Minggu, 19 Januari 2014

Model Sekolah Islam yang Efektif dan Bermutu

Pendidikan merupakan sebuah proses pemberdayaan manusia untuk membangun suatu peradaban yang bermuara pada wujudnya suatu tatanan masyarakat yang sejahtera lahir dan bathin. Allah SWT sebagai Pencipta memberdayakan adam as (manusia pertama) dengan proses pendidikan. Islam sendiri memulai proses membangun kembali peradaban manusia yang telah porak poranda (kala itu) dengan mengibarkan panji-panji wahyu pertamanya yang sarat akan nilai-nilai pendidikan. Sistem dan metode yang amat menentukan kualitas hidup manusia secara utuh (ruhiyah, jasadiyah dan aqliyah) dalam segala bidang adalah pendidikan. Akibatnya dalam sepanjang sejarah kehidupan umat manusia, amat sulit ditemukan kelompok manusia yang tidak menggunaka pendidikan sebagai sarana pembudayaan dan peningkatan kualitasnya. Bahkan pendidikan juga dijadikan sarana penerapan suatu pandangan hidup. Pepatah Arab bahkan menegaskan: adabulmar’I khoirun min dzahabihi (pendidikan lebih berharga bagi manusia ketimbang emasnya).

Pendidikan memikul beban amanah yang sangat berat, yakni memberdayakan potensi fitrah manusia yang condong kepada nilai-nilai kebenaran dan kebajikan agar ia dapat memfungsikan dirinya sebagai hamba, yang siap menjalankan risalah yang dibebankan kepadanya yakni “khilafah fil ardl”. Oleh karena itu pendidikan berarti merupakan suatu proses membina seluruh potensi manusia sebagai: makhluq yang: beriman, berfikir, dan berkarya untuk kemaslahatan diri dan lingkungannya. Membangun sekolah berkualitas berarti menyelenggarakan proses pendidikan yang membentuk kepribadian peserta didik agar sesuai dengan fitrahnya.

Memberdayakan potensi fitrah manusia haruslah berkesesuaian dengan nilai-nilai yang mendasari fitrah itu sendiri, yakni nilai-nilai robbani yang bersumber kepada Rob yang menciptakan manusia itu sendiri, sebagai zat yang maha mengetahui akan segala sifat dan tabiat manusia. Dengan mengacu pada nilai-nilai tersebut, maka dengan sendirinya proses pendidikan niscaya akan memperhatikan azas-azas fisiologis, psikologis dan paedagogis yang melekat erat sebagai sunnatulkaun pada pertumbuhan dan perkmbangan manusia, juga memperhatikan situasi dan kondisi zaman di mana peserta didik menjalankan kehidupannya kelak.

Membangun suatu institusi pendidikan berarti mengambil peran dan tanggung jawab yang besar terhadap proses pembentukan kepribadian anak, karena di lembaga pendidikan itulah anak akan mendapatkan sebagian besar faktor-faktor penentu bentukan kepribadiannya, terutama dalam domain kognitif, afektif dan konatif, yang sering pula diterjemahkan menjadi pengetahuan, sikap dan perilaku. Kepribadian yang baik akan tumbuh pada anak manakala seluruh faktor eksternal yang mempengaruhi proses pembentukannya dapat berinteraksi dengan sistem fisiopsikologis peserta didik secara sehat, proporsional dan memunculkan pengalaman belajar yang menyenangkan serta membangkitkan motivasi.

Islam sebagai agama yang sempurna telah memberikan pijakan yang jelas tentang tujuan dan hakikat pendidikan, yakni memberdayakan potensi fitrah manusia yang condong kepada nilai-nilai kebenaran dan kebajikan agar ia dapat memfungsikan dirinya sebagai hamba (QS AsSyams:8, Adz Dzariyat: 56), yang siap menjalankan risalah yang dibebankan kepadanya sebagai khalifah di muka bumi (QS 2:30/ 33: 72 ) Oleh karena itu pendidikan berarti merupakan suatu proses membina seluruh potensi manusia sebagai makhluk yang beriman dan bertaqwa, berfikir, dan berkarya, sehat, kuat dan berketerampilan tinggi untuk kemaslahatan diri dan lingkungannya.

Allah telah membekali manusia dengan kemampuan untuk belajar dan mengetahui, sebagaimana firman Allah;

“Bacalah dengan menyebut nama Rabbmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Rabbmulah yang paling pemurah. Yang mengajakan manusia dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya".(QS Al ‘Alaq 1-5)

Allah juga telah menganugrahi manusia berbagai sarana untuk belajar, seperti penglihatan, pendengaran dan hati, sebagaimana firman Allah … “ dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati agar kamu bersyukur.” (An-Nahl : 78)

Al Maududi, mengatakan; “Pendengaran merupakan pemeliharaan pengetahuan yang diperoleh dari orang lain. Penglihatan merupakan pengembangan pengetahuan dengan hasil observasi dan penelitian yang berkaitan dengannya. Hati merupakan sarana membersihkan ilmu pengetahuan dari kotoran dan noda sehingga lahirlah ilmu pengetahuan yang murni. Jika ketiga pengetahuan itu dipadukan, maka terciptalah ilmu pengetahuan yang sesuai dengan apa yang dikaruniakan Allah kepada manusia yang hanya dengan pengetahuan itulah manusia mampu mengatasi dan menundukkan makhluk lain agar tunduk pada kehendaknya”.

Sarana lain yang dimiliki manusia adalah bahasa, kemampuan untuk mengeluarkan gagasan dan kemampuan untuk menulis. Keberadaan sarana pendidikan tersebut, Allah tegaskan dalam firmannya:

Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata, lidah dan bibir?” (Al-Balad 8-9)
“Allah yang Maha Pemurah. Yang telah mengajarkan Alquran. Dia menciptakan manusia, mengajarnya pandai berbicara.” (Ar-rahman : 1-4)
“Nun, demi kalam dan apa yang mereka tulis”. (Al-Qalam)

Melalui berfikir dan belajar, diharapkan, manusia mampu mempelajari dan memahami ayat-ayat Allah, baik ayat qauliyah maupun ayat kauniyah. Mempelajari ayat qauliyah berarti memahami syariat-syariat Allah, sebagaimana dalam firmannya;

“Ya Rabb kami, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab (Alquran) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta menyucikan mereka. Seungguhnya, Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha bijaksana. (Al-Baqarah : 129)

Demikian pula mempelajari ayat-ayat kauniyah, berarti memahami ciptaan Allah yang terhampar di alam semesta. Sebagaimana firman Allah;

“Dan juga pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tiada memperhatikan”. (Adz-Dzariyat : 21)
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. Yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata) : “Ya Rabb kami, tiadalah, Maha suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa api neraka.”( Surat Ali Imon: 190 –191)

Allah telah menciptakan pendengaran, penglihatan, dan hati sebagai sarana untuk merenung, tafakur, berfikir jernih, serta meneliti alam semesta. Kemudian dengan akal dan hati, manusia mengolah alam ini untuk dijadikan sesuatu yang bermanfaat begi kehidupan.

Kita dididik secara ilmiyah melalui berfikir, observasi, diskusi, hingga penyimpulan. Sampai akhirnya kita dapat meraih ilmu pegetahuan dan menghasilkan sesuatu. Atas pendengaran, penglihatan, hati dan seluruh anggota tubuh yang diberikan Allah, manusia bertanggung jawab untuk memanfaatkan semuanya dalam jalan kebaikan. Allah berfirman;

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawaban. (Al-Isra : 36)

Rasa tanggung jawab itu akan terpelihara di dalam diri manusia yang sadar, selalu ingat, adil, jauh dari penyelewengan, tidak tunduk pada hawa nafsu, jauh dari kedzaliman dan kesesatan serta istiqomah dalam segala prilaku. Rasulullah saw mengatakan bahwa manusia itu bertanggung jawab atas harta, umur dan kemudaannya lewat sabdanya;

“Tidaklah beranjak kaki seorang hamba pada hari kiamat sebelum diminta pertanggungjawaban empat hal ini: tentang usia untuk apa dihabiskan usia itu; tentang ilmu pengetahuan, diamalkan untuk apa ilmunya itu; tentang harta, diperoleh dari mana dan dibelanjakan untuk apa hartanya itu; dan tentang tubuhnya, dilusuhkan untuk apa tubuhnya.” (HR. Tirmidzi)

Seluruh tugas manusia dalam hidup ini, berakumulasi pada tanggung jawabnya untuk beribadah dan mengesakan Allah, sebagaimana Allah berfirman; “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. “ ( Adzariat ayat 56)

Melalui penciptaan alam semesta, Al-Quran telah memberikan arahan pendidikan bagi manusia dengan dua prinsip ilmiyah yang melengkapi aspek pasivisme, finalitas dan logika. Dua prinsip itu adalah :

Pertama, berulangnya berbagai kejadian semesta melalui sunnah yang ditetapkan Allah. Dia yang Maha Agung dan Maha tinggi berkuasa mengubah itu jika Dia menghendaki. Prinsip itu merupakan landasan dalam berfikir ilmiyah, dimana dengan landasan itu pula menusia bereksploitasi dan berkreasi dalam segala penomena peradaban. Allah berfirman ;

“Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda, lalu Kami hapuskan tanda malam dan Kami jadikan tanda siang itu terang, agar kamu mencari karunia dari Rabbmu, dan supaya kamu mengetahui bilangan tahun-tahun dan perhitungan. Dan segala sesuatu telah terangkan dengan jelas.”(Al Isra: 12)

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. Yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata) : “Ya Rabb kami, tiadalah, Maha suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa api neraka.”( Surat Ali Imon: 190 –191

Kedua, sesungguhnya sunnah-sunnah semesta dengan segala kejadian, fenomena, dan wujudnya, mulai dari yang berupa atom hingga yang terbesar, merupakan ciptaan Allah yang diturunkan sesuai dengan kadanya, tidak lebih dan tidak kurang. Prinsip inilah yang menunjukkan logika yang ilmiyah, yaitu melakukan observasi ilmiyah berdasarkan analogi kuantitatif, bukan berdasarkan deskripsi kualitatif. Hal ini seperti dalam firman Allah;

Dan kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran. Dan Kami telah menjadikan untukmu di bumi keperluan-keperluan hidup, dan kami telah menciptakan pula mahkluq-makhluq yang kamu sekali-sekali bukan pemberi rizki kepadanya. Dan tidak ada sesuatupun melalinkan pada sisi Kamilah khazanahnya; Dan Kami tidak menurukannya melaikan dengan ukuran tertentu. (Al Hijr : 19 – 21)

Pemaparan Alquran tentang manusia dan alam semesta di atas, semakin mengokohkan akan urgensi pendidikan yang integral bagi manusia. Pendidikan yang mampu mengoptimalkan semua potensi manusia sehingga mampu menjalankan misinya untuk meraih sukses dunia dan akhirat. Selanjutnya Alquran mengarahkan manusia untuk menata kehidupannya dengan pendidikan yang baik. Allah membimbing menausia untuk senantiasa berdo’a memohon ditambahkan ilmu pengetahuan. Hal agar manusi selalu ingat bahwa yang memiliki perbendaharaan ilmu pengetahuan hanyalah llah swt. “Dan katakanlah: Ya Rabbku tambahkan bagiku ilmu pengetahuan. “(Surat Toha : 114) Allah juga mendorong menusia untuk terus meningkatkan penguasaan ilmu pengetahuan dengan perintah belajar dan mengajar, seperti dalam firmaNya, “Tidaklah sepantasnya orang-orang mukmin itu berangkat semuanya. Mengapa tidak pergi dari tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama, dan supaya mereka memberikan peringatan kepada kaumnya apabila telah kembali kepada mereka. Mudah-mudahan mereka dapat menjaga diri. “(Surat At-taubah : 122)

Pendidikan sangat berperan dalam estafeta generasi menuju genarasi yang lebih baik. Hal ini Allah pesankan kepada umat manusia untuk memperhatikan generasi dengan mendidik mereka mel;alui pendidikan yang lebih baik dari sebelumnya. Allah berfirman; “ Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang sekiranya meninggalkan anak-anak yang lemah-lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahtraan) mereka, maka hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar. “(Surat An-Nisa : 9)

Islam sangat menekankan pentingnya menuntut ilmu. Hanya dengan ilmu, kita akan dapat meraih kejayaan dan derajat: ”Allah mengangkat orang-orang yang beriman dan berilmu pengetahuan beberapa derajat” (QS AlMujadilah: 11). RasuluLlah SAW telah memberi khabar kepada kita bagaimana penting dan mulianya orang-orang yang menimba ilmu pengetahuan:
  • Barangsiapa yang dikehendaki Allah dengan kebaikan maka Allah menjadikannya ia pandai mengenai agama dan ia ilhami petunjuk-Nya. (HR. Muttafaq alaih)Sesungguhnya hikmah (ilmu) itu menambah orang yang mulia akan kemuliaan dan mengangkat hamba sahaya sehingga ia mencapai capaian raja-raja. (HR. Abu Nuaim)
  • Seutama-utama manusia adalah orang mu’min yang ‘alim yang jika ia dibutuhkan maka ia berguna, dan jika ia tidak dibutuhkan maka ia mencukupkan dirinya
  • Barangsiapa yang berjalan disuatu jalan untuk menuntut ilmu pengetahuan, Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga.” (HRMuslim)
  • Barangsiapa yang berjalan disuatu jalan untuk menuntut ilmu pengetahuan, Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga. Dan para Malaikat selalu meletakkan sayapnya menaungi para pelajar karena senang dengan perbuatan mereka. Dan seorang alim dimintakan ampun oleh penduduk langit dan bumi dan ikan-ikan di dalam air. Kelebihan seorang alim atas orang ahli ibadat bagaikan kelebihan sinar bulan atas lain-lain bintang. Dan sesungguhnya ulama (guru-guru) sebagai pewaris dari nabi-nabi. Sesungguhnya Nabi tidak mewariskan dinar dan dirham hanya mereka mewariskan llmu agama, maka siapa yang telah mendapatkannya berarti telah mengambil bagiannya yang besar.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)
  • Demi Allah, kalau Allah memberi hidayat kepada seseorang karena ajaranmu, maka yang demikian itu bagimu lebih baik dari kekayaan binatang ternak yang merah-merah.” (HR. Bukhari Muslim)
  • Sesungguhnya Allah tidak mengutus diriku sebagai orang yang menyusahkan, tidak pula sebagai orang yang keras kepala, tetapi Dia mengutus diriku sebagai pendidik yang memudahkan. (HR. Ahmad dan Nasai)
  • “Sesungguhnya Allah, para Malaikat, para penghuni langit dan bumi sampai semut yang ada di dalam lubangnya dan ikan-ikan yang ada dalam air selalu menyampaikan shalawat kepada orang yang mengajarkan kebaikan terhadap manusia (HR. Tirmidzi)
Pengertian Pendidikan Islam
Secara etimologi, kata pendidikan dalam bahsa arab berasal dari kata “tarbiyah”. Tarbiyah berasal dari asal suku kata roba – yarbu yang berarti penambahan, pertumbuhan, pemeliharaan dan penjagaan. Az-Zamakhsyari menambahkan makna kata tersebut dengan “pengajaran” dan “kedudukan tinggi”. Sedangkan Majduddin menambahkan makna lain, yakni memberi makan dan kemuliaan. Dalam Alquran terdapat ayat-ayat yang mengunakan kata tarbiyah seperti dalam ayat:

"Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkan:”Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku diwaktu kecil" (QS:17:24)

Alquran sering menggunakan kata lain untuk tarbiyah seperti tilawah (membaca), tazkiyah (pensucian jiwa), ta’lim (pengajaran), dan tathhir (pensucian). Seperti yang terdapat dalam surat 26: 18, surat 2:151

Sedangkan menurut istilah ‘Pendidikan’ diartikan sebagaimana pendapat bebarapa ulama di bawah ini:

Al-Qadhi Al-Baidhowi, mengartikan pendidikan (tarbiyah) sebagai “membawa sesuatu ke arah kesempurnaan secara bertahap.”. Definisi ini amat umum karena mencakup pendidikan manusia, pemeliharaan binatang, tumbuh-tumbuhan dan lain-lain. Definisi ini tadak diwarnai dengan corak Islam.

Ibnu Sina mengartikan tarbiyah sebagai pembiasaan. Yang dimaksud dengan pembiasaan adalah melakukan sesuatu berulang-ulang dalam masa yang lama dan dalam waktu yang berdekatan. Definisi ini telah menyempitkan bidang tarbiyah pada satu sisi saja yaitu “pemiasaan”.

Dr. Miqdad Yaljan, mengklasifikasikan pengertian pendidikan (tarbiyah) islamiyah sebagai berikut;
  1. Kurikulum materi-materi keislaman di sekolah atau madrasah
  2. Sejarah pendidikan, sejarah lembaga pendidikan atau sejarah tokoh-tokoh pendidikan di negara Islam
  3. Pengajaran ilmu-ilmu keislaman
  4. Sistem pendidikan integral yang diambil dari arahan dan ajaran Islam yang murni, serta berbeda dengan pendidikan lain baik Barat ataupun Timur.
Rif’ah Rafi’ Ath-Thathwi mendefinisikan pendidikan sebagai usaha mengembangkan jasmani dan jiwa anak didik semenjak lahir sampai tua dengan pengetahuan dan agama dan dunia. Sementara itu Prof. DR. Abdul Gani Abud berpendapat bahwa Pendidikan Islam yang kita inginkan adalah sebagaimana pendidikan yag ideal dan sebagaimana seharusnya, yakni pendidikan Islam yang tujuan dan dasar-dasarnya berdasarkan kepada ruh Islam yang dituangkan Allah dalam Alquran dan dicontohkan Rasul dalam hadits. Jadi yang kita inginkan itu adalah pendidikan yang berada dalam lingkungan kehidupan yang penuh dengan suasana yang islami seperti yang digariskan dalam Alquran dan hadits Rasulullah saw. Pertumbuhan anak-anak muslim berada dala suasana khusus ini.

Abdullah Nasih ‘Ulwan membagi dalam delapan Bidang Garapan Pendidikan Islam yaitu;
1. Pendidikan Jasadi, dengan rambu-rambu sebagai berikut;
  • Mengembangkan semua potensi jasmani secara sehat dalam rangka membentuk kepribadian yang integral, seimbang dan berkualitas ‘abidlillah
  • Menyiapkan mukmin yang kuat dan siap berjuang mempertahankan agama Allah
  • Memperhatikan aspek kesehatan jasmani, seperti menjaga kebersihan, menjaga diri dari berbagai penyakit
2. Pendidikan akal, Dengan rambu-rambu;
  • Menumbuhkan pikiran peserta didik agar menjadi insan abid yang shaleh
  • Menggunakan perasaan dalam mengembangkan aspek fikiran
  • Mengembangkan akan manusia dan berbagai potensinya lewat eksperimen ilmiyah
  • Memberi kesempatan akal untuk berlatih menganalisa dari peristiwa-peristiwa yang menimpa ummat terdahulu dan sekarang untuk dijadikan pelajaran bagi kehidupan masa depan
  • Memperhatikan pendidikan bashiroh lewat ketaqwaan.
  • Semua sasaran tersebut harus komitmen dengan etika penelitian ilmiyah dan akhlaq Islam
3. Pendidikan aqidah, dengan rambu-rambu;
  • Membentuk kecintaan kepada aqidah
  • Menyampaikan berbagai macam bukti kebenaran aqidah yang bisa melehirkan keimanan kepada Allah swt.
  • Membentuk prilaku anak didik untuk menerapkan aqidah Islamiyah dalam kehidupan.
4. Pendidikan akhlaq dengan rambu-rambu;
  • Mengembangangkan aspek fitrah yang ada pada menusia ke arah kebaikan dengan cara menimani akhlaq-akhlaq Alquran.
  • Memberi bekal pengetahuan dan menumbuhkan kehendak manusia untuk senantiasa memilih yang hak dan yang baik.
  • Memaparkan semua akhlaq Alquran secara integral dan menyeluruh disesuaikan dengan situasi dan kondisi.
  • Akhlaq ditanamkan dengan cara praktek lewat lembaga-lembaga sosial, ibadat, qudwah dan latihan..
  • Akhlaq ditanamkan lewat semua aspek aspek yang ada pada manusia baik psikis, intelektual dan lainnya.
5. Pendidikan Kejiwaan dengan rambu-rambu;
  • Mengembangkan watak manusia secara utuh
  • Mmengendalikan kehendak manusia dengan memberikan segala kebutuhan
  • Menanamkan rasa cinta, harapan dan sikap optimis sehingga manusia terlepas dari setres dan penyakit kejiwaan
  • Mendorong agar beramal dan belajar dengan tekun.
6. Pendidikan keindahan (estetika) dengan rambu-rambu;
  • Melalui Alquran menumbuhkan rasa keindahan dengan cara mempelajarinya, mengajarkannya dan menghafalnya
  • Melalui alam dan beberapa peristiwanya baik yang dipaparkan Alquran maupun kehidupan nyata
  • Memahami hubungan antara makhluk
  • Membedakan bebrbagai macam bentuk ukuran, warna, rasa dan bau dan apa yang didengar
  • Menggunkan semua potensi agar menjadi seorang seniman
7. Pendidikan Kemasyarakatan dengan cara;
  • Memperhatikan keluaraga dan ibu
  • Memperhatikan masa kanak-kanak dan masa remaja
  • Membentuk kesadaran ekonomi sehingga menjadi manusia produktif
  • Menanamkan kesadaran politik
  • Membentuk wawasan internasional
  • Pendidikan Peran Jinsiyah (Menyadarkan peran, status dan adab jinsiyah)
8. Pendidikan ‘Amaliyah (melatih keterampilan dan kecakapan)
  • Keterampilan manajemen bisnis & wirausaha
  • keterampilan riset ilmiyah
  • keterampilan mekanik, elektronik & komputer
  • keterampilan kepanduan
  • keterampilan pertukangan, pertanian & perkebunan
Dengan demikian dapatlah kita tarik satu ‘benang hijau’, bahwa pendidikan yang dikehendaki oleh Islam adalah pendidikan yang bertujuan mengembangkan seluruh potensi peserta didik agar ia dapat berperan dan memfungsikan dirinya menjadi ‘hamba Allah’ yang sejati, yaitu hamba yang selalu menunjukkan perilaku positif dan kontributif buat diri dan lingkungannya.

Sekolah sebagai institusi seharusnya mampu memfasilitasi proses pendidikan yang diinginkan oleh Islam. Oleh karena itu sekolah seharusnya juga menjalin kerjasama yang efektif denga fihak lain, terutama: orangtua dan masyarakat dalam upaya mengembangkan proses pendidikan yang benar dan berkualitas.

Sejarah Lembaga Pendidikan Islam
Tanggung jawab utama pendidikan anak ada di tangan kedua orangtuanya. Sebagaimana sabda Rasulullah saw; bahwa “Setiap bayi itu dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kedua orang tuanyalah yang menjadikan dia Yahudi, Nasrani ataupun Majusi.”(HR. ). Ali Ra berkata, “Hati anak yang baru dilahirkan itu seperti tanah kosong. Apapun yang dilemparkan di atasnya akan dia terima.” Abu Bakar bin Arabi juga mengatakan, “Anak-anak adalah fithri, dia menerima ukiran baik dan buruk, namun kedua orang tuanyalah yang akan menggerakkan kepada salah satu ukiran itu. Ibnul Qoyyim Al-Jauziyah menghimbau campur tangan orang tua dalam memberikan pengarahan terhadap perkembangan anak. Karena siapa yang tidak memperhatikan anaknya untuk hal yang bermanfaat berarti ia telah benar-benar menyakiti anaknya.

Salah satu bentuk tanggung jawab orangtua dalam pendidikan putera-puteri mereka adalah dengan memilihkan guru atau lembaga pendidikan (sekolah) yang baik dan terjamin kebaikannya. Dalam sejarahnya, umat Islam sangat memberikan perhatian yang tinggi akan keberadaan lembaga-lembaga pendidikan baik dalam bentuk awalannya berupa majlis-majlis ilmu di mesjid-mesjid, perpustakaan (al Kutab), madrasah-madrasah dan perguruan tinggi dengan fasilitas yang lengkap dan mewah. Pendidikan di Kuttab. Kuttab adalah lembaga pendidikan Islam yang menyempurnakan kewajiban orang tua untuk mendidik anak-anaknya. Yang pertama diajarkan di kuttab ini adalah Al-quran. Hal ini didasarkan pada sabda Rasulullah saw , “Siapa yang membaca Alquran sebelum ia mimpi, sesungguhnya ia telah diberi ilmu pengetahuan selagi anak-anak.” Setelah pelajaran Alquran baru diajarkan membaca, menulis, berhitung dan ilmu pengetahuan lainnya secara bertahap sesuai dengan tingkat kesiapan anak.. Namun pelajaran-pelajaran itu diberikan pada umur yang masih dini. Sebagaiman yang dikatakan Al-Ghazali bahwa, “Belajar diwaktu anak-anak seperti memahat di atas batu.”

Pada masa keemasan Islam: yaitu dimasa pemerintahan Abbasiyah di Baghdad, Fatimiyah di Mesir sampai kepada masa Usmaniyah di Turki kawasan Islam sudah meliputi lautan Atlantik disebelah Barat, perbatasan Cina disebelah Timur dan Asia Tengah disebelah Utara, dan pantai Afrika Tengah di Asia Selatan. Di Eripa Barat Islam berkembang sampai ke pegunungan France dan Galilea d Selatan Perancis yang semuanya tunduk di bawah kekuasaan Islam dan memberi sumbangan pada suatu peradaban yang paling cemerlang yang pernah dikenal didunia ini.

Dalam pada masa-masa itu, ternyata kelembagaan pendidikan mendapat perhatian yang luar biasa dari para pejabat pemerintahan. Bermula dari mesjid sebagai lembaga pendidikan tertua, tersebutlah beberapa mesjid yang terkenal seperti Jami’ Ahmad bin Thoulon yang selesai dibangun pada tahun 256 H, mesjid Al Azhar di Mesir, Masjid Al Manshur di Bagdad pada zaman Harun Al Rasyid, Masjid Al Umayyah di Damaskus yang didirikan oleh Walid Abdul Malik sampai lembaga pendidikan sekolah (madrasah). Madrasah-madrasah tumbuh dan berkembang dengan dukungan dan kebijakan penuh para penguasa saat itu, seperti Madrasah An Nizhomiyah yang didirikan oleh Nizamul Mulk di Baghdad pada tahun 459H, memiliki perpustakaan besar dengan system catalog, Madrasah An Nuriyah di Damaskus yang didirikan oleh Nuruddin Mahmud Zanki yang dilengkapi dengan aneka fasilitas seperti perpustakaan, asrama, rumah para guru. Madrasah Al Muntashiriyah di Baghdad yang didirikan oleh Khalifah Al Muntashir pada abad XII M, dianggap sebagai madrasah terbesar di zamannya. Madrasah ini dilengkapi dengan perpustakaan lengkap dari berbagai cabang ilmu pengetahuan. Seluruh siswa dan guru tinggal di dalam asrama yang di penuhi segala kebutuhan makan, minum dan alat-alat belajarnya secara gratis, bahkan murid mendapat uang saku sebesar satu dinar emas setiap bulannya. Madrasah An-Nashiriyah di Mesir didirikan oleh Sultan Al Adil Zainuddin Katbaga Al Manshuri sekitar tahun 703 H, sebuah madrasah yang bangunannya sangat indah dengan aneka fasilitas dan ruangan untuk mempelajari empat mazhab fiqih dalam Islam.

Perhatian Islam akan pendidikan juga tercermin melalui banyaknya perpustakaan yang dibangun (dawarul kutub). Di Andalusia, misalnya terdapat sekitar 20 perpustakaan umum. Pada sekitar abad X Masehi, perpustakaan itu mempenyai lebih dari 400.000 jilid buku. Perpustakaan Darul Hikmah di Mesir yang didirikan oleh Hakim bi Amrillah pada tahun 395 H memiliki 2 juta jilid buku. Perpustakaan Tripoli di Syiria yang dibumihanguskan oleh tentara Salib mempunyai buku sekitar tiga juta jilid. Perpustakaan Al Hakim di Andalusia menyimpan buku-bukunya di dalam 40 kamar, dan setiap kamar berisi 18.000 jilid. Demikian pula perpustakaan yang didirikan oleh Abud Daulah di sebuah kota besar di sebelaha Selatan Persia memenuhi 360 kamar yang dikelilingi taman-taman yang indah.

Sekolah efektif
Kriteria sekolah efektif menurut hasil analisis yang dilakukan oleh the Connecticut School Effectiveness Project, sebagai berikut:
  1. Lingkungan yang asri, nyaman dan aman yang memunculkan suasana kondusif bagi kegiatan belajar mengajar
  2. Misi sekolah yang jelas dengan komitmen kepada tujuan instruksional, prioritas, prosedur assessment dan akuntabilitas.
  3. Kepemimpinan instruksional di bawah arahan kepala sekolah yang memahami dan menerapkan berdasarkan karakteristik efektifitas instruksional.
  4. Adanya Iklim dimana seluruh staf guru mengharapkan dengan sangat (“high expectation”) akan tuntasnya pencapaian basic skill oleh para murid.
  5. Motivasi mengajar yang tinggi yang dibarengi dengan adanya harapan yang tinggi dari seluruh staf pengajar akan terbentuknya basic skill di kalangan seluruh murid.
  6. Tenaga kependidikan yang “high time on task”: selalu berorientasi kepada penyelesaian tugas, terampil dalam mengelola waktu secara efektif
  7. Supervisi yang efektif kepada seluruh pengajar: upaya memberikan bimbingan, feedback (umpan balik) serta dukungan kepada staf pengajar
  8. Pemantauan yang berkelanjutan terhadap kemajuan prestasi murid, menggunakan hasil belajar murid untuk program pengembangan individual maupun perbaikan program instruksional, serta melakukan proses penilaian yang sistematis.
  9. Hubungan sekolah dan rumah yang positif dimana orangtua memberikan dukungan yang bermakna dan memainkan peranan penting dalam upaya pencapaian misi utama sekolah.
Dengan menegakkan sejumlah criteria di atas, upaya mencapai efektifnya suatu sekolah telah menemukan jalan yang benar (the right track). Tinggal lagi dukungan manajemen yang solid, efektif dan memiliki komitmen yang tinggi. Manajemen yang mampu merencanakan tujuan, program dan langkah-langkahnya secara strategis.

Untuk mengetahui, apakah sebuah sekolah sudah dapat dikatakan efektif, sejumlah studi telah mengembangkan beberapa indicator yang menunjukkan tingkat efektifitas suatu sekolah sebagaimana tersebut di bawah ini:
  1. Kurikulum yang terencana . Kurikulum sudah jelas konstruk, sistematika dan tahapannya, sesuai dengan tingkatan perkembangan anak. Dengan kurikulum yang jelas dan sistematis, guru dapat dengan mudah membuat suatu perencanaan pengajaran yang berorientasi pada suatu pencapaian kompetensi tertentu. Kurikulum terencana juga memudahkan proses evaluasi untuk mengukur sejauhmana keberhasilan proses pengajaran.
  2. Dewan penimbang kurikulum: Adanya penilaian dan pengesahan dari suatu dewan yang beranggotakan para pakar pendidikan, khusunya pakar kurikulum dan psikologi pendidikan. Penilian dan pengesahan kurikulum ini untuk menjaga konsistensi program dan pencapaian prestasi murid. Dengan adanya dewan, tercipta suatu mekanisme kontrol dan pengawasan bersama demi menjaga dan memastikan mutu proses pengajaran. Dewan Penimbang Kurikulum sebaiknya beranggotakan orang-orang yang kompeten dan berasal dari dalam dan luar sekolah, termasuk di dalamnya unsur kepala sekolah/guru, orangtua murid, tokoh masyarakat, ataupun dari kalangan pemerintah.
  3. Persyaratan kelulusan yang ketat. Dengan persyaratan kelulusan yang ketat, akan mendorong murid untuk berupaya mencapainya sehingga berada di atas target minimal. Persyaratan kelulusan yang ketat sekaligus merupakan upaya sekolah untuk mendorong terbentuknya suatu budaya belajar yang kondusif serta system mengajar dan evaluasi yang efektif. Tentu saja persyaratan kelulusan yang ketat bukan hanya melulu dalam domain kognitif, seharusnya aspek sikap dan perilaku juga menjadi target evaluasi.
  4. Kesempatan untuk melampaui target kurikulum. Sekolah yang baik mestinya memberikan fasilitas belajar yang menantang bagi para murid yang hendak melebihi kemampuan dasar. Sekolah hendaknya memfasilitasi kegiatan ekstra kurikulum, baik dalam dimensi vertical maupun horizontal. Dimensi vertical artinya memberi kesempatan kepada murid untuk mempelajari dan menyerap pokok bahasan ataupun kompetensi yang telah ditetapkan oleh sekolah, sedangkan dimensi horizontal memberi banyak pilihan bagi murid untuk mengembangkan minat, bakat dan kecenderungannya dalam bidang: seni, humanities, olahraga, jurnalistik, bahasa asing, pariwisata, craft, dan sebagainya.
  5. Tingkat kehadiran yang tinggi dan angka drop-out yang rendah: Kehadiran yang tinggi mencerminkan tingkat kegairahan dan kedisplinan belajar yang tinggi. Adanya kerinduan bagi murid untuk datang ke sekolah menandakan bahwa sekolah tersebut mampu memberikan kenyamanan dan daya tarik bagi murid. Daya tarik ini dapat muncul dari sisi para guru yang bersahabat dan mampu mengajar dengan baik, fasilitas belajar yang nyaman dan kondusif, atau karena suasana pergaulan antar murid yang solid. Tingkat kehadiran yang tinggi juga memberi gambaran tegaknya aturan dan sangsi yang diterapkan.
  6. Biaya pengeluaran per murid yang tinggi: menandakan besarnya belanja untuk kepentingan belajar murid. Terlepas dari mana sumber dana diperoleh, besarnya alokasi dana yang diperuntukkan bagi penyelenggaraan kegiatan belajar murid sudah barang tentu akan meningkatkan modus dan kualitas aktivitas. Murid akan mendapatkan fasilitas dan program belajar yang kaya. Guru akan mendapatkan banyak kesempatan untuk mengembangkan kreativitasnya, dan murid akan menikmati suasana belajar yang fasilitatif, stimulatif dan atraktif.
  7. Rasio murid:guru yang rendah: kelas dengan jumlah yang kecil umumnya meningkatkan efektifitas disiplin dan mendorong lebih kuat interaksi guru-murid. Kontrol guru terhadap murid menjadi lebih efektif karena rentang kendalinya tidak terlalu lebar. Rasio guru berbanding murid yang ideal berkisar antara 1:20, satu guru untuk 20 orang murid. Di sisi lain, jumlah kecil murid dalam kelas akan meningkatkan soliditas dan kualitas pola hubungan di antara mereka, yang akan membantu dalam menciptakan suasana kekeluargaan yang hangat dan akrab.
  8. Perpustakaan dan program media yang fasilitatif: Buku dan sumber (media) belajar yang tersedia memperluas wawasan serta memudahkan murid dalam memahami, menyukai dan melakukan suatu persoalan. Perpusatakaan merupakan “otak” nya sekolah yang menyimpan jutaan informasi dan pengetahuan. Tentu saja ketersediaan perpustakaan pada sekolah juga dibarengi dengan bagaimana sekolah tersebut mampu memfasilitasi murid dan kegiatan belajarnya dengan program-program yang efektif. Murid menjadi interaktif dengan buku, jurnal, CD-ROM, situs-situs ilmu pengetahuan di internet, klipping, kaset-kaset vide dan audio, dan sebagainya untuk menunjang aktivitas akademik mereka.
  9. Fasilitas dan lingkungan sekolah yang baik: Kebersihan, ketertiban, kerapihan, kenyamanan dan keamanan lingkungan akan meningkatkan gairah aktivitas belajar dan mengajar. Baik guru, murid maupun seluruh karyawan sekolah akan merasa senang, nyaman dan tenteram ketika berada di lingkungan sekolah yang ditumbuhi oleh pepohonan yang ditata asri dalam taman-taman yang indah, security system dan staff yang selalu siap menjaga dan melindungi sekolah, ketersediaan fasilitas umum yang memadai: telpon umum, WC, toilet, tempat sampah, kantin/koperasi, klinik, atau sekedar tempat untuk berteduh bagi orangtua murid maupun tamau-tamu lainnya.
  10. Kompetensi guru yang tinggi: yaitu para guru yang menguasai bidang studi yang diajarkan, sekaligus kemampuan profesionalnya dalam mengajar. Pencapaian target kurikulum yang menjadi salah satu patokan keberhasilan sekolah sangat ditentukan oleh seberapa baik tingkat kemampuan guru mentransfer pokok-pokok bahasan kepada murid. Indikator kemampuan guru dapat terlihat dari survey yang mampu memetakan tingkat kompetensi mereka, antara lain melalui assessment test for teacher.
  11. Kepala sekolah yang peduli: memiliki kepekaan terhadap segala persoalan yang bermuara pada murid (student driven). Fungsi kepala sekolah sebagai manajer, supervisor, pendidik dan administratur berjalan dengan baik, yang akan nampak dari bangunan system, perencanaan dan pelaksanaan program yang rapih dan menyeluruh. Kepekaan dan kepedulian kepala sekolah terwujud dalam bentuk pengawasan dan pengendalian program yang ketat, dan turun aktif memberi contoh dan mengarahkan para guru dan staffnya bila mereka menghadapi kendala atau masalah dalam implementasi kebijakan-kebijakan manajemen sekolahnya.
  12. Rekaman prestasi murid: wali kelas atau guru menyimpan rapih semua hasil/karya murid sebagai bahan untuk meningkatkan prestasi mereka. Belajar adalah sebuah proses yang berkesinambungan, dan memerlukan waktu yang panjang untuk melahirkan suatu kesuksesan. Arsip karya murid akan membantu guru, murid maupun orangtua untuk melihat progress kemajuan belajar murid, kemudian mendapatkan umpan balik untuk keperluan perbaikan masa berikutnya.
  13. Pengelolaan Pembelajaran. Pembelajaran haruslah dikelola secara efektif dari segi waktu maupun efisien dari segi pembiayaan. Lamanya waktu belajar harus diimbangi oleh tingkat pencapaian hasil belajar yang tinggi. Susana pembelajaran hendaknya kondusif dan memberikan pengalaman belajar pada murid.
  14. Pengembangan Potensi Murid Yang Optimal. Murid sebagai individu unik dengan segala macam potensi yang beragam hendaknya diberikan kesempatan yang seluas-luasnya untuk berkembang dan mencapai tingkat yang optimal. Potensi yang diharapkan berkembang ialah ruhiyah, akademik, jasadiyah, life skill dan leadership.
  15. Ketersediaan Pusat Sumber Belajar. Salah satu indikasi bahwa sebuah sekolah mampu mengelola pembelajaran dengan baik dan memberikan pengalaman belajar pada murid ialah adanya sumber belajar yang cukup.
  16. Pengaturan Ruang Pembelajaran Yang Nyaman. Kenyamanan lingkungan berpengaruh besar terhadap keberhasilan proses pembelajaran. Sebuah ruang tidak perlu terlalu besar, namun memenuhi standar kenyamanan dalam pembelajaran. Suatu kelas yang digunakan dalam pembelajaran hendaknya memiliki sirkulasi udara yang baik, tidak lembab serta syarat-syarat higienes maupun psikologi yang baik.
Format Sekolah yang IdealFormat Sekolah Islam yang kita inginkan haruslah memperhatikan konsekwensi logis dari perkembangan era global, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, perubahan dan peristiwa yang terjadi di tengah masyarakat serta harapan tentang masyarakat dunia masa depan. “Komisi Internasional Untuk Pendidikan Abad Dua Puluh Satu” dalam laporannya ke UNESCO, mengajukan rumusan tentang empat pilar pendidikan yaitu:
  1. Learning to live together: belajar untuk memahami dan menghargai orang lain, sejarah mereka dan nilai-nilai agamanya.
  2. Learning to know: penguasaan yang dalam dan luas akan bidang ilmu tertentu, termasuk di dalamnya learning to how
  3. Learning to do: belajar untuk mengaplikasi ilmu, bekerjasama dalam team, belajar memecahkan masalah dalam berbagai situasi.
  4. Learning to be: belajar untuk dapat mandiri, menjadi orang yang bertanggung jawab untuk mewujudkan tujuan bersama.
Keempat pilar pendidikan masa depan itu kemudian diterjemahkan ke dalam format sekolah yang diharapkan mampu membantu siswa-siswi mereka untuk menguasai kompetensi yang berguna bagi kehidupan di masa depan, yaitu: kompetensi keagamaan, kompetensi akademik, kompetensi ekonomi, dan kompetensi social pribadi.

Format pendidikan yang berkualitas semestinya juga harus memperhatikan azas-azas psikologi, psikometri dan pedagogi. Semua aktivitas belajar selayaknya berlandaskan kepada pencapaian tugas-tugas perkembangan dan prinsip-prinsip belajar yang meliputi hal-hal yang terkait dengan kerja kognitif, individual differences, motivasi, bakat dan kecenderungan, serta tata hubungan antar individu. Semua itu kemudian akan mempengaruhi pola dan model instruksional, class management, class assessment, media belajar dan sebagainya.
Format sekolah yang menjanjikan perbaikan masa depan adalah sekolah yang memiliki paradigma pendidikan yang maju dan visioner. Pendidikan haruslah mampu menumbuhkan dan mengembangkan potensi fitrah peserta didik yang memiliki sederet keunggulan kompetitif guna menghadapi segala tantangan ke depan. Pendidikan harus mampu melahirkan lulusan-lulusan yang memiliki karakter dan kemampuan sebagai berikut:
  1. Memiliki pemahaman yang benar terhadap ajaran agamanya dan landasan keimanan dan ketaqwaan yang kokoh sebagai wujud dari kefahaman tersebut
  2. Kemampuan riset dan teknologi yang tinggi
  3. Penguasaan bahasa international yang cakap
  4. Motivasi berprestasi dan Keterampilan belajar yang tinggi
  5. Kepemimpinan yang kuat
  6. Kesehatan yang prima
  7. Keterampilan hidup (life skill)
  8. Memiliki etos kerja dan disiplin yang tinggi
  9. Kepedulian terhadap kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara”
  10. Rasa percaya diri yang kuat, dan kebanggaan terhadap sejarah kepemimpinan Islam.
Format sekolah Islam seharusnya adalah sekolah yang mampu memadukan secara harmonis dan seimbang antara apa yang disebut sebagai “ayatul qauliyah” berupa ajaran Al Qur’an dan Hadis Nabi yang suci sebagai petunjuk dan pedoman hidup (minhajul hayah) dan “ayatul kauniyah” berupa segala fenomena alam yang perupakan sunnatul kaun yang menjadi sarana dan fasilitas kehidupan (wasailul hayah). Dengan perpaduan yang harmonis dan seimbang maka sekolah Islam telah membebaskan dirinya dari keterjebakan arus “sekulerisasi kurkulum”, ataupun kejumudan dalam arus “sakralisasi kurikulum”.
Sekolah Islam yang ideal adalah sekolah yang melibatkan peran serta guru, orangtua dan masyarakat sesuai dengan proporsinya. Artinya, sekolah yang merupakan lembaga melairkan generasi yang berkualitas menjadi tanggung jawab bersama antara negara, sekolah, orangtua dan masyarakat. Pengelolaan sekolah yang efektif mestinya melibatkan peran serta keempat pihak tersebut, sesuai dengan peran dan fungsinya. Negara, dalam hal ini pemerintah, memberi dukungan, kemudahan dan perlindungan bagi terselenggaranya sekolah, Orangtua dapat memberi masukan, membantu memperkaya proses belajar, menjadi nara-sumber dan fasilitator dalam berbagai kegiatan sekolah. Masyarakat dapat membantu menyediakan sumber dan fasilitas belajar tambahan yang ada di luar sekolah.

Lingkungan yang baik (biah solihah) juga merupakan salah satu criteria penting bagi sekolah Islam. Lingkungan yang bersih, rapih, sehat dan nyaman merupakan syarat mutlak bagi sekolah Islam. Sekolah Islam seharusnya juga mampu menciptakan suasana pergaulan dan interaksi yang Islami: santun, saling menyayangi dan menghormati, saling melindungi dan saling berbagi. Cerminan sekolah Islam yang baik juga ditunjukkan oleh warganya yang tertib, disiplin dan rapih.

Sekolah Islam Terpadu
Sekolah Islam Terpadu menawarkan satu model sekolah alternatif. Sekolah yang mencoba menerapkan pendekatan penyelenggaraan yang memadukan pendidikan umum dan pendidikan agama menjadi satu jalinan kurikulum. Dengan pendekatan ini, semua mata pelajaran dan semua kegiatan sekolah tidak lepas dari bingkai ajaran dan pesan nilai Islam. SIT juga berupaya mengoptimalkan peran serta orangtua dan masyarakat dalam proses pengelolaan sekolah dan pembelajaran. Orangtua dilibatkan secara aktif untuk memperkaya dan memberi perhatian yang memadai dalam proses pendidikan putra-puteri mereka. Sementara itu, kegiatan kunjungan ataupun interaksi ke luar sekolah merupakan upaya untuk mendekatkan peserta didik terhadap dunia nyata yang ada di tengah masyarakat. SIT juga menekankan keterpaduan dalam metode pembelajaran sehingga dapat mengoptimalkan ranah kognitif, afektif dan konatif. Implikasi dari keterpaduan ini menuntut pengembangan pendekatan proses pembelajaran yang kaya, variatif dan menggunakan media serta sumber belajar yang luas dan luwes.

Sekolah Islam Terpadu diselenggarakan berdasarkan konsep “one for all”. Artinya, dalam satu atap sekolah, siswa akan mendapatkan pendidikan umum, pendidikan agama, dan pendidikan keterampilan. Pendidikan umum mengacu kepada kurikulum nasional yang dikembangkan oleh Departemen Pendidikan Nasional, pendidikan agama menekankan pendidikan aqidah, akhlaq dan ibadah yang dikaitkan dalam kehidupan sehari-hari, menumbuhkan biah solihah di dalam lingkungan sekolah dan qudwah hasanah oleh seluruh guru dan karyawan sekolah. Sedangkan pendidikan keterampilan dikemas dalam kegiatan ekstra-kurikuler yang menyediakan beragam pilihan kegiatan yang seluruhnya mengacu kepada prinsip-prinsip keterampilan hidup.

Kamis, 16 Januari 2014

Strategi dan Inovasi dalam Membangun Pendidikan Modern

Salah satu dari tujuan yang ada dalam Millenium Development Goals (MDGs) 2015 serta bagian yang tidak terpisahkan dalam sebuah peradaban satu negara adalah majunya pendidikan. Berdasarkan data, mengenai pendidikan, pada data tahun 2008 tercatat angka 94,7% anak laki-laki dan perempuan masuk sekolah dasar. Namun, perbedaan antar 
daerah satu dengan daerah yang lainnya masih cukup tinggi, yaitu dari 89,31% untuk Aceh hingga 86,91% untuk Papua. Semenjak 18 tahun yang lalu pada implementasi wajib belajar 9 tahun melalui Inpres Nomor 1 tahun 1994 terlihat sepertinya pemerintah masih harus mengevaluasi program ini, meski pada kenyatannya masih banyak masyarakat Indonesia yang belum tamat pada jenjang pendidikan dasar. Permasalahan semakin muncul dengan adanya banyak program yang akan dibahas pada makalah ini mulai dari SMP Terbuka, SD-SMP satu atap, RSBI, Ujian Nasional, sertifikasi guru dan pendidik dan masih banyak lagi. Salah satu strategi dan inovasi dalam pendidikan yang akan dibahas pada makalah ini adalah mengenai peran teknologi informasi dan komunikasi pada kehidupan sehari-hari yang tidak dapat dipisahakan, terkadang penggunaanya sangat membantu dan juga terkadang menjadikan tertinggal karena terlalu cepatnya perkembangannya, khususnya jika jenjang kualifikasi yang dimiliki masyarakatnya rendah. 

Bagaimana kita bisa menyikapi perkembangan teknologi informasi terlebih lagi untuk masyarakat yang ada di Indonesia pada 3 hingga 5 tahun ke depan, pertanyaan yang timbul kapankah terwujudnya percepatan serta keberhasilan dalam pendidikan untuk realisasi MDGs di Indonesia? Jawabannya sangat tergantung pada seberapa besar usaha dan kepedulian seluruh masyarakat Indonesia bersama-sama dengan pemerintah agar bisa mencapai tujuan dan realisasi yang tertuang dalam MDGs pada 3 tahun lagi menuju 2015. 

Selasa, 14 Januari 2014

Membangun SDM yang Unggul

“Sangking banyaknya yang saya harus sampaikan kepada Anda, tidak tau bagaimana caranya dalam waktu yang singkat”. “Karena masalahnya yang saya mau saya sampaikan adalah bagian dari perjuangan Bangsa Indonesia”. demikian disampaikan oleh Presiden ke-3 Republik Indonesia, Prof. Dr. Ing. H. Bacharuddin Jusuf Habibie (B. J. Habibie) mengawali awal pidato kunci pada acara Rakornas Ristek 2013 dengan judul Iptek untuk Kemajuan Bangsa, acara ini dalam rangkaian gelaran Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) ke-18 tahun 2013 yang diselenggarakan di Gedung Sasono Langen Budoyo, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta.

“Saya tidak pernah mendapatkan Pedoman Penghayatan Pengamalan Pancasila (P4) tapi saya menjadi instruktur P4, dan saya tidak pernah mengikuti Lenhamnas, tetapi kalau saya kembali saya disuruh mengajar di Lemhanas. Tapi satu yang saya dapatkan adalah indoktrinasi, Anda tidak dapat itu”. Pada zaman dahulu, untuk pergi keluar negeri itu sulit sekali, dan yang boleh pergi adalah mahasiswa dari negara yang mengembangkan bidang dirgantara dan pembuatan kapalan. “Logikanya gampang kita satu-satunya benua maritime di dunia”, namanya maritime Indonesia, tidak mungkin dari sabang sampai marauke dihubungkan dengan kereta api dengan mobil dengan kapal untuk barang kadang-kadang terlalu lambat.

Satu yang diputuskan oleh Presiden Republik Indonesia yang pertama Proklamator Bung Karno dalam mengadapi tantangan tersebut adalah untuk segera mengirimkan putra dan putri terbaik Indonesia keluar negeri untuk menekuni dua bidang penguasaan teknologi dalam pembuatan pesawat terbang dan pembuatan kapal (kapal laut-red), waktu itu usia Prof. B.J. Habibie baru 18 tahun.
Ide dirgantara diawali oleh generasi pertama Pak Wieko meneruskan mengembangkan Garuda Indonesia Air. Dan yang melanjutkan Pak Wieko adalah gelombang kedua Nurtanio (Bapak Perintis Industri Pesawat Indonesia) sampai dengan tahun 1960, dia mampu mengembangkan si Kumbang, tetapi belum sasarannya, sasaran kita bukan pesawat tempur, sasaran kita adalah pesawat penumpang. Sebagai bentuk dukungan terhadap industri pesawat, bung Karno berinisiatif membuat Komando Pelaksana Industri Pesawat Terbang dengan anggota kabinet penuh dan dipimpin oleh seorang menteri dibantu oleh Angkatan Udara Marsekal Imam Sukotjo.

Habibie menerima gelar S-3 (Doktor Ingenieur) studi teknik penerbangan, spesialisasi dalam konstruksi pesawat terbang pada tahun 1964 di usia 28 tahun dari RWTH (Rheinisch Westfälische Technische Hoschchule) Aachen, Jerman Barat. Sebelum kembali ke tanah air, Beliau pernah bekerja di perusahaan penerbangan yang berpusat di Hamburg, Jerman. Pada tahun 1973, Beliau kembali ketanah air atas permintaan Presiden Soeharto untuk mengembangkan industri pesawat terbang nasional.
Bapak Industri Pesawat Modern Indonesia ini mangatakan bahwa “Anda itu lebih baik dari Habibie, jika tidak berarti generasi Habibie gagal. Tidak ada orang yang merencanakan bahwa anak-anaknya cucu-cucunya lebih buruk dari dirinya. Siapa lagi yang akan membangun bangsa ini, jika bukan kita semua.”
Suatu bangsa tidaklah mungkin mengandalkan sumber daya alam semata, namun harus mengandalkan sumber daya manusia (SDM).Untuk menghasilkan sumber daya manusia yang efisien dan produktif (SDM unggul) adalah dengan mensinergikan secara positif antara elemen budaya dan agama (pembudayaan secara implisit dan eksplisit), serta pendidikan yang sistematis. SDM unggul akan tercipta setelah mengalami proses keunggulan, dimana SDM tersebut mampu mengukur kemampuan diri dan menemukan keunggulan diri sehingga proses keunggulan identik dengan lapangan kerja.
Menutup paparannya, Habibie berpesan kepada hadirin yang hadir pada acara Rakornas Ristek 2013 bahwa Kita harus belajar untuk melanjutkan perjuangan sebelumnya, tidak mengulangi kesalahan yang sama, tidak berhenti berusaha (kontinyuitas), dan tetap konsisten serta terus berkreasi. Jangan mengharapkan bangsa lain untuk membangun bangsa ini, mereka hanya datang kesini hanya mau mengambil sumber daya alam kita saja. 

Senin, 13 Januari 2014

Pendidikan Ala Rosululloh


Praktik pendidikan Nabi Muhammad SAW pada anak-anaknya dapat di gambarkan di bawah ini:

1. Rasulullah senang bermain-main (menghibur) dengan anak-anak dan kadang-kadang beliau memangku mereka. Beliau menyuruh Abdullah, Ubaidillah, dan lain-lain dari putra-putra pamannya Al-Abbas r.a. untuk berbaris lalu berkata, “ Siapa yang terlebih dahulu sampai kepadaku akan aku beri sesuatu (hadiah).”merekapun berlomba-lomba menuju beliau, kemudian duduk di pangkuannya lalu Rasulullah menciumi mereka dan memeluknya.

2. Ketika ja’far bin Abu Tholib r.a, terbunuh dalam peperangan mut’ah, Nabi Muhammad SAW, sangat sedih. Beliau segera datang ke rumah ja’far dan menjumpai isterinya Asma bin Umais, yang sedang membuat roti, memandikan anak-anaknya dan memakaikan bajunya. Beliau berkata, “Suruh kemarilah anak-anak ja’far. Ketika mereka dating, beliau menciuminya. Sambil meneteskan air mata. Asma bertanya kepada beliau karena telah mengetahui ada musibah yang menimpanya.

3. “Wahai rasulullah, apa gerangan yang menyebabkan anda menangis? Apakah sudah ada beritayang sampai kepada anda mengenai suamiku Ja’far dan kawan-kawanya?” Beliau menjawab, “Ya benar, mereka hari di timpa musibah.” Air mata beliau mengalir dengan deras. Asma pun menjerit sehingga orang-orng perempuan berkumpul mengerumuninya. Kemudian Nabi Muhammad SAW. kembali kepada keluarganya dan beliau bersabda, “janganlah kalian melupakan keluarga ja’far, buatlah makanan untuk mereka, kerena sesungguhnya mereka sedang sibuk menghadapi musibah kematian ja’far.”

4. Ketika Rasulullah melihat anak Zaid menghampirinya, beliau memegang kedua bahunya kemudian menagis. Sebagian sahabat merasa heran karena beliau menangisi orang yang mati syahid di peperangan Mut’ah. Lalu Nabi Muhammad SAW. pun menjelaskan kepada mereka bahwa sesungguhnya ini adalah air mata seorang kawan yang kehilangan kawannya.

5. Al-Aqraa bin harits melihat Nabi Muhammad SAW. mencium Al-Hasan r.a. lalu berkata, “Wahai Rasulullah, aku mempunyai sepuluh orang anak, tetapi aku belum pernah mencium mereka.” Rasulullah bersabda, “Aku tidak akan mengangkat engkau sebagai seorang pemimpin apabila Allah telah mencabut rasa kasih sayang dari hatimu. Barang siapa yang tidak memiliki rasa kasih sayang, niscaya dia tidak akan di sayangi.”

6. Seorang anak kecil dibawa kepada Nabi Muhammad SAW. supaya di doakan dimohonkan berkah dan di beri nama. Anak-anak tersebut di pangku oleh beliau. Tiba-tiba anak itu kencing, lalu orang-orang yang melihatnya berteriak. Beliau berkata, “jangan di putuskan anak yang sedang kencing, buarkanlah dia sampai selesai dahulu kencingnya.”
Beliau pun berdoa dan memberi nama, kemudian membisiki orang tuanya supaya jangan mempunyai perasaan bahwa beliau tidak senang terkena air kencing anaknya. Ketika mereka telah pergi, beliau mencuci sendiri pakaian yang terkena kencing tadi.

7. Ummu Kholid binti kho;id bin sa’ad Al-Amawiyah berkata, “Aku beserta ayahku menghadap Rasululloh dan aku memakai baju kurung (gamis) berwarna kuning. Ketika aku bermain-main dengan cincin Nabi Muhammad SAW. ayahku membentakku, maka beliau berkata, “Biarkanlah dia.” Kemudian beliau pun berkata kepadaku, “bermainlah sepuas hatimu, Nak!

8. Dari Anas, diriwayatkan bahwa Nabi Muhammad SAW. selalu bergaul dengan kami. Beliau berkata kepada saudara lelakiku yang kecil, “Wahai Abu Umair, mengerjakan apa si nugair (nama burung kecil).”

9. Nabi Muhammad SAW. melakukan shalat, sedangkan Umamah binti zainab di letakkan di leher beliau. Di kala beliau sujud, Umamah tersebut di letakkanya dan bila berdiri di letakkan lagi dil leher beliau. Umamah adalah anak kecil dari Abu Ash bin Rabigh bin Abdusysyam .

10. Riwayat yang lebih masyhur menyebutkan, Rasulullah perna lama sekali sujud. dalam shalatnya, maka salah seorang sahabat bertanya,” Wahai Rasulullah, sesungguhnya anda lama sekali sujud, hingga kami mengira ada sesuatu kejadian atau anda sedang menerima wahyu. Nabi Muhammad SAW, menjawab, “Tidak ada apa-apa, tetaplah aku di tunggangi oleh cucuku, maka aku tidak mau tergesa-gesahsampai dia puas.” Adapun anak yang di maksud ialah Al-Hasan atau Al-Husain Radhiyallahu Anhuma

11. Ketika Nabi Muhammad SAW. melewati rumah putrinya, yaitu sayyidah fatimah r.a., beliau mendengar Al-Husain sedang menangis, maka beliau berkata kepada Fatimah, “Apakah engkau belum mengerti bahwa menangisnya anak itu menggangguku.” Lalu beliau memangku Al-Husain di atas lehernya dan berkata, Ya Allah, sesungguhnya aku cinta kepadanya, maka cintailah dia.
Ketika Rasulullah SAW. sedang berada di atas mimbar, Al-Hasan tergelincir. Lalu beliau turun dari mimbar dan membawa anak tersebut.

12. Nabi Muhammad SAW. sering bermain-main dngan Zainab binti Ummu Salamah r.a. beliau memanggilnya, “Hai Zuwainib, hai Zuwainib berulang-rulang.”

13. Nabi Muhammad SAW. sering berkunjung ke rumah para sahabat Anshar dan memberi salam pada anak-anaknya serta mengusap kepala mereka.

14. Diriwayatkan, pada suatu hari raya Rasulullah SAW. keluar rumah untuk menunaikan shalat ID. Di tengah jalan, beliau melihat banyak anak kecil sedang berman dengan gembira sambil tertawa-tawa. Mereka mengenakan baju baru, sandal mereka pun tampak mengkilap. Tiba-tiba pandangan beliau tertuju pada salah seorang yang sedang duduk menyendiri dan sedang menangis tersedu-sedu. Bajunya compang-camping dan kakinya tiada bersandal. Rasulullah SAW, pun mendekatinya , lalu di usap-usap anak itu mendekapya ke dadabeliau seraya bertanya, “mengapa kau menangis, Nak .” Anak itu hanya menjawab, “biarkanlah aku sendiri.” Anak itu belum tahu bahwa orang yang ada di hadapannya itu adalah Rasulullah SAW. yang terkenal sebagai pengasih. “Ayahku mati dalam suatu pertempuran bersama Nabi,” lanjut anak itu. “Lalu ibuku kawin lagi. Hartaku habis di makan suami ibuku, lalu aku di usir dari rumahnya. Sekarang, aku tak mempunyai baju baru dan makanan yang enak. Aku sedih meihat kawan-kawanku bermain dengan riangnya itu.l”

Baginda Rasulullah SAW. lantas membimbing anak tersebut seraya menghiburnya, “Sukakah kamu bila aku menjadi bapakmu, Fatimah menjadi kakakmu, Aisyah menjadi ibumu, Ali sebagai pamanmu, Hasan dan Husain menjadi saudaramu?” Anak itu segera tahu dengan siapa ia berbicara. Maka langsung ia berkata, “mengapa aku tak suka, ya Rasulullah?” kemudian, Rasulullah SAW, pun membawa anak itu ke rumah beliau, dan di berinya pakaian yang paling indah, memandikannya, dan memberinya perhiasan agar ia tampak lebih gagah, lalu mengajak makan.
Sesudah itu, anak itu pun keluar bermain dengan kawan-kawannya yang lain, sambil tertawa-tawa sambil kegirangan. Melihat perubahan pada anak itu, kawan-kawannya merasa heran lalu bertanya, “Tadi kamu menagis, mengapa sekarang bergembira?” jawab anak itu, tadi aku kelaparan, sekarang sudah kenyang. Tadi aku tak mempunyai pakaian, sekarang aku mempunyainya, tadi aku tak punya bapak, sekarang bapakku Rasulullah dan ibuku Aisyah.” Anak-anak lain bergumam, Wah, andaikan bapak kita mati dalam perang.” Hari-hari berikutnya, anak itu tetap di pelihara, oleh Rasulullah SAW. hingga beliau wafat.

Senin, 06 Januari 2014

Membangun Sistem Pendidikan Islam

Allah SWT berfirman:  "Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan hikmah (As Sunnah). dan Sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata." (QS. Al Jum’ah 2).

Ayat di atas menggambarkan betapa Nabi Muhammad saw. yang berasal dari bangsa Arab yang buta huruf diutus oleh Allah SWT membawa misi perubahan dengan pendidikan Islam untuk menghasilkan bangsa yang baru, yang maju, bahkan yang terbaik di antara umat manusia (QS.  Ali Imran 110).

Proses pendidikan Islam yang dibawa oleh Rasulullah saw. dengan membacakan ayat-ayat Al Quran kepada kaum yang buta huruf, tidak pandai baca tulis, maupun menghitung, yang terbelakang dan diliputi kebodohan jahiliyah. Dengan ayat-ayat mukjizat itu Rasulullah saw. membersihkan hati dan pikiran mereka dari noda-noda syirik dan jahiliyah, serta mengajarkan kepada mereka hukum-hukum halal haram dalam seluruh aspek kehidupan sehingga terjadi perubahan dan pembangunan bangsa yang luar biasa.

Ya, Bangsa Arab yang jahiliyah berubah menjadi umat Islam yang berpengetahuan. Bangsa Arab yang terbelakang berubah menjadi umat Islam yang mampu meruntuhkan imperium Persia dan memukul mundur imperium Rumawi sampai ke Konstantinopel.  Hanya dalam tempo 28 tahun setelah turunnya ayat Al Quran yang pertama (QS. Al Alaq 1-5) umat Islam berkuasa atas dunia (QS. An Nuur 55) pada masa Khalifah Umar bin Al Khaththab pada tahun 15H.

Umat Islam mempelopori kemajuan peradaban dunia 
Dengan menguasai dunia, menerapkan syariah secara kaffah, dan pengagungan ilmu yang luar biasa, umat Islam menjadi pelopor peradaban dan kemajuan ilmu pengetahuan. Sejarah mencatat bahwa ilmu-ilmu sains Yunani diterjemahkan, dianalisis, dan dikembangkan oleh para ulama kaum muslimin. Banyak penemuan dilakukan oleh para ilmuan muslim sepanjang kemajuan peradaban Islam dan kejayaan kekuasaan Khilafah Islamiyyah.

Kalau hari ini dengan teleskop kita bisa mengintip gerakan planet, bintang, dan galaksi; berbagai kejadian di seluruh dunia bisa dilaporkan melalui TV oleh para reporter dan kameraman; kejadian apapun di mall dan kantor bisa direkam oleh CCTV; itu semua  tidak lepas dari jasa ilmuwan muslim Al-Hasan Ibnu al-Haitham (965-1039 M) yang menemukan kamera obscura. Perkembangan teknologi IT yang demikian luar biasa yang mampu mendekatkan manusia dengan media sosial seperti facebook dan twitter serta website dan juga berbagai sistem perhitungan untuk design mobil dan pesawat serta berbagai peralatan canggih, semua berkat teknologi komputasi yang luar biasa yang dasarnya menggunakan sistem biner, yakni  bilangan 0 dan 1. Dan bilangan nol adalah temuan ilmuwan muslim al-Khawarizmi  (780 M). Tak terbayangkan oleh kita, apa jadinya jika tidak ditemukan bilangan nol dan peradaban manusia masih berdasar pada angka Rumawi. Maha benar Allah SWT yang telah berfirman: “niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Mujaadilah 11).

Tujuan Sistem Pendidikan Islam Untuk membangun suatu bangsa atau umat agar menjadi bangsa dan umat yang unggul di dunia, diperlukan strategi pendidikan yang tepat, yang memiliki tujuan mulia melahirkan generasi unggulan(khairu ummah). 
Dalam perspektif Islam, negara harus menetapkan bahwa tujuan pendidikan bangsa atau umat adalah:
Pertama, membangun kepribadian bangsa dan umat dengan kepribadian Islam yang istimewa (as syakhshiyyah al Islamiyyah al mutamayyizah).  Kepribadian Islami yang istimewa terbentuk dengan menanamkan aqidah Islamiyyah di hati setiap insan peserta didik, dan memenuhi hati (qalbu) mereka dengan berbagai ayat Al Quran seputar aqidah Islamiyyah, baik tentang iman kepada keesaan dan kekuasaan Allah SWT, pencipta manusia, kehidupan, dan seluruh alam semesta,  keimanan kepada kiamat, kebangkitan manusia setelah mati, pengumpulan dan persidangan di padang mahsyar, penghitungan dan penimbangan amal, hingga kenikmatan penghuni surga (ahlul jannah) maupun kesengsaraan penghuni neraka (ahlun naar). Aqidah Islamiyyah inilah yang akan menghidupkan hati (qalbu) setiap muslim sehingga akan terus gemar membaca dan mempelajari Al Quran dan Sunnah Rasulullah saw, yang menerangkan tentang berbagai perkara terkait dengan aqidah Islamiyyah dan hukum halal-haram. Aqidah Islamiyyah yang diikat oleh hati (qalbu) setiap  muslim ini akan menjadi asas berfikirnya sehingga dia memiliki cara berfikir Islami (al aqliyyah Islamiyyah), dan akan menjadi asas pengatur tingkah lakunya sehingga dia memiliki cara pengendalian diri Islami (an nafsiyyah Islamiyyah).
Dengan cara berfikir Islami, yakni mememahami dan memutuskan hukum suatu fakta (benda/perbuatan) dengan perspektif Islam, seorang muslim akan memiliki pemahaman Islam(mafahim Islamiyyah). Dan dengan pemahaman Islam itulah dia mengendalikan perilakunya agar senantiasa Islami, yakni sesuai dengan hukum syariah.

Kedua, membekali bangsa dan umat yang dididik dengan berbagai ilmu pengetahuan agar kelak menjadi ulama-ulama yang ahli dalam berbagai kehidupan, baik dalam bidang ilmu-ilmu Islam(tsaqafah Islamiyyah) seperti ahli dalam bidang fiqh, ijtihad, qadla, tafsir, hadits, dan lain-lain, maupun ahli dalam bidang sains eksperimental (al ulum at tajribiyyah)   seperti kimia, fisika, kedokteran, teknik mesin, otomotif, teknik pesawat terbang/aeronautika, teknik komputer, teknik informasi, dan lain-lain. Dengan keahlian-keahlian di atas maka bangsa dan umat ini akan menjadi unggul di dunia, mandiri, dan berpengaruh, bukan menjadi bangsa pembebek dan pengekor apalagi antek bangsa dan umat lain.

Strategi Pendidikan Islam
Untuk mencapai tujuan di atas perlu disusun strategi sistem pendidikan oleh negara sebagai berikut:
1. Memperkuat nuansa imani dalam kehidupan umat dengan menyemarakkan kegiatan sholat jamaah, shiyam Ramadhan, hari raya, ibadah qurban, haji, dan lain-lain  dan penerapan syariat dalam bidang pakaian, makanan, akhlak, muamalah ekonomi, penerapan hudud dan qishash,  penggiatan tabligh, taklim, dan amar makruf nahi mungkar, hingga jihad fi sabilillah.
2. Menyusun kurikulum yang diterapkan seluruh sekolah dengan materi pelajaran yang memenuhi tujuan pendidikan Islam di atas, yakni membangun kepribadian Islam, menyiapkan bekal menjadi ulama Islam, dan menyiapkan bekal menjadi ahli-ahli dalam bidang sains dan teknologi untuk menguasai kehidupan.
3. Menyiapkan guru-guru berkepribadian Islam istimewa, yang menguasai Al Quran dan As Sunnah serta berbagai bidang ilmu yang menjadi tanggung jawabnya untuk menjalankan kurikulum serta sabar dan arif bijaksana dalam mendidik para siswa.
4. Menetapkan metode pengajaran fikriyyah, yakni pengajaran oleh guru dengan penyampaian yang mengaktifkan kemampuan berfikir siswa untuk memahami persoalan dengan mengikatkan fakta materi pelajaran dengan berbagai informasi yang berkaitan dengan fakta itu.  Jadi tidak pernah disampaikan sebuah informasi tanpa mengajak para siswa untuk memahami faktanya.  Atau memberikan gambaran yang mendekatkan kepada fakta yang dibahas. Sebagai contoh, ketika menerangkan ayat tentang darah haid sebagai penyakit, dan larangan seorang suami menyetubuhi istri saat haid ( QS. Al Baqarah 222) perlu dihubungkan dengan informasi kedokteran bahwa gerakan dzakar pada saat berhubungan suami istri di masa haid juga bisa menjadi pemicu terjadinya gelembung udara ke pembuluh darah yang terbuka yang masuk ke dalam pembuluh darah, maka akan mengakibatkan penyumbatan pembuluh darah dan bisa mengakibatkan mati mendadak.
5. Membangun perpustakaan, laboratorium, dan pusat-pusat bahasa Arab/ Inggris dan ilmu pengetahuan serta menyediakan ulama-ulama pembimbing untuk mendukung pengembangan ilmu.
6. Menyelenggarakan sekolah dan universitas dengan sistem bebas biaya sebagai layanan pemerintah terhadap kebutuhan kolektif masyarakat dan kemudahan penyediaan SDM handal yang berkepribadian Islam, cerdas, terampil, produktif, dan kreatif, untuk memperkuat posisi tawar bangsa dan umat.
7. Menarik minat belajar, menuntut ilmu,  dan mengembangkan ilmu dengan membeli hak paten para ilmuwan untuk disedekahkan secara gratis kepada masyarakat atau temuan teknologi terapan yang diadopsi industri BUMN untuk diproduksi dan dijual murah kepada masyarakat.

Dengan tujuh strategi di atas insyaallah pendidikan bangsa dan umat ini bisa diarahkan untuk benar-benar mencerdaskan kehidupan bangsa dan memajukan kesejahteraan umat secara umum.Wallahua’lam!

Sabtu, 04 Januari 2014

Bagaimana Mengarahkan Anak Menjadi Kreatif & Inovatif?

Berbagai bukti menunjukkan bahwa semua bayi manusia yang lahir itu adalah makhluk kreatif dan inovatif. Dalam enam tahun pertama, semua bayi bisa meniru bahasa apapun yang dipakai orangtuanya. Bukankah itu kreativitas dan inovasi yang luar biasa dahsyatnya?
Tapi seiring dengan pola asuh yang diterimanya dari orang dewasa (orangtua, keluarga, sekolah, dan lain-lain), kreativitas dan inovasi itu ada yang semakin membaik dan ada yang sebaliknya. Umumnya, kreativitas dan inovasi bayi mulai menurun. 
Praktek pemupusan yang paling umum adalah melalui ucapan. Celakanya...ucapan itu kemudian dipedomani oleh si anak. Bisa kita hitung sendiri berapa perbandingan antara kata ”jangan” yang kita ucapkan dengan kata ”silahkan”? Umumnya yang paling sering kita ucapkan adalah kata ”jangan” dan berbagai ungkapan lain yang mengarah pada pembatasan. Inilah yang disebut dengan mental block atau self-limiting belief. Anak-anak berusaha membatasi dirinya karena batasan yang kita ciptakan di alam mentalnya.
“Lho, apa tidak boleh kita membatasi anak? Bukankah itu untuk kebaikannya? Tentu bukan seperti itu pengertiannya. Kalau merujuk pada model pola asuh yang sudah kita bahas di sini, yang perlu kita jauhi adalah perlakuan yang ekstrim, terlalu membiarkan dan terlalu mengawasi.
Terlalu membiarkan akan membuat anak-anak akan sulit membedakan mana yang benar, baik, dan bermanfaat, sembrono, menggampangkan sesuatu yang tidak gampang. Tetapi, terlalu membatasi juga bisa membuat mereka punya potensi ”minder”, merasa atau berkesimpulan bahwa di dunia ini lebih banyak batasannya ketimbang peluangnya. Mereka terbatasi oleh mentalnya sendiri
Memang, dalam prakteknya pasti tidak ada orangtua yang memiliki posa asuh sempurna untuk anak-anaknya. Kesempurnaan dalam parenting itu hanya akan terwujud dengan cara disempurnakan, selalu dan setiap saat, apabila: a) terbuka terhadap masukan baru, b) menambah ilmu, dan c) mau memperbaiki apa yang salah atau kurang (learning).
Perbaikan seperti apa yang penting untuk dilakukan? Jika kita melihat anak-anak kita turun daya kreativitas dan inovasinya setelah menginjak usia ke yang lebih tinggi, nasehat para pakar psikologi (Human Development: 1989) di bawah ini barangkali pas untuk kita jalankan:
  1. Menghormati hak anak untuk menginisiatifkan cara belajar yang pas untuk dirinya. Sebelum kita mengatakan ”jangan”, katakan ”silahkan” dulu, baru kemudian kita kasih pengarahan.
  2. Menghormati hak anak untuk ingin tahu dan mengalami. Sejauh tidak membahayakan, terkadang kita perlu memberikan kesempatan kepada mereka untuk mengalami (experiencing).
  3. Menghormati hak anak untuk menolak / menerima berbagai masukan setelah mempertimbangkannya. Terkadang kita harus siap dengan pilihan anak. Sejauh pilihan itu sudah kita jelaskan, dan dia memilih apa yang bukan kita pilih, saatnya kita menghormati pilihannya.
  4. Mendorong anak untuk lebih merasa tertantang dalam menghadapi masalah. Yang paling berharga dari proses ini bukan hasilnya, melainkan prosesnya itu. Jika si anak ternyata berhasil menyelesaikan masalah yang dihadapinya dengan caranya sendiri, itu telah menyumbangkan konsep-diri positif yang luar biasa.
  5. Memberikan kesempatan untuk berkreasi. Ini bisa dilakukan juga dengan cara memberikan rangangan, motivasi, atau kesempatan.
Lima hal di atas pasti mudah untuk diketahui tetapi belum pasti mudah untuk dijalankan. Kenapa? Kebanyakan kita lebih memilih jurus yang langsung instan, tidak perlu berpikir sulit, dan efeknya langsung nyata. Jurus itu adalah: jangan (melarang) atau (membiarkan). Semoga bermanfaat. Ditulis oleh Sahabat Nestlé

Remaja Kreatif dan Inovatif

KOMPAS.com - Menyaksikan kreativitas dan inovasi hasil riset para remaja, kita hanya bisa geleng-geleng kepala. Takjub, karena inovasi yang mereka hasilkan sederhana, tetapi menjadi solusi berbagai persoalan yang ada di masyarakat. Mereka pun masih berusia sangat belia, baru belasan tahun.

Naufal Rasendriya Apta R (15) dan Archel Valiano (15), misalnya, baru duduk di kelas IX SMP Islam Al Azhar 26, Yogyakarta. Namun, keduanya bisa menghasilkan karya yang membuat decak kagum pengunjung maupun dewan juri Kompetisi Ilmiah Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) 2013.

Naufal dan Archel menawarkan helm untuk pengendara sepeda motor ataupun sepeda yang dilengkapi lampu sein atau rating di telinga kiri dan kanannya.

Mereka memodifikasi alat sensor yang dapat menghidupkan lampu sein di helm. Uniknya, pengendara cukup menggelengkan kepala ke kiri atau ke kanan saat hendak berbelok sesuai arah, maka lampu sein menyala. Jika sudah tidak dipakai, pengendara tinggal menganggukkan kepala ke depan dua kali, maka lampu sein akan mati.

”Kami buat helm ini supaya bisa mengurangi angka kecelakaan di jalan raya,” kata Naufal yang atas karyanya ini, dia diganjar menjadi juara kedua kategori National Young Inventor Award (NYIA) Ke-6.

Di ajang NYIA beragam karya ditawarkan siswa SD, SMP, dan SMA sederajat berusia 8-18 tahun. Untuk mengatasi kejahatan, misalnya, siswa SMAN 6 Yogyakarta menawarkan gelang anti-penculikan dengan sensor alarm otomatis dan sandal antimaling. Ada juga sistem pengamanan terhadap benda pasif maupun aktif tanpa menggunakan kunci yang ditawarkan siswa SMA Dharma Karya, Tangerang Selatan.

Siswa SMAN 6 Yogyakarta juga membuat 3 in 1 shoes, yakni sepatu yang bisa dimodifikasi untuk tiga penampilan, iBlind yakni komunikasi melalui layanan pesan singkat (short message service/SMS) berformat huruf braille untuk penyandang tunanetra yang juga tunarungu. Ada pula kursi roda hidrolik yang memudahkan penyandang cacat untuk pindah sendiri ke tempat tidur tanpa bantuan orang lain.

Putri Khusna Millaty, siswa MAN 2 Kudus, Jawa Tengah, menciptakan alat pembelah durian. Cara kerja alat ini mengikuti prinsip payung terbalik.

”Anak nakal”
Menjadi juara dalam Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) dalam Kompetisi Ilmiah LIPI, bagi para peserta, bukan sekadar meraih hadiah dan piagam penghargaan. Tantangan terberat justru melawan rasa takut, ejekan orang lain, sulit mencari pembimbing, hingga terbatasnya fasilitas.

Naufal dan Archel yang masih SMP, umpamanya, sempat merasa takut menghadapi peserta lain yang umumnya siswa SMA/MA tersohor.

”Menyuntikkan semangat kepada mereka butuh kesabaran,” kata Ferry Kurniawan, guru Fisika SMP Islam Al Azhar yang juga pembimbing Naufal dan Archel.

Tak hanya juara dalam mengatasi ketakutan, mereka juga juara karena bisa mengatasi penolakan dari pimpinan sekolah yang meragukan potensi dua remaja yang dicap ”anak nakal” di sekolahnya.

Ferry mengisahkan pimpinan sekolah yang lama sempat menolak Naufal dan Archel mewakili sekolah untuk ikut Kompetisi Ilmiah LIPI. Pimpinan sekolah tersebut menganggap yang layak dikirim adalah anak-anak yang juara. Sebab, prestasi Naufal dan Archel di kelas biasa-biasa saja dan suka usil sehingga dicap ”anak nakal”.

”Sebenarnya mereka punya potensi yang bagus untuk eksperimen. Itulah yang saya lihat di diri mereka,” kata Ferry. ”Keberhasilan Naufal dan Archel ini akan jadi inspirasi buat banyak orang,” tambah Ferry.

Bogie Soedjatmiko Eko Tjahjono, Ketua Pelaksana Kompetisi Ilmiah LIPI 2013, mengatakan hasil karya di ajang NYIA berpotensi paten. Karya tersebut berpotensi untuk diproduksi massal. Sayang, belum banyak perusahaan yang melirik potensi peneliti remaja ini. Meski demikian, ada pula hasil-hasil inovasi remaja yang kemudian diproduksi massal seperti helm berpendingin.

Ajang penelitian remaja oleh LIPI ini tak hanya didominasi peserta di bidang sains dan teknologi. Para remaja yang berminat di penelitian sosial juga mendapat tempat dalam LKIR dan Pemilihan Peneliti Remaja Indonesia (PPIR)

Di ajang LKIR yang memasuki penyelenggaraan ke-45, minat peneliti remaja memasukkan karya cukup tinggi, lebih dari 1.000 karya tahun ini.

Rizki Muliyawati dan Dea Despianti, siswa SMAN 1 Muncang, Lebak, Banten, misalnya, melakukan penelitian terhadap para petambang pasir tradisional di Haurgajrug Cipanas, Kabupaten Lebak, Banten. ”Saya harus bertahan di sekolah sampai malam untuk membuat laporan penelitian karena di rumah tidak ada komputer dan laptop,” ujar Rizki yang meraih juara kedua LKIR kategori Ilmu pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan.

”Indonesia harus memperhatikan remaja-remaja hebat ini. Menyalakan semangat mereka agar terus berkarya,” kata Kepala LIPI Lukman Hakim.(KOMPAS CETAK/Ester Lince Napitupulu)

Jumat, 03 Januari 2014

Humor Bisa Membuat Anak Cerdas dan Kreatif

Menjadi orangtua tidak perlu terlalu ‘serius,’  hanya peduli pada jam makan, jam tidur, jam mandi, dan hal-hal rutin dengan tujuan disiplin. Sekali-kali bersikaplah konyol yang mengundang gelak tawa anak. Humor yang mengakibatkan anak tertawa dapat meningkatkan kecerdasan, kreativitas, kemampuan bersosialisasi, empati, rasa percaya diri, serta kemampuan menyelesaikan masalah.

Menurut Louis R. Franzini, PhD, psikolog anak yang juga seorang stand-up comedian dan Ketua Laughmasters and Toastmasters International Club, AS, banyak orangtua yang tidak menyadari bahwa bersikap konyol, yang mengundang gelak tawa anak merupakan salah satu cara membuat anak bahagia. Melakukan hal-hal konyol membuat anak tertawa, luwes, kreatif, dan sehat.

Pertanyaannya melakukan hal-hal konyol seperti apa yang membuat anak tertawa? Bunda, sebagai uji coba, saat bersama anak dan ia kelihatan mulai bosan, katakan padanya, “Sebentar, ya, Bunda  tidur dulu.” Duduklah di kursi dengan mata terpejam, pura-pura tidur dengan mimik wajah lucu. Lalu buat suara mengorok yang berirama. Si kecil akan tersenyum melihatnya, bahkan mungkin meniru Anda pura-pura tidur dan mengorok. Nah, kini giliran Anda yang dibuatnya tertawa, melihat gayanya mengorok.

Ada sebuah pepatah kuno yang mengatakan bahwa tertawa 30 kali sehari akan membuat Anda sehat. Sayangnya,  semakin dewasa seseorang semakin berkurang jumlah tertawanya. Menurut penilitian,  bayi tertawa 200 kali setiap hari, bahkan  beberapa di antaranya 300 kali sehari. Sementara orang dewasa hanya 15 kali sehari.

Nah, agar anak bisa menjaga jumlah tawa dan Anda bisa menambah waktu tertawa, cobalah menjadi ‘standing comedian’ untuknya dengan melakuka hal-hal konyol, yang membuat Anda dan anak bahagia tertawa terbahak-bahak. (ayahbunda.com/me)