Rabu, 18 Juni 2014

Tips Pendidikan Anak Usia Dini

Berfokus pada pendidikan anak Anda telah menjadi hal yang lebih penting sekarang daripada sebelumnya. Anda tidak hanya memastikan bahwa anak-anak Anda pergi ke sekolah terbaik tetapi juga memastikan bahwa pendidikan mereka menyediakan mereka dengan segala sesuatu yang mereka butuhkan untuk masa depan.
Banyak orang tua merasa sulit untuk memperhatikan pendidikan anak-anak mereka, terutama untuk orang tua yang bekerja. Tapi orang tua harus bersedia berkorban demi kemajuan pendidikan anaknya. Lihatlah beberapa tips berikut ini yang akan membantu Anda memastikan bahwa anak Anda menerima jenis pendidikan yang diajarkan dengan benar.
Pertama, Anda harus memahami kemampuan anak Anda. Anda perlu memahami kemampuan mereka sebelum Anda mulai mengajari mereka sesuatu yang baru. Setiap anak memiliki kebutuhan, kemampuan dan kekuatan yang berbeda. Sangat penting untuk memahami anak Anda sendiri dan tidak membandingkannya dengan anak-anak yang lain. Beberapa anak mungkin memiliki kecepatan belajar yang lebih lambat dibandingkan dengan orang lain dan sebagai orang tua, Anda akan perlu mengidentifikasi itu. Luangkan waktu bersama anak Anda untuk memahami dirinya dan keterampilannya serta menilai seberapa tajam dia dalam memilah hal-hal baru. Anda harus memahami mereka jika Anda benar-benar ingin mereka belajar bisa belajar dengan baik.
Pastikan bahwa lingkungan tempat anak Anda belajar adalah lingkungan belajar yang baik. Lingkungan sangat mempengaruhi kemampuan seorang anak untuk belajar. Anak membutuhkan lingkungan yang memungkinkan dia untuk berkonsentrasi. Bermain dan belajar harus seiring sejalan, sehingga harus ada beberapa kegiatan bermain bersama dan beberapa kegiatan pendidikan.
Pastikan bahwa anak Anda aman. Jangan memarahi mereka jika mereka membuat kesalahan, karena kesalahan adalah langkah pertama untuk memperbaiki kesalahan. Biarkan anak-anak belajar dari kesalahan mereka. Ini membantu mereka belajar progresif dan memperkuat landasan pendidikan mereka. Cobalah untuk menjaga kepentingan mereka dengan membuat proses belajar menyenangkan.
Membantu anak berprestasi dengan meningkatkan kemampuan mereka. Membuat mereka belajar untuk mengharapkan lebih dari apa yang mereka bisa. Dorong mereka untuk menjadi lebih baik tetapi jangan sampai terlalu memaksa mereka. Pikirkan kemampuan anak untuk menjadi lebih baik dan kemudian menetapkan batas yang realistis bagi mereka untuk mencapainya.
Jika Anda benar-benar ingin anak Anda belajar, Anda perlu bersabar. Pikiran anak-anak masih berkembang dan Anda harus memberi mereka waktu. Anda harus konsisten dalam usaha Anda dan harus mengajar mereka bukan untuk kepentingan itu, tapi untuk memastikan bahwa mereka belajar sesuatu. Membangun ikatan positif dengan anak Anda sehingga dia merasa nyaman belajar dengan Anda. Jika Anda terlalu sibuk atau bersikap kasar kepadanya, anak Anda mungkin akan takut kepada Anda. Ini akan menghambat proses belajar dan anak mungkin akan kehilangan minat dalam pendidikannya.
Sebagai orang tua, Anda harus aktif dalam membimbing anak dan memastikan mereka mendapatkan lembaga pendidikan yang tepat. Temukan sekolah terbaik untuk mereka, tapi Anda tetap harus membimbing mereka sepulang dari sekolah dan membantu mereka serta mengajarkan mereka hal-hal baru untuk mereka pahami.

Sabtu, 31 Mei 2014

Humor, agar Anak Kreatif

Menjadi orangtua tidak perlu terlalu ‘serius,’  hanya peduli pada jam makan, jam tidur, jam mandi, dan hal-hal rutin dengan tujuan disiplin. Sekali-kali bersikaplah konyol yang mengundang gelak tawa anak. Humor yang mengakibatkan anak tertawa dapat meningkatkan kecerdasan, kreativitas, kemampuan bersosialisasi, empati, rasa percaya diri, serta kemampuan menyelesaikan masalah.

Menurut Louis R. Franzini, PhD, psikolog anak yang juga seorang stand-up comedian dan Ketua Laughmasters and Toastmasters International Club, AS, banyak orangtua yang tidak menyadari bahwa bersikap konyol, yang mengundang gelak tawa anak merupakan salah satu cara membuat anak bahagia. Melakukan hal-hal konyol membuat anak tertawa, luwes, kreatif, dan sehat.

Pertanyaannya melakukan hal-hal konyol seperti apa yang membuat anak tertawa? Bunda, sebagai uji coba, saat bersama anak dan ia kelihatan mulai bosan, katakan padanya, “Sebentar, ya, Bunda  tidur dulu.” Duduklah di kursi dengan mata terpejam, pura-pura tidur dengan mimik wajah lucu. Lalu buat suara mengorok yang berirama. Si kecil akan tersenyum melihatnya, bahkan mungkin meniru Anda pura-pura tidur dan mengorok. Nah, kini giliran Anda yang dibuatnya tertawa, melihat gayanya mengorok.

Ada sebuah pepatah kuno yang mengatakan bahwa tertawa 30 kali sehari akan membuat Anda sehat. Sayangnya,  semakin dewasa seseorang semakin berkurang jumlah tertawanya. Menurut penilitian,  bayi tertawa 200 kali setiap hari, bahkan  beberapa di antaranya 300 kali sehari. Sementara orang dewasa hanya 15 kali sehari.

Nah, agar anak bisa menjaga jumlah tawa dan Anda bisa menambah waktu tertawa, cobalah menjadi ‘standing comedian’ untuknya dengan melakuka hal-hal konyol, yang membuat Anda dan anak bahagia tertawa terbahak-bahak. AyahBunda.com

Jumat, 30 Mei 2014

Yuk Kita Latih Balita Agar Mandiri

Kemandirian anak tidak terbentuk begitu saja, tapi perlu dibiasakan sejak kecil. Kita bisa memberikan latihan ringan kepada balita agar mampu mandiri sejak usia dini.

Biasanya anak-anak usia dua tahunan sangat suka memilih pakaian sendiri. Bantuan orang tua adalah, sabar menghadapi anak saat ia memilih pakaiannya. Sikap orang tua yang demikian sangat membantu anak menjadi mandiri di usia muda. Langkah-langkah berikut bisa Anda terapkan:

  • Sebagai latihan awal, beri anak potongan pakaian yang sederhana dan susun di atas tempat tidur. Letakkan kemeja pada bagian atas tempat tidur, dilanjutkan dengan celana atau rok di bagian tengah, baru kemudian kaos kaki. Dengan cara ini si dua tahun belajar mengenakan busananya dengan cara sesuai urutan dan benar. Anak akhirnya tahu bahwa kaos dikenakan melalui kepala, sedangkan celana melalui kaki. Biarkan anak melakukan semua itu sendiri. Campur tangan baru dilakukan, misalnya, bila kepala anak tertahan kaos sehingga sulit keluar. Segera setelah masalah teratasi, anak dapat melanjutkan kegiatan ini sendiri.
  • Untuk mengajar anak mengenakan sepatu atau sandal dengan benar (tidak terbalik), tempelkan stiker berwarna pada bagian pinggir sepatu yang bersisian. Katakan bahwa sisi sepatu yang ditempeli stiker harus menempel, jika tidak, berarti ia memakai sepatunya terbalik.
  • Makan sendiri. Anak-anak usia dua tahun biasanya sangat gemar bermain-main dengan makanannya. Orang tua biasanya tidak membiarkan ia menyendoki makanannya sendiri, karena dapat mengotori meja makan dan pakaiannya. Padahal, membiarkan anak makan sendiri membantu ia belajar mengkoordinasikan gerak motorik dan sensorik tubuh, terutama tangannya. Awalnya mungkin mengesalkan, karena makanan berserakan di meja dan lantai. Namun jangan lantas mengambil alih pekerjaan anak dengan cepat-cepat menawarkan diri untuk menyuapinya. 
Kesabaran dan kerelaan orang tua untuk merapikan rumah lagi dan lagi, akan membuat anak terampil ketika ia menginjak usia sekolah. Seperti pada latihan makan sendiri dapat menjadi kegiatan yang sangat bermanfaat agar anak mandiri. Sesekali orang tua perlu menuntun agar ia mengerti bagaimana cara makan yang baik dan tepat. ayahbunda.coi.id

Jumat, 04 April 2014

Pentingnya Pendidikan Politik Sejak Dini

Wakil Ketua Komisi II DPR RI Arif Wibowo menyatakan pendidikan politik sangat penting diberikan sedini mungkin. Pasalnya, setiap sendi kehidupan manusia selalu dipengaruhi politik. Tak terkecuali siswa-siswi tingkat menengah. Hal itu ia sampaikan kepada peserta Parlemen Remaja 2013, di Griya Sabha Kopo, Bogor (26/10) malam.
“Pendidikan politik sejak dini itu sangat penting. Pertanyaan saya, sadar tidak kalau selama ini kehidupan dipengaruhi oleh politik? Kehidupan sekecil apapun, dipengaruhi kebijakan politik, maupun keputusan politik. Lha wong harga sapi saja ditentukan oleh kebijakan politik,” ujar Politisi PDI Perjuangan ini kepada 136 peserta Parlemen Remaja 2013.
Oleh karena itu, tambah Arif, tidak logis apabila remaja malah  menjadi apatis dan anti politik, padahal hidupnya ditentukan oleh politik. Ia menegaskan, seseorang sejak bangun pagi hingga tidur malam selalu dipengaruhi politik.
“Kita punya potensi anak-anak muda yang hebat. Sehingga membuat kita optimis kepada bangsa kedepannya. Mereka tidak boleh pesimis, mereka tidak boleh takut di kehidupan politik. Mereka justru harus kita dorong untuk terlibat dalam kehidupan politik. Mereka adalah generasi penerus bangsa Indonesia,” tambah politisi asal Jawa Timur ini.
Dalam paparannya yang berjudul; Demokrasi di Indonesia: DPR Masa Kini dan Masa Depan, Arif menyatakan bahwa DPR adalah lembaga yang berorientasi pada kepentingan rakyat. Untuk itu, ia menekankan bahwa DPR jangan digunakan untuk kepentingan pribadi ataupun kelompok tertentu.
“DPR itu untuk kepentingan rakyat, jadi harus mengacu pada apa yang dibutuhkan rakyat. Anggota DPR harus memperjuangkan kepentingan rakyat. DPR jangan untuk kekuasaan partai politik tertentu, karena lahirnya anggota DPR dari parpol,” tegas Arif.
Tanpa DPR yang kuat dan kokoh, tambah Arif, bangsa ini bisa menjadi bobrok. Akibatnya, jika bangsa bobrok dan masyarakat tidak sejahtera, fungsi DPR tidak maksimal.
“DPR harus diisi dengan anggota yang lebih baik. Kedepannya, kita harus melahirkan anggota DPR yang konsisten dan gigih memperjuangkan kepentingan masyarakat,” ujar Arif berapi-api.
Arif menilai peserta Parlemen Remaja 2013 ini meniliki pengetahuan demokrasi yang sudah cukup luas. Untuk itu, generasi muda ini perlu didorong untuk semakin memahami politik. Selain itu, menegaskan kepada generasi muda untuk tidak apatis dan anti politik.
“Saya acung jempol kepada siswa-siswa terbaik dari masing-masing provinsi itu. Meskipun pengetahuannya masih normatif, sepanjang tentang demokrasi, ketatanegaraan, mereka sudah mau menjadi yang terbaik. Sekarang tinggal memberikan kesadaran, pemahaman, dan dorongan kepada mereka untuk memahami lebih jauh kehidupan politik, dan membuat mereka sadar bahwa kehidupan politik itu penting,” tutup politisi yang ketika acara ingin dipanggil ‘Om’ ini. (sf), foto : naefuroji/parle/hr. http://www.dpr.go.id

Minggu, 16 Februari 2014

Sistem Pendidikan Pondok Pesantren

Pesantrenpondok pesantren, atau sering disingkat pondok atau ponpes, adalah sebuah asrama pendidikan tradisional, di mana para siswanya semua tinggal bersama dan belajar di bawah bimbingan guru yang lebih dikenal dengan sebutan Kiai dan mempunyai asrama untuk tempat menginap santri. Santri tersebut berada dalam kompleks yang juga menyediakan masjid untuk beribadah, ruang untuk belajar, dan kegiatan keagamaan lainnya. Kompleks ini biasanya dikelilingi oleh tembok untuk dapat mengawasi keluar masuknya para santri sesuai dengan peraturan yang berlaku.[1]. Pondok Pesantren merupakan dua istilah yang menunjukkan satu pengertian. Pesantren menurut pengertian dasarnya adalah tempat belajar para santri, sedangkan pondok berarti rumah atau tempat tinggal sederhana terbuat dari bambu. Di samping itu, kata pondok mungkin berasal dari Bahasa Arab Funduq yang berarti asrama atau hotel. Di Jawa termasuk Sunda dan Madura umumnya digunakan istilah pondok dan pesantren, sedang di Aceh dikenal dengan Istilah dayah atau rangkang atau menuasa, sedangkan di Minangkabau disebut surau.[2] Pesantren juga dapat dipahami sebagai lembaga pendidikan dan pengajaran agama, umumnya dengan cara nonklasikal, di mana seorang kiai mengajarkan ilmu agama Islam kepada santri-santri berdasarkan kitab-kitab yang ditulis dalam bahasa Arab oleh Ulama Abad pertengahan, dan para santrinya biasanya tinggal di pondok (asrama) dalam pesantren tersebut. [3]

Umumnya, suatu pondok pesantren berawal dari adanya seorang kyai di suatu tempat, kemudian datang santri yang ingin belajar agama kepadanya.[rujukan?] Setelah semakin hari semakin banyak santri yang datang, timbullah inisiatif untuk mendirikan pondok atau asrama di samping rumah kyai.[rujukan?] Pada zaman dahulu kyai tidak merencanakan bagaimana membangun pondoknya itu, namun yang terpikir hanyalah bagaimana mengajarkan ilmu agama supaya dapat dipahami dan dimengerti oleh santri.[rujukan?] Kyai saat itu belum memberikan perhatian terhadap tempat-tempat yang didiami oleh para santri, yang umumnya sangat kecil dan sederhana.[rujukan?] Mereka menempati sebuah gedung atau rumah kecil yang mereka dirikan sendiri di sekitar rumah kyai.[rujukan?]Semakin banyak jumlah santri, semakin bertambah pula gubug yang didirikan.[rujukan?] Para santri selanjutnya memopulerkan keberadaan pondok pesantren tersebut, sehingga menjadi terkenal ke mana-mana, contohnya seperti pada pondok-pondok yang timbul pada zaman Walisongo.[4]
Pondok Pesantren di Indonesia memiliki peran yang sangat besar, baik bagi kemajuan Islam itu sendiri maupun bagi bangsa Indonesia secara keseluruhan. Berdasarkan catatan yang ada, kegiatan pendidikan agama di Nusantara telah dimulai sejak tahun 1596. Kegiatan agama inilah yang kemudian dikenal dengan nama Pondok Pesantren. Bahkan dalam catatan Howard M. Federspiel- salah seorang pengkaji keislaman di Indonesia, menjelang abad ke-12 pusat-pusat studi di Aceh (pesantren disebut dengan nama Dayah di Aceh) dan Palembang (Sumatera), di Jawa Timur dan di Gowa (Sulawesi) telah menghasilkan tulisan-tulisan penting dan telah menarik santri untuk belajar.[5]
Istilah pesantren berasal dari kata pe-santri-an, di mana kata "santri" berarti murid dalam Bahasa Jawa.[rujukan?] Istilah pondok berasal dari Bahasa Arab funduuq (فندوق) yang berarti penginapan.[rujukan?] Khusus di Aceh, pesantren disebut juga dengan nama dayah. Biasanya pesantren dipimpin oleh seorang Kyai.[rujukan?] Untuk mengatur kehidupan pondok pesantren, kyai menunjuk seorang santri senior untuk mengatur adik-adik kelasnya, mereka biasanya disebut lurah pondok.[rujukan?] Tujuan para santri dipisahkan dari orang tua dan keluarga mereka adalah agar mereka belajar hidup mandiri dan sekaligus dapat meningkatkan hubungan dengan kyai dan jugaTuhan.[rujukan?]
Pendapat lainnya, pesantren berasal dari kata santri yang dapat diartikan tempat santri.[rujukan?] Kata santri berasal dari kata Cantrik (bahasa Sansakerta, atau mungkin Jawa) yang berarti orang yang selalu mengikuti guru, yang kemudian dikembangkan oleh Perguruan Taman Siswa dalam sistem asrama yang disebut Pawiyatan.[rujukan?] Istilah santri juga dalam ada dalam bahasa Tamil, yang berarti guru mengaji, sedang C. C Berg berpendapat bahwa istilah tersebut berasal dari istilah shastri, yang dalam bahasa India berarti orang yang tahu buku-buku suci agama Hindu atau seorang sarjana ahli kitab suci agama Hindu.[rujukan?] Terkadang juga dianggap sebagai gabungan kata saint (manusia baik) dengan suku kata tra (suka menolong), sehingga kata pesantren dapat berarti tempat pendidikan manusia baik-baik.[6]
Sebuah pondok pada dasarnya merupakan sebuah asrama pendidikan Islam tradisional di mana para siswanya (santri) tinggal bersama di bawah bimbingan seorang atau lebih guru yang lebih dikenal dengan Kyai [7] Dengan istilah pondok pesantren dimaksudkan sebagai suatu bentuk pendidikan keislaman yang melembaga di Indonesia. Pondok atau asrama merupakan tempat yang sudah disediakan untuk kegiatan bagi para santri. Adanya pondok ini banyak menunjang segala kegiatan yang ada. Hal ini didasarkan jarak pondok dengan sarana pondok yang lain biasanya berdekatan sehingga memudahkan untuk komunikasi antara Kyai dan santri, dan antara satu santri dengan santri yang lain.
Dengan demikian akan tercipta situasi yang komunikatif di samping adanya hubungan timbal balik antara Kyai dan santri, dan antara santri dengan santri. Hal ini sebagaimana dikemukakan oleh Zamakhsari Dhofir, bahwa adanya sikap timbal balik antara Kyai dan santri di mana para santri menganggap Kyai seolah-olah menjadi bapaknya sendiri, sedangkan santri dianggap Kyai sebagai titipan Tuhan yang harus senantiasa dilindungi [8]
Sikap timbal balik tersebut menimbulkan rasa kekeluargaan dan saling menyayangi satu sama lain, sehingga mudah bagi Kyai dan ustaz untuk membimbing dan mengawasi anak didiknya atau santri. Segala sesuatu yang dihadapi oleh santri dapat dimonitor langsung oleh Kyai dan ustaz, sehingga dapat membantu memberikan pemecahan ataupun pengarahan yang cepat terhadap santri, mengurai masalah yang dihadapi para santri.
Keadaan pondok pada masa kolonial sangat berbeda dengan keberadaan pondok sekarang. Hurgronje menggambarkan keadaan pondok pada masa kolonial (dalam bukunya Imron Arifin, Kepemimpinan Kyai) yaitu: “Pondok terdiri dari sebuah gedung berbentuk persegi, biasanya dibangun dari bambu, tetapi di desa-desa yang agak makmur tiangnya terdiri dari kayu dan batangnya juga terbuat dari kayu. Tangga pondok dihubungkan ke sumur oleh sederet batu-batu titian, sehingga santri yang kebanyakan tidak bersepatu itu dapat mencuci kakinya sebelum naik ke pondoknya.
Pondok yang sederhana hanya terdiri dari ruangan yang besar yang didiami bersama. Terdapat juga pondok yang agaknya sempurna di mana didapati sebuah gang (lorong) yang dihubungkan oleh pintu-pintu. Di sebelah kiri kanan gang terdapat kamar kecil-kecil dengan pintunya yang sempit, sehingga sewaktu memasuki kamar itu orang-orang terpaksa harus membungkuk, jendelanya kecil-kecil dan memakai terali. Perabot di dalamnya sangat sederhana. Di depan jendela yang kecil itu terdapat tikar pandan atau rotan dan sebuah meja pendek dari bambu atau dari kayu, di atasnya terletak beberapa buah kitab”[9]
Dewasa ini keberadaan pondok pesantren sudah mengalami perkembangan sedemikian rupa sehingga komponen-komponen yang dimaksudkan makin lama makin bertambah dan dilengkapi sarana dan prasarananya.
Dalam sejarah pertumbuhannya, pondok pesantren telah mengalami beberapa fase perkembangan, termasuk dibukanya pondok khusus perempuan. Dengan perkembangan tersebut, terdapat pondok perempuan dan pondok laki-laki. Sehingga pesantren yang tergolong besar dapat menerima santri laki-laki dan santri perempuan, dengan memilahkan pondok-pondok berdasarkan jenis kelamin dengan peraturan yang ketat.

Rabu, 29 Januari 2014

Kurikulum Baru Mulai Diberlakukan Tahun 2014

Metrotvnews.com, Jakarta: Mulai tahun ajaran baru Juli mendatang, seluruh sekolah di Indonesia yang total berjumlah sekitar 280 ribu akan menerapkan Kurikulum 2013. Semua kelas akan menerapkan kurikulum tersebut kecuali kelas III, VI, IX, dan XII.

“Kurikulum 2013 dilaksanakan 100% sekolah pada tahun pelajaran 2014, yakni SD kelas I, II, IV, V dan SMP kelas VII dan VIII, serta SMA dan SMK kelas X dan XI,” ungkap Kepala Unit Implementasi Kurikulum Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Tjipto Sumadi, Minggu (5/1).

Untuk mendukung rencana tersebut, lanjut Tjipto, Kemendikbud akan melatih guru. Saat ini, materi pelatihan itu sedang disiapkan. 

“Guru SD-SMA yang akan dilatih sekitar 1,3 juta orang,” ujar Tjipto. 

Pelatihan guru itu akan digelar Maret-Juli 2014 dengan melibatkan narasumber nasional (NS) yang terdiri dari 1.557 guru serta 912 kepala sekolah dan pengawas sekolah.

Narasumber nasional itu akan melatih instruktur nasional (IN) yang terdiri 33.106 guru, 11.234 kepala sekolah, dan 2.306 pengawas sekolah.

Selanjutnya IN akan melatih guru sasaran sebanyak 1,1 juta guru termasuk kepala sekolah dan pengawas sekolah.

Dijelaskan Tjipto, peserta terbaik pelatihan itu akan menjadi guru pendamping.

Fungsi guru pendamping ialah membantu guru sasaran dalam mengimplementasikan kurikulum 2013 di kelas. 

“Guru pendamping akan ditentukan setelah pelatihan, tetapi proyeksi jumlahnya sudah disiapkan oleh direktorat terkait.” 

Sebelumnya Sekretaris Balitbang Kemendikbud Dadang Sudiyarto mengungkapkan Kemendikbud menyiapkan anggaran untuk naskah buku, penggandaan, dan distribusi buku semester satu melalui dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS).

Selain itu, anggaran untuk pelatihan guru, penyiapan materi dan bim bingan teknis pendampingan, serta monitoring dan evaluasi juga sudah disiapkan.

Menurut Dadang, pendanaan juga melibatkan pemerintah daerah (pemda). 

Pemerintah provinsi dan kabupaten/kota juga bersama-sama menyiapkan dukungan anggaran untuk penggandaan dan distribusi buku semester dua, pelatihan guru, pendampingan, serta monitoring dan evaluasi pelaksanaan Kurikulum 2013 di tingkat sekolah. (Syarief Oebadillah)

Selasa, 21 Januari 2014

Kurikulum 2013 Tingkatkan Efektifitas Pembelajaran

Dalam Kurikulum 2013, beban guru untuk menyusun silabus akan hilang. Sebabnya, silabus merupakan bagian tak terpisahkan dari dokumen Kurikulum 2013. Pada gilirannya, hilangnya kewajiban menyusun silabus ini akan mengurangi beban administratif para guru.

"Dengan demikian, para guru akan lebih berkonsentrasi pada proses pembelajaran," kata Mendikbud M. Nuh ketika menyampaikan materi Kurikulum 2013, di Universitas Islam Malang (Unisma), Sabtu, 16 Februari 2013.

Mantan Rektor ITS ini mengungkapkan siapapun yang pernah mengajar baik guru maupun dosen tentu sudah mengalami bahwa bukan hal yang mudah menyusun silabus. Penyusunan silabus itu rumit dan penuh konsekuensi. Disamping menuliskannya, mencari buku-bukunya, mempraktekannya hingga mengevaluasinya. Pernyataan ini langsung dibenarkan oleh ratusan peserta sosialisasi dari kalangan guru Lembaga Maarif NU tersebut.

Apalagi dalam Kurikulum 2013, buku-buku untuk pegangan guru maupun untuk peserta didik juga akan disediakan Kemdikbud. "Kedepan para guru tak perlu repot-repot mencari buku. Hanya tinggal mengajar saja. Karena itulah Kurikulum 2013 akan meningkatkan efektivitas pembelajaran," paparnya.

Kepemimpinan Kepala Sekolah di Era Desentralisasi

Dewasa ini terjadi perubahan dalam sistem pengelolaan sekolah, termasuk sekolah dasar. Sejak diberlakukannya otonomi daerah, terjadi desentralisasi pendidikan, yaitu adanya pelimpahan sebagian kewenangan pemerintah pusat ke daerah, termasuk kewenangan dalam pengelolaan pendidikan. Salah satu pendekatan pengelolaan pendidikan yang diterapkan adalah pendekatan pengelolaan pendidikan berdasarkan sekolah, yang dikenal dengan istilah school based management atau manajemen berbasis sekolah.
Manajemen berbasis sekolah merupakan salah satu pendekatan yang digunakan dalam manajemen sekolah. Manajemen berbasis sekolah merupakan terjemahan dari istilah school based management, yang pada dasarnya merupakan pemberian kesempatan yang lebih luas kepada sekolah dalam pengelolaan sekolah. Sekolah diberikan kewenangan yang lebih besar untuk mengelola sekolah secara mandiri sesuai dengan kondisi sekolah. Kegiatan pengelolaan pendidikan, mulai dari perencanaan, pelaksanaan sampai dengan evaluasi banyak ditentukan oleh sekolah. Dengan demikian diharapkan sekolah bisa mampu mengembangkan diri sesuai dengan potensi yang dimiliki sekolah dan tuntutan lingkungan masyarakat.
Berdasarkan pedoman pengelolaan sekolah yang diterbitkan Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah (2002), manajemen berbasis sekolah diartikan sebagai bentuk alternatif pengelolaan sekolah dalam rangka desentralisasi pendidikan, yang ditandai dengan adanya kewenangan pengambilan keputusan yang lebih luas di tingkat sekolah, partisipasi masyarakat yang relatif tinggi, dalam kerangka kebijakan pendidikan nasional. Keleluasaan pengambilan keputusan di tingkat sekolah dimaksudkan agar sekolah dapat mengoptimalkan pengelolaan sumber daya dengan mengalokasikan sesuai dengan prioritas program serta lebih tanggap terhadap kebutuhan masyarakat setempat yang ditunjang dengan sistem pengelolaan yang baik.
Di beberapa negara, manajemen berbasis sekolah (school based management)dikemukakan dengan beberapa istilah, antara lain site based management, delegated management, community based management, school otonomy atau local management of school. Meskipun sebutannya berbeda, tetapi sasarannya sama, yaitu memberikan keleluasaan kepada sekolah untuk mengelola sekolah secara mandiri. Pada prinsipnya, sekolah memperoleh kewenangan (authority), kewajiban (responsibility) dan tanggung jawab (accountability) dalam pengelolaan sekolah. Melalui manajemen berbasis sekolah tersebut diharapkan bisa memberikan layanan pendidikan yang menyeluruh dan tanggap terhadap kebutuhan masyarakat.
Secara umum, tujuan manajemen berbasis sekolah (school based management) ditujukan untuk meningkatkan efisiensi, kualitas dan pemerataan pendidikan. Peningkatan efisiensi diperoleh melalui beberapa cara, antara lain melalui keleluasaan mengelola sumber daya atau penyederhanaan birokrasi. Peningkatan kualitas dilakukan melalui peningkatan partisipasi orang tua siswa terhadap sekolah, fleksibilitas pengelolaan sekolah dan peningkatan profesionalisme personil sekolah. Sedangkan peningkatan pemerataan pendidikan diperoleh melalui peningkatan partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah.
Secara khusus, manajemen berbasis sekolah diarahkan untuk meningkatkan mutu pendidikan. Dalam panduan pengelolaan sekolah, manajemen berbasis sekolah ditekankan pada manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah (school based quality improvement). Manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah pada dasarnya merupakan proses manajemen sekolah yang diarahkan untuk peningkatan mutu pendidikan melalui pelaksanaan otonomi sekolah mulai dari perencanaan, pelaksanaan sampai dengan evaluasi sesuai dengan kebutuhan dan kondisi sekolah dengan melibatkan semua stakeholder sekolah. Dengan kata lain, manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah adalah keseluruhan proses pendayagunaan keseluruhan komponen pendidikan dalam rangka peningkatan mutu pendidikan yang diupaya-kan sendiri oleh kepala sekolah bersama semua pihak yang terkait atau yang berkepentingan dengan mutu pendidikan. Istilah komponen mengacu pada bidang garapan pendidikan di sekolah, antara lain kurikulum dan pembelajar-an, kesiswaan, kepegawaian, sarana dan prasarana, dan keuangan. Sedangkan istilah dikelola sendiri mengacu pada diatur sendiri (self managing), dirancang sendiri (self design) atau direncanakan sendiri (self planning), diorganisasi sendiri (self organizing), diarahkan sendiri (self direction) atau dikontrol/ dievaluasi sendiri (self control).
Ada beberapa karakteristik manajemen berbasis sekolah. Secara garis besar, karakteristik umum manajemen berbasis sekolah tersebut meliputi:
  • (a) adanya akses terbuka bagi sekolah untuk tumbuh mandiri,
  • (b) adanya kemi-traan yang erat antara sekolah dengan masyarakat sekitar, 
  • (c) adanya sistem disentralisasi, 
  • (d) pengelolaan sekolah secara partisipatif, 
  • (e) pemberdayaan guru secara optimal, 
  • (f) diterapkannya otonomi manajemen sekolah, 
  • (g) orientasi pada peningkatan mutu, dan 
  • (i) menekankan pada pengambilan keputusan partisipatif (Depdiknas, 2003).
Di sisi lain, Levacic mengemukakan tiga karakteristik kunci manajemen berbasis sekolah, yaitu:
  • (1) kekuasaan dan tanggung jawab dalam pengambilan keputusan peningkatan mutu pendidikan didesentralisasikan ke stakeholder sekolah,
  • (2) domain manajemen peningkatan mutu pendidikan yang didesentralisasikan mencakup keseluruhan aspek peningkatan mutu pendidikan, baik keuangan, kepegawaian, sarana prasarana, penerimaan siswa baru, dan kurikulum, dan
  • (3) walaupun domain peningkatan mutu pendidikan didesentralisasikan ke sekolah, namun diperlukan adanya sejumlah regulasi yang mengatur fungsi kontrol pusat terhadap keseluruhan pelaksanaan kewenangan dan tanggung jawab sekolah (Bafadal dan Imron, 2004).
Secara lebih khusus, Levacic juga mengidentifikasi bahwa ada tiga tujuan khusus manajemen berbasis sekolah, yaitu mencapai efisiensi, keefektifan dan tanggung jawab pendidikan. Melalui manajemen berbasis sekolah, proses peningkatan mutu akan berlangsung secara efisien, terutama dalam penggunaan sumber daya manusia. Dengan manajemen berbasis sekolah, keefektifan peningkatan mutu pendidikan dasar juga meningkat, melalui peningkatan kualitas pembelajaran. Dengan manajemen berbasis sekolah, respon sekolah juga bertambah besar terhadap siswa.
Secara singkat, dapat dikemukakan bahwa manajemen berbasis sekolah diarahkan untuk memandirikan atau memberdayakan sekolah melalui pemberian wewenang dan keluwesan untukpeningkatan mutu pendidikan. Dengan kemandirian diharapkan:
  • (1) sekolah bisa lebih mengetahui kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman bagi dirinya, serta mampu mengoptimalkan sumber daya yang tersedia untuk memajukan sekolah, 
  • (2) sekolah dapat mengembangkan sendiri program-programnya sesuai dengan kebutuhannya, 
  • (3) sekolah dapat bertanggungjawab tentang mutu pendidikan kepada orang tua, masyarakat maupun pemerintah, serta 
  • (4) sekolah dapat melakukan persaingan secara sehat dengan sekolah lain untuk meningkatkan mutu pendidikan.
Ada beberapa prinsip yang perlu dipegang dalam melaksanakan manajemen berbasis sekolah. Prinsip-prinsip tersebut adalah:
  • (1) Keterbukaan, artinya manajemen berbasis sekolah dilakukan secara terbuka dengan semua sumber daya yang ada, baik kepala sekolah, guru, siswa, orang tua siswa, maupun masyarakat, 
  • (2) Kebersamaan, artinya manajemen berbasis sekolah dilakukan bersama oleh sekolah dan masyarakat, 
  • (3) Berkelanjutan, artinya manajemen berbasis sekolah dilakukan secara berkelanjutan tanpa dipengaruhi pergantian pimpinan sekolah, 
  • (4) Menyeluruh, artinya manajemen berbasis sekolah yang disusun hendaknya mencakup semua komponen yang mempengaruhi keberhasilan pencapaian tujuan, 
  • (5) Pertanggungjawaban, artinya pelaksanaan manajemen berbasis sekolah dapat dipertanggungjawabkan ke masyarakat dan pihak-pihak yang berkepentingan, 
  • (6) Demokratis, artinya keputusan yang diambil dalam manajemen berbasis sekolah hendaknya dilaksanakan atas dasar musyawarah antara komponen sekolah dan masyarakat, 
  • (7) Kemandirian sekolah, artinya sekolah memiliki prakarsa, inisiatif, dan inovatif dalam kerangka pencapaian tujuan pendidikan, 
  • (8) Berorientasi pada mutu, artinya berbagai upaya yang dilakukan selalu didasarkan pada peningkatan mutu, 
  • (9) Pencapaian standar pelayanan minimal, artinya layanan pendidikan minimal harus bisa dilaksanakan sesuai dengan standar minimal secara total, bertahap dan berkelanjutan, dan 
  • (10) Pendidikan untuk semua, artinya semua anak memperoleh pendidikan yang sama. Dalam mengelola sekolah, kepala sekolah dasar harus melaksanakan prinsip-prinsip tersebut dengan baik.
Berdasarkan landasan tersebut, secara garis besar dapat disimpulkan bahwa terdapat pergeseran peranan dalam pengelolaan pendidikan, dari asas sentralisasi ke desentralisasi. Adanya kemandirian, keterbukaan, partisipatif, dan pertanggung-jawaban menunjukkan pengelolaan sekolah secara mandiri berdasarkan kemampuan yang dimiliki sekolah. Adapun bidang yang menjadi wewenang sekolah mencakup proses belajar mengajar, perencanaan, evaluasi program sekolah, pengelolaan kurikulum, pengelolaan ketenagaan, pengelolaan peralatan dan perlengkapan sekolah, pengelolaan keuangan, pelayanan siswa, hubungan sekolah dengan masyarakat, dan pengelolaan iklim sekolah (Depdiknas, 2003).
Konsekuensi dari adanya school based management tersebut, tugas dan tanggung jawab kepala sekolah menjadi semakin besar. Kepala sekolah harus bisa memimpin dan memberdayakan semua sumber daya sekolah. Kepala sekolah merupakan motor penggerak dan penentu arah kebijakan sekolah. Untuk itu, kepemimpinan kepala sekolah dasar harus mampu memberdayakan guru-guru untuk melaksanakan proses pembelajaran yang baik, lancar dan produktif, menyelesaikan tugas sesuai dengan waktu yang ditetapkan, menjalin hubungan yang harmonis dengan masyarakat agar bisa terlibat aktif dalam mewujudkan tujuan sekolah, bekerja sama dengan tim secara kooperatif, dan berhasil mewujudkan tujuan sekolah secara produktif sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan.

Senin, 20 Januari 2014

Tips Melatih Anak Cerdas Emosi

1. Ajar anak mengubah tuntutan menjadi pilihan. Katakan padanya tidak ada alasan keinginannya harus selalu dipenuhi dan marah-marah. Beri anak pujian bila ia dapat mengendalikan kemarahannya.
2. Latih anak untuk menyatakan kebutuhan secara asertif (tegas), tetapi tidak ada jaminan ia akan mendapatkannya.
3. Biarkan anak mengungkapkan dan bertanggung jawab atas setiap perasaan yang dialaminya. Dengan begini ia juga bertanggung jawab atas perasaan orang lain. Hindari menyalahkan anak saat Anda sendiri marah.
4. Dorong anak untuk mengembangkan hobi dan minatnya yang dapat memberinya waktu luang dan kemandirian.
5. Biarkan anak menyelesaikan sendiri pertikaian antara dia dengan saudara atau temannya.
6. Bantu anak bertoleransi terhadap gangguan orang lain. Ajarkan pula bagaimana menghindari gangguan, misalnya diolok-olok. Ajarkan anak membalas olok-olok dengan kata-kata yang baik,"Olok-olok enggak bikin sakit tuh."
7. Bantu anak untuk memperhatikan kekuatannya dengan menekankan hal-hal yang dapat ia lakukan.
8. Dorong anak berperilaku seperti yang ia ingin orang lain lakukan terhadap dirinya.
9. Bantu anak berpikir alternatif serta melihat berbagai kemungkinan ketimbang bergantung pada satu pilihan. Misalnya, anak hanya punya seorang teman. Saat temannya itu tidak ada, ajarkan anak mencari teman lain, jangan hanya merasa ia tak punya teman.

Tertawa Bersama
Doronglah anak dapat mentertawakan dirinya sendiri. Orang yang terlalu serius terhadap dirinya sendiri sulit menikmati hidup. Sense of humor yang baik dan kemampuan melihat sisi terang kehidupan, penting untuk meningkatkan kegembiraan.

Menurut Jhon Gottman, ada 5 langkah penting bagi orang tua dalam melatih emosi anak.

1. Menyadari emosi anak : Ketika anak menangis, marah, senang, orang tua perlu menyadari bahwa anak juga memiliki perasaan untuk di sayang, diakui, tidak baik bagi orang tua misalkan memarahi anak pada saat anak menangis, hendaknya orang tua mengetahui apa yang sedang di alami oleh si kecil.
2. Mengakui emosi anak : Terkadang orang tua egois, tidak mau tahu mengenai keinginan anak, orang tua lebih peduli pada apa yang ada di pikirannya, sehingga tidak mengakui kalau anak sedang marah, senang.
3. Mendengarkan dengan empati dan meneguhkan perasaan anak : Hal yang paling berbahaya bagi orang tua adalah pada saat orang tua tidak mau mendengar atau tidak mau tahu mengenai masalah yang dihadapi oleh anak, orang tua cenderung memarahi tanpa memiliki empati terhadap anak, apalagi memberikan dukungan / support dengan kata-kata yang dapat meneguhkan emosi anak.
4. Membantu anak melabeli emosi : Penting bagi orang tua adalah membantu untuk melabeli emosi, hal ini agar emosi anak dapat di curahkan/ ditempatkan pada tempat yang tepat, anak diajarkan untuk mengatur control emosinya.
5. Menentukan batas-batas sambil membantu anak memecahkan masalah : Yang tidak kalah penting sebagai orang tua adalah, membantu anak dalam memecahkan masalahnya, namun bukan berarti semua masalah si anak di selesaikan tanpa melibatkan anak tersebut, karena jika tanpa melibatkan anak, maka hal itu akan memberikan pengaruh pada saat anak dewasa nanti tidak bisa memecahkan masalah yang dihadapinya.