itu
harus dipegang, jangan sampai terlewatkan atau lepas. Sebab, peluang
sama dengan momentum yang tidak datang untuk kedua kalinya. Kemudian,
pengusaha juga harus pintar melihat peluang yang dekat-dekat saja.
“Lihat di sekitar kita peluang yang bisa kita kembangkan,” tandasnya.
“Jika
sesorang peka dalam melihat peluang, maka biasanya dapat
mengakumulasikan sumberdaya yang begitu besar dan menguntungkan. Siapa
yang pertamakali melihat peluang itu, dia pasti akan lebih dulu
menikmati kesuksesan. Maka itu, pengusaha harus pintar dan cekatan
memanfaatkan setiap peluang yang ada,” paparnya. Ingat, tangkap peluang
sekecil apapun.
BNI Syariah: Bank Terbantu Adanya KUR
Masih
dalam event yang sama, Direktur BNI Syariah Hanawijaya mengatakan,
porsi kredit pembiayaan UMKM memang menjadi prioritas BNI Syariah. Di
2011, bank yang dipimpinnya ini menargetkan penyaluran 25% - 35%. “KUR
adalah salah satu pintu masuk kita untuk mengembangkan UMKM. Karena,
program tersebut menurut pendapat bank, baik,” ucapnya. Penyaluran
pembiayaan KUR tetap melalui prosedur bank, namun jika terjadi sesuatu
dengan nasabah, bank dicover sebesar 70%. “Itu kan bagus untuk bank,”
tambahnya.
Selain
itu, target penyaluran KUR merupakan wirausaha-wirausaha baru yang
secara bankable – karena alasan jaminan – tidak masuk, tetapi secara
cash flow usaha, dia baik. Karena
itu, kata Hana Wijaya, pihak bank terbantu sekali dengan mendapat
kesempatan ikut program KUR. “Menurut saya, program ini (KUR) merupakan
salah satu program jenius bagi pemerintahan sekarang,” ungkapnya.
Sebab, bank susah mengakses orang yang non bankable tadi. Kedua, ini
bisa jadi modal utama bagi bank untuk membiayai entrepreneur baru. BNI
Syariah sendiri, berhasil membuat 791 nasabah KUR-nya naik kelas
menjadi komersial pada 2010. “Kita kasih modal KUR dulu, lama-lama cash
flow-nya dapat memberi Kapital. Kapitalnya sekarang dijaminkan, dia
lepas dari KUR. Jadi UMKM melalui KUR ini adalah salah satu jalan
keluar bagi bank yang ada kesulitan dibidang akses ke UMKM, terutama
UMKM baru,” kata Hanawijaya.
Ketua
Tim Koordinasi Nasional Pengembangan Wirausaha Kreatif Kementerian
Koordinator Bidang Perekonomian RI: Gerakan Wirausaha Makin Massif dan
Membesar
Menurut
Ketua Tim Koordinasi Nasional Pengembangan Wirausaha Kreatif
Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian RI Handito Hadi Joewono,
pencanangan GKN membuat gerakan wirausaha semakin massif dan membesar.
Terkait itu, Tim Koordinasi yang bertugas menciptakan wirausaha baru di
Indonesia melakukan beberapa program yang dijalankan secara bertahap. Diantaranya membuat modul yang aplikatif berisi lesson learn atau true story yang biasa ditemukan di lapangan. Modul yang akan dibuat mencakup berbagai bidang, misalnya selling.
“Pengembangan
wirausaha kami bagi dalam beberapa tahap,” ungkap Handito. Pertama,
tahap pembenihan, yaitu tahap untuk mendorong masyarakat yang akan
memulai bisnis baru. Misalnya dengan ceramah, media massa, seminar
motivasi bisnis, workshop simulasi bisnis, dll. Tahap kedua, penempaan.
Bagi calon wirausaha kreatif yang mempunyai niat kuat, akan dilakukan
penempaan berupa pengadaan pelatihan-pelatihan seperti simulasi bisnis
riil, kompetensi wirausaha, standar kompetensi, pelatihan
kewirausahaan, dll. Tahap ketiga adalah pengembangan, yang akan
dilakukan dengan cara pembukaan akses pasar, pembiayaan usaha, pameran
& misi dagang, dll. “Jadi yang akan kita kembangkan bukan wirausaha
baru yang baru mau berbisnis. Tapi sudah mempunyai usaha namun belum
berkembang,” jelas Chief Strategi Consultant Arbey Indonesia ini. Para
wirausaha kreatif tersebut nantinya diseleksi untuk masuk di jenjang
pembenihan, penempaan, dan pengembangan. (Disalin dari: Ade Ahyat)
Selasa, 20 Desember 2011
Perlunya Pendidikan Wirausaha Sejak Usia DIni
Jiwa wirausaha (entrepreneurship) harus ditanamkan oleh para orang
tua dan sekolah ketika anak-anak mereka dalam usia dini. Kewirausahaan ternyata
lebih kepada menggerakkan perubahan mental. Jadi tak perlu
dipertentangkan apakah kemampuan wirausaha itu berkat adanya bakat atau
hasil pendidikan.
Demikian salah satu kesimpulan yang terungkap dalam Parenting Seminar yang diselenggarakan Universitas Paramadina, di Jakarta, beberapa waktu lalu. Sebagai pembicara dalam seminar tersebut adalah CEO PT Graha Layar Prima Ananda Siregar, pakar kepribadian sekaligus Presiden Direktur Lembaga Pendidikan Duta Bangsa Mien R Uno, dan Presiden Direktur Kiroyan Kuhon Partners/PT Komunikasi Kinerja, Noke Kiroyan. Mien Uno mengatakan bahwa untuk menjadi wirausahawan andal dibutuhkan sebuah karakter unggul.
Karakter unggul tersebut adalah pengenalan terhadap diri sendiri (self awareness), kreatif, mampu berpikir kritis, mampu memecahkan permasalahan (problem solving), dapat berkomunikasi, mampu membawa diri di berbagai lingkungan, menghargai waktu (time orientation), empati, mau berbagi dengan orang lain, mampu mengatasi stres, bisa mengendalikan emosi, dan mampu membuat keputusan. Karakter tersebut, masih menurut Mien Uno, akan terbentuk melalui sebuah proses yang panjang.
Dalam proses ini, orang tua anak perlu mengambil peranan. Orang tua perlu menyupervisi anak dengan memberi contoh yang baik dan menjaga agar ucapannya sama dengan tindakan. Selain itu, orang tua ikut memotivasi anak, mengevaluasi, dan memberikan apresiasi atas prestasi anak. Membangun jiwa kewirausahaan memang sangat penting, lebih-lebih dengan meningkatnya angka pengangguran terdidik.
Kriteria pengangguran terdidik adalah para lulusan perguruan tinggi,baik D-1,D-2,D-3,S-1,S-2 maupun S-3 yang belum mendapatkan pekerjaan dan tentunya mereka berpredikat sebagai pencari kerja. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) 2007, jika pengangguran terdidik mencapai 6,16% atau 673.628 orang pada Agustus 2006, jumlah tersebut naik menjadi 7,02% atau 740.206 orang pada Februari 2007. Mengutip pendapat sosiolog David Mc Celland, suatu negara bisa menjadi makmur manakala memiliki sedikitnya dua persen entrepreuneur (wirausahawan) dari jumlah penduduk. Dari data statistik BPS (2007), Indonesia baru memiliki 400.000 wiraswastawan atau 0,18 persen dari jumlah penduduk. Untuk itu, Indonesia perlu secara serius mempersiapkan lahirnya generasi entrepreuneur untuk mencapai kemajuan ekonomi yang pesat.
Bagi sebagian orang, pendidikan bisa menjadi faktor pendorong kesuksesan untuk berwirausaha. Seseorang memang tidak perlu berpredikat sarjana untuk menjadi pengusaha, tetapi dengan latar belakang pendidikan akademik, berarti akan banyak kesempatan terbuka karena lebih luas wawasannya dalam melihat berbagai peluang bisnis yang ada.
Problem utama dalam membangun jiwa kewirausahaan adalah kurangnya kesadaran akan arti penting dan urgensinya menjadi pemuda yang mandiri dan berwirausaha. Kini masih banyak pemuda terdidik dari organisasi kepemudaan yang lebih berorientasi kepada pergerakan politik dan kekuasaan karena mereka cenderung memilih cara instan untuk menjadi terkenal dan politisi andal, tetapi dari aspek ekonomi mereka jauh tertinggal. Jadi, tahap awal yang harus dilakukan dalam memberdayakan pemuda adalah membangun jiwa pemuda yang mandiri dan menanamkan semangat hidup berwirausaha agar kemandirian mudah dibangun. Berarti pendidikan dalam konteks ini mestinya bukan sekadar untuk mencetak generasi terampil serta memiliki kompetensi tinggi, tetapi juga harus mampu mencetak generasi dengan jiwa wirausaha.
Ikon bahwa sekolah hanya mencari ilmu, lantas mencari pekerjaan, harus diubah menjadi mencari ilmu dan mengaplikasikannya di lapangan. Dengan demikian, pendidikan nasional harus mampu membawa generasi terdidik untuk menciptakan pekerjaan.
Pendidikan kewirausahaan yang diajarkan sejak SD bisa mengubah tipe pendidikan nasional kita yang sudah terlanjur menjadi birokrasi minded karena melulu difokuskan untuk mencetak generasi baru yang hanya untuk mengisi kantor-kantor saja. Dengan fakta angka pengangguran terdidik yang makin melonjak dari tahun ke tahun, kini tipe pendidikan birokrasi minded tidak layak dibiarkan terus-menerus. Sekarang saatnya anak-anak sejak SD diajari untuk mengenal berbagai jenis kewirausahaan, sebagai alternatif menghadapi masa depan di luar cita-cita menjadi pegawai kantor.
Mental priyayi sebagai konsekuensi dari birokrasi minded, yang selama ini menjadi tipe pendidikan nasional kita, harus mulai dihapus. Sebab faktanya menunjukkan, lowongan pekerjaan di kantor selalu terbatas. Sebaliknya, peluang kerja di luar kantor terbuka lebar untuk semua generasi. Jika pendidikan nasional dibiarkan bertipe birokrasi minded, dikhawatirkan hanya akan menambah angka pengangguran terdidik dari tahun ke tahun. Masih terlalu banyak lulusan perguruan tinggi yang bermental priyayi, sehingga tidak bersedia merintis usaha kecil dan memilih menganggur sambil mondar-mandir keluar masuk kantor menawarkan surat lamaran kerja yang dilampiri ijasah sarjananya.
Jika generasi muda dibiarkan bermental priyayi, ujung-ujungnya banyak di antara mereka yang hanya akan menjadi kuli di negara lain, sehingga makin menguatkan citra Indonesia sebagai bangsa kuli. Hal ini hanya bisa dihentikan dengan memberikan pendidikan kewirausahaan kepada anak-anak sejak SD. Betapa mental priyayi banyak dimiliki jajaran pendidik kita, sehingga bisa menjadi kendala untuk mengajarkan pendidikan kewirausahaan di sekolah-sekolah.
Jadi, kendala utama untuk mengajarkan pendidikan kewirausahaan di sekolah terletak pada guru-guru di sekolah. Hal ini hanya bisa diatasi dengan poltical will dari pemerintah dalam bentuk instruksi resmi dari otoritas pendidikan (Depdiknas) kepada kepala-kepala sekolah agar mengajarkan pendidikan kewirausahaan.
Demikian salah satu kesimpulan yang terungkap dalam Parenting Seminar yang diselenggarakan Universitas Paramadina, di Jakarta, beberapa waktu lalu. Sebagai pembicara dalam seminar tersebut adalah CEO PT Graha Layar Prima Ananda Siregar, pakar kepribadian sekaligus Presiden Direktur Lembaga Pendidikan Duta Bangsa Mien R Uno, dan Presiden Direktur Kiroyan Kuhon Partners/PT Komunikasi Kinerja, Noke Kiroyan. Mien Uno mengatakan bahwa untuk menjadi wirausahawan andal dibutuhkan sebuah karakter unggul.
Karakter unggul tersebut adalah pengenalan terhadap diri sendiri (self awareness), kreatif, mampu berpikir kritis, mampu memecahkan permasalahan (problem solving), dapat berkomunikasi, mampu membawa diri di berbagai lingkungan, menghargai waktu (time orientation), empati, mau berbagi dengan orang lain, mampu mengatasi stres, bisa mengendalikan emosi, dan mampu membuat keputusan. Karakter tersebut, masih menurut Mien Uno, akan terbentuk melalui sebuah proses yang panjang.
Dalam proses ini, orang tua anak perlu mengambil peranan. Orang tua perlu menyupervisi anak dengan memberi contoh yang baik dan menjaga agar ucapannya sama dengan tindakan. Selain itu, orang tua ikut memotivasi anak, mengevaluasi, dan memberikan apresiasi atas prestasi anak. Membangun jiwa kewirausahaan memang sangat penting, lebih-lebih dengan meningkatnya angka pengangguran terdidik.
Kriteria pengangguran terdidik adalah para lulusan perguruan tinggi,baik D-1,D-2,D-3,S-1,S-2 maupun S-3 yang belum mendapatkan pekerjaan dan tentunya mereka berpredikat sebagai pencari kerja. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) 2007, jika pengangguran terdidik mencapai 6,16% atau 673.628 orang pada Agustus 2006, jumlah tersebut naik menjadi 7,02% atau 740.206 orang pada Februari 2007. Mengutip pendapat sosiolog David Mc Celland, suatu negara bisa menjadi makmur manakala memiliki sedikitnya dua persen entrepreuneur (wirausahawan) dari jumlah penduduk. Dari data statistik BPS (2007), Indonesia baru memiliki 400.000 wiraswastawan atau 0,18 persen dari jumlah penduduk. Untuk itu, Indonesia perlu secara serius mempersiapkan lahirnya generasi entrepreuneur untuk mencapai kemajuan ekonomi yang pesat.
Bagi sebagian orang, pendidikan bisa menjadi faktor pendorong kesuksesan untuk berwirausaha. Seseorang memang tidak perlu berpredikat sarjana untuk menjadi pengusaha, tetapi dengan latar belakang pendidikan akademik, berarti akan banyak kesempatan terbuka karena lebih luas wawasannya dalam melihat berbagai peluang bisnis yang ada.
Problem utama dalam membangun jiwa kewirausahaan adalah kurangnya kesadaran akan arti penting dan urgensinya menjadi pemuda yang mandiri dan berwirausaha. Kini masih banyak pemuda terdidik dari organisasi kepemudaan yang lebih berorientasi kepada pergerakan politik dan kekuasaan karena mereka cenderung memilih cara instan untuk menjadi terkenal dan politisi andal, tetapi dari aspek ekonomi mereka jauh tertinggal. Jadi, tahap awal yang harus dilakukan dalam memberdayakan pemuda adalah membangun jiwa pemuda yang mandiri dan menanamkan semangat hidup berwirausaha agar kemandirian mudah dibangun. Berarti pendidikan dalam konteks ini mestinya bukan sekadar untuk mencetak generasi terampil serta memiliki kompetensi tinggi, tetapi juga harus mampu mencetak generasi dengan jiwa wirausaha.
Ikon bahwa sekolah hanya mencari ilmu, lantas mencari pekerjaan, harus diubah menjadi mencari ilmu dan mengaplikasikannya di lapangan. Dengan demikian, pendidikan nasional harus mampu membawa generasi terdidik untuk menciptakan pekerjaan.
Pendidikan kewirausahaan yang diajarkan sejak SD bisa mengubah tipe pendidikan nasional kita yang sudah terlanjur menjadi birokrasi minded karena melulu difokuskan untuk mencetak generasi baru yang hanya untuk mengisi kantor-kantor saja. Dengan fakta angka pengangguran terdidik yang makin melonjak dari tahun ke tahun, kini tipe pendidikan birokrasi minded tidak layak dibiarkan terus-menerus. Sekarang saatnya anak-anak sejak SD diajari untuk mengenal berbagai jenis kewirausahaan, sebagai alternatif menghadapi masa depan di luar cita-cita menjadi pegawai kantor.
Mental priyayi sebagai konsekuensi dari birokrasi minded, yang selama ini menjadi tipe pendidikan nasional kita, harus mulai dihapus. Sebab faktanya menunjukkan, lowongan pekerjaan di kantor selalu terbatas. Sebaliknya, peluang kerja di luar kantor terbuka lebar untuk semua generasi. Jika pendidikan nasional dibiarkan bertipe birokrasi minded, dikhawatirkan hanya akan menambah angka pengangguran terdidik dari tahun ke tahun. Masih terlalu banyak lulusan perguruan tinggi yang bermental priyayi, sehingga tidak bersedia merintis usaha kecil dan memilih menganggur sambil mondar-mandir keluar masuk kantor menawarkan surat lamaran kerja yang dilampiri ijasah sarjananya.
Jika generasi muda dibiarkan bermental priyayi, ujung-ujungnya banyak di antara mereka yang hanya akan menjadi kuli di negara lain, sehingga makin menguatkan citra Indonesia sebagai bangsa kuli. Hal ini hanya bisa dihentikan dengan memberikan pendidikan kewirausahaan kepada anak-anak sejak SD. Betapa mental priyayi banyak dimiliki jajaran pendidik kita, sehingga bisa menjadi kendala untuk mengajarkan pendidikan kewirausahaan di sekolah-sekolah.
Jadi, kendala utama untuk mengajarkan pendidikan kewirausahaan di sekolah terletak pada guru-guru di sekolah. Hal ini hanya bisa diatasi dengan poltical will dari pemerintah dalam bentuk instruksi resmi dari otoritas pendidikan (Depdiknas) kepada kepala-kepala sekolah agar mengajarkan pendidikan kewirausahaan.
Rabu, 07 Desember 2011
Wirausaha Sejak Taman Kanak-Kanak
Ketua Harian Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO, Arief Rachman
mengatakan, pendidikan kewirausahaan hendaknya tidak hanya diajarkan
mulai dari jenjang SD hingga Perguruan Tinggi. Menurutnya, akan lebih
baik jika kewirausahaan juga diajarkan sejak anak-anak memasuki bangku
taman kanak-kanak (TK). Hal itu dikatakannya pada pembukaan Konferensi
Internasional UNESCO-APEID ke-15, Selasa (6/12/2011), di Hotel Sultan,
Jakarta. Konferensi ini mengambil tema "Pendidikan yang Inspiratif:
Kreativitas dan Kewirausahaan".. "Jadi nantinya tidak hanya
jenjang SD sampai perguruan tinggi. Tetapi jika perlu sejak Taman
Kanak-kanak (TK) sudah ditanamkan pendidikan kewirausahaan," kata Arief.
Ia
mengungkapkkan, selain bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan
pengetahuan tentang kewirausahaan, konferensi internasional ini juga
merupakan langkah inisiatif pendidikan kewirausahaan, tentang praktik
kewirausahaan, dan sebagai upaya untuk mendongkrak pendidikan
kewirausahaan di semua level pendidikan.
Konferensi yang berlangsung 6-8 Desember 2011 ini dihadiri oleh para akademisi, pendidik, dan pengusaha terkemuka di kawasan Asia Pasifik. Sejumlah hal akan dibahas, di antaranya akan dilakukan kajian mengenai cara-cara untuk mengoptimalkan kreativitas dan kewirausahaan di bidang pendidikan.
Sebanyak lebih dari 400 peserta yang berasal dari sekitar 20 negara yang berpartisipasi akan melihat contoh-contoh bidang usaha dan kisah-kisah keberhasilan dari sektor publik mau pun swasta serta mengeksplorasi daya kreativitas dan kewirausahaan. Ke depannya, contoh-contoh ini diharapkan mampu menginspirasi generasi mendatang yang terdiri dari orang-orang inovatif untuk berpikir secara lateral (kreatif) dan berani mengambil risiko yang telah diperhitungkan.
Salah satu pembicara utama, Larry O'Farrel, seorang guru besar dan Ketua Bidang Seni dan Pembelajaran UNESCO dari Fakultas Pendidikan, Universitas Queen's Kanada mengatakan, dunia membutuhkan orang-orang kreatif. Individu dengan karakter seperti ini diharapkan mampu menyelesaikan masalah di semua sektor perekonomian untuk meningkatkan produktivitas dan kewirausahaan serta mengatasi tantangan sosial dan budaya yang besar.
Oleh karena itu, kebutuhan yang lebih mendesak adalah sistem pendidikan yang dapat meningkatkan kapasitas kreatif generasi mahasiswa saat ini dan akan datang. Namun, kata dia, mengutip para kritikus pendidikan, konfigurasi pendidikan saat ini kurang dilengkapi perangkat untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
"Di banyak bagian dunia, penghafalan masih menjadi satu-satunya metode pengajaran yang digunakan. Di negara-negara yang lebih maju, penguasaan pengetahuan lebih diprioritaskan daripada eksperimen kreatif akibat adanya efek penghambat dari ujian yang distandarisasi," kata O'Farrel.
Selain O'Farrel, para pembicara lainnya yang akan hadir di konferensi ini adalah Wang Libing (Guru Besar Bidang Pendidikan, Universitas Zhejiang, RRC), Ciputra (pendiri Grup Ciputra dan Ciputra Entrepreneur Center), serta Sofjan Wanandi (Ketua Asosiaso Pengusaha Indonesia (Apindo)), dan Mira Lesmana (penulis sekaligus produser film Indonesia). Dikutip dari: Kompas.com (6 Desember 2011.
Konferensi yang berlangsung 6-8 Desember 2011 ini dihadiri oleh para akademisi, pendidik, dan pengusaha terkemuka di kawasan Asia Pasifik. Sejumlah hal akan dibahas, di antaranya akan dilakukan kajian mengenai cara-cara untuk mengoptimalkan kreativitas dan kewirausahaan di bidang pendidikan.
Sebanyak lebih dari 400 peserta yang berasal dari sekitar 20 negara yang berpartisipasi akan melihat contoh-contoh bidang usaha dan kisah-kisah keberhasilan dari sektor publik mau pun swasta serta mengeksplorasi daya kreativitas dan kewirausahaan. Ke depannya, contoh-contoh ini diharapkan mampu menginspirasi generasi mendatang yang terdiri dari orang-orang inovatif untuk berpikir secara lateral (kreatif) dan berani mengambil risiko yang telah diperhitungkan.
Salah satu pembicara utama, Larry O'Farrel, seorang guru besar dan Ketua Bidang Seni dan Pembelajaran UNESCO dari Fakultas Pendidikan, Universitas Queen's Kanada mengatakan, dunia membutuhkan orang-orang kreatif. Individu dengan karakter seperti ini diharapkan mampu menyelesaikan masalah di semua sektor perekonomian untuk meningkatkan produktivitas dan kewirausahaan serta mengatasi tantangan sosial dan budaya yang besar.
Oleh karena itu, kebutuhan yang lebih mendesak adalah sistem pendidikan yang dapat meningkatkan kapasitas kreatif generasi mahasiswa saat ini dan akan datang. Namun, kata dia, mengutip para kritikus pendidikan, konfigurasi pendidikan saat ini kurang dilengkapi perangkat untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
"Di banyak bagian dunia, penghafalan masih menjadi satu-satunya metode pengajaran yang digunakan. Di negara-negara yang lebih maju, penguasaan pengetahuan lebih diprioritaskan daripada eksperimen kreatif akibat adanya efek penghambat dari ujian yang distandarisasi," kata O'Farrel.
Selain O'Farrel, para pembicara lainnya yang akan hadir di konferensi ini adalah Wang Libing (Guru Besar Bidang Pendidikan, Universitas Zhejiang, RRC), Ciputra (pendiri Grup Ciputra dan Ciputra Entrepreneur Center), serta Sofjan Wanandi (Ketua Asosiaso Pengusaha Indonesia (Apindo)), dan Mira Lesmana (penulis sekaligus produser film Indonesia). Dikutip dari: Kompas.com (6 Desember 2011.
Selasa, 06 Desember 2011
Terbiasa Menghadapi Masalah
Membentuk mental wirausaha berarti
kita harus terbiasa untuk menghadapi masalah dan mencari solusinya terus
menerus dari masa ke masa. Seorang wirausaha selalu menyadari bahwa ketika
suatu permasalahan sudah terselesaikan dengan baik, maka sudah merupakan hal
yang biasa apabila muncul permasalahan baru, dan seorang wirausaha amat
tertantang untuk segera menyelesaikannya.
Hidup tidak lain adalah perpindahan dari satu masalah ke masalah yang lain. Hidup merupakan berpindah-pindahnya satu kesulitan ke kesulitan yang lain. Bahkan setiap kesulitan yang menimpa pada saat yang akan datang pastilah akan lebih sulit dan kompleks cara penanganannya dibandingkan kesulitan pada masa yang lalu dan kini. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Surat Al-Insyiqoq ayat 19 yang artinya :
“Sesungguhnya kamu melalui tingkat demi tingkat (dalam
kehidupan)”
Seseorang menjadi wirausahawan bukanlah soal keturunan, melainkan masalah pilihan dan kemauan. Kunci sukses wirausaha bukan terletak pada orang lain, orang-orang di sekitar kita, tetapi oleh kita sendiri. Mentalitas wirausaha dapat dibentuk dengan merubah mindset, merubah pola atau cara berfikir. Tinggal pertanyaannya adalah, apakah kita akan terus menjadi orang yang biasa-biasa saja atau menjadi orang yang luas biasa, yaitu menjadi wirausahawan sukses.
Syaratnya adalah kita harus merubah mindset dari orang gagal menjadi orang yang berhasil. Dari orang yang berfikir negatif menjadi orang yang selalu berfikir positif. Dari orang yang selalu berperasaan susah menjadi orang yang selalu bahagia dalam hidup. Caranya adalah berusaha memberikan nilai tambah dalam hal apapun, bertanggung jawab atas apa yang dilakukan, bisa diandalkan dalam hal apapun dan berkomitmen untuk melakukan perubahan atas diri kita.
Kamis, 01 Desember 2011
Kompetensi Wirausaha
·Memiliki
ide yang jelas dan fokus terhadap tujuan
·Kemauan
dan komitmen yang tidak mudah tergoyahkan
·Selalu
berani untuk memulai sesuatu
Sedangkan mengenai kecukupan modal,
tenaga dan pemikiran merupakan variabel yang bersifat relatif tergantung ide
dan komitmen wirausaha tersebut. Menurut Casson
sebagaimana dikutip oleh Yuyun Wirasasmita (1993:3) mengenai beberapa kemampuan
yang harus dimiliki oleh seorang wirausahawan, yaitu[1] :
-Self knowledge. Yaitu memiliki pengetahuan tentang usaha yang akan dilakukan atau ditekuninya.
-Imagination. Yaitu memiliki imajinasi, ide dan perspektif serta tidak mengandalkan pada sukses di masa yang lalu.
-Practical skill. Yaitu memiliki pengetahuan praktis, misalnya pengetahuan teknik, desain, prosesing, pembukuan, administrasi dan pemasaran.
-Search skill. Yaitu kemampuan untuk menemukan, berkreasi dan berimajinasi
-Foresight. Yaitu berpandangan jauh ke depan
-Computation skill. Yaitu kemampuan berhitung dan kemampuan memprediksi keadaan masa yang
akan datang
-Communication skill. Yaitu kemampuan untuk berkomunikasi, bergaul dan berhubungan dengan orang lain.
-Communication skill. Yaitu kemampuan untuk berkomunikasi, bergaul dan berhubungan dengan orang lain.
Norman M.Scarborough (1993) mengungkapkan bahwa kompetensi kewirausahaan yang diperlukan sebagai syarat-syarat bisnis, meliputi :
1.Proaktif.
Selalu ada inisiatif dan tegas dalam melaksanakan tugas.
2.Berorientasi
pada prestasi atau kemajuan, cirinya adalah :
-Selalu
mencari peluang-peluang baru
-Berorientasi
pada efisiensi
-Konsen
pada kerja keras
-Perencanaan
yang sistematis
-Selalu
memonitor keadaan
3.Komitmen
terhadap perusahaan atau orang lain, cirinya adalah :
-Selalu
memegang teguh kontrak kerja
-Mengenal
tentang betapa penting hubungan bisnis
[1] Budi,
Triton Prawira. 2007. Panduan Sikap dan
Perilaku Entrepreneurship, Kiat Sukses Menjadi Pengusaha, Cetakan I.
Yogyakarta : Tugu Publisher. Hlm.136.
a
a
Langganan:
Postingan (Atom)


