Senin, 18 Maret 2013

Prestasi Siswa




Muhammad Wildan Arafat, Juara 1 Lomba Jarimatika
se-Kabupaten Bekasi untuk Tingkat Sekolah Dasar


Alhamdulillah kami panjatkan atas anugerah yang luar biasa ini. Atas izin Alloh subhanahu wa ta’ala siswa kami berhasil menyabet Juara 1 Lomba Jarimatika se-Kabupaten Bekasi untuk Tingkat Sekolah Dasar. Lomba yang diikuti oleh lebih dari 600 siswa dari berbagai sekolah dasar ini diselenggarakan pada hari Ahad tanggal, 03 Maret 2013 di Mall Sentra Grosir Cikarang – Bekasi.

Prestasi ini tidak kami sangka-sangka sama sekali. Hal ini dikarenakan kami tidak mentargetkan kepada siswa-siswa kami yang menjadi peserta lomba untuk memenangi lomba. Kami menyadari bahwa sekolah kami masih sangat baru dan belum siap untuk mengikuti berbagai even lomba.

Tentu saja prestasi ini bukan segala-galanya yang bisa membuat lupa diri. Prestasi ini insya Alloh akan menjadi wasilah bagi prestasi-prestasi berikutnya. Amiin.

Senin, 03 September 2012

Tips Menumbuhkan Kreatifitas Anak

Anak yang kreatif adalah anak yang aktif, selalu penuh rasa ingin tahu, penuh dengan ide baru, pertanyaan atau pendapatnya baru dan mengesankan, dan setelah besar akan bisa eksis.

Ada 10 cara mengasah kreativitas anak, yaitu:
1.      Memiliki tokoh idola
Masa kanak-kanak adalah masa meniru. Maka rajin-rajinlah memperkenalkan mereka dengan tokoh-tokoh sukses yang anda kagumi melalui cerita yang menarik.
2.      Mengaktifkan otak kanan
Mulailah mengaktifkan otak kanan anak dengan memberi kesempatan untuk mendengarkan musik, ikut bernyanyi dan menari, melukis, membuat puisi, mengajak anak berimajinasi. Kegiatan melamun ternyata dapat menguatkan otot-otot kreatif.
3.      Menambahkan perbendaharaan kata-katanya
Satu hari satu kata baru sudah cukup baik untuk anak agar siap menangkap (berhubungan) dengan setiap gagasan baru.
4.      Menggunakan ke dua sisi tubuh
Latihlah anak menggunakan kedua sisi tubuhnya secara bergantian. Misalnya pada kegiatan sehari-hari seperti menyisir, menyikat gigi, menangkap dan melempar bola. Tujuannya adalah agar ke dua sisi otak dapat diaktifkan secara bersamaan.
5.      Biasakan melihat secara mendetail
Ajaklah anak untuk melihat banyak hal serta melihat bagian-bagian kecilnya. Pada kesempatan yang berbeda, tanyakan hal-hal tersebut pada anak dan ciri – cirinya.
6.      Biasakan membuat catatan atau gambar
Kegiatan menggambar biasa sangat disukai oleh anak. Bisa menggunakan crayon atau pun pensil warna. Warna sendiri dapat merangsang otak untuk membuat hubungan dan asosiasi yang berbeda-beda.
7.      Ajarkan mendengar atau menyimak
Dengan menjadi pendengar yang baik, anak akan menjadi pribadi yang menarik dan penuh minat, sekaligus memiliki daya ingat dan daya kreatif untuk melihat berbagai sudut pandang.
8.      Ajarkan bergurau
Karena humor adalah suatu kegiatan yang sangat kreatif, maka ajaklah anak bergurau agar dapat menambah daya kreatifnya.
9.      Latih menghubungkan konsep
Hal ini dapat dilakukan misalnya dengan permainan meniru gerakan . Contohnya kita melayang seperti burung, atau kita terbang seperti pesawat.
10.  Kreatif sehari-hari
Jadikan waktu luang penuh dengan kegiatan, seperti membuat kue, membuat kartu, membuat mainan dari barang bekas, berkebun, menata rumah, dan melakukan permainan yang dapat memupuk daya sportifitas anak. (Desri Susilawani)

Sabtu, 04 Agustus 2012

Menumbuhkan Jiwa Entrepreneur Anak


Entrepreneurship (jiwa kewirausahaan) merupakan kemampuan untuk menginternalisasikan kemampuan wirausaha dan menangkap peluang usaha atau bisnis yang ada. Seorang wirausaha akan berani mengambil risiko, inovatif, kreatif, disiplin, pantang menyerah, dan mampu menyiasati peluang secara tepat. Kewirausahaan juga bisa menjadi salah satu jalan (peluang) untuk mendapatkan rezeki. Rasulullah saw. bersabda, “Sebaik-baik pekerjaan adalah pekerjaan seorang pria dengan tangannya dan setiap jual beli yang mabrur.” (HR Ahmad, al-Bazzar, ath-Thabrani).

Pentingnya Jiwa Entrepreneur
Memiliki jiwa entrepeneur berarti mendorong adanya mental yang mandiri, kreatif, inovatif, bertanggung jawab, disiplin, dan tak mudah menyerah, seperti layaknya seorang wirausaha ketika memulai usahanya dari bawah. Alangkah baiknya jika sifat-sifat ini ditanamkan pada anak sejak dini untuk membantu mereka menjalani seluruh kehidupannya.
Memiliki jiwa entrepreneur akan membuat anak tumbuh menjadi anak yang lebih mandiri dan tidak bergantung pada orang lain, mampu berpikir kreatif dan inovatif, serta lebih menghargai uang dan barang. Kelak bila sudah dewasa, ia akan relatif lebih mudah untuk benar-benar menjadi wirausahawan. Dalam konteks perjuangan, berbisnis adalah jalan paling masuk akal untuk meraih kebebasan ideologis, yang biasanya diawali dari didapatnya kebebasan finansial. Maksudnya, dengan memiliki usaha yang mantap, kelak ia akan bisa memenuhi kebutuhan hidupnya secara mandiri, tidak bergantung pada sebuah instansi atau lembaga yang kadang membuatnya harus terikat, baik dari segi waktu apalagi dari sisi ideologi. Maka dari itu, dari kebebasan finansial akan didapat kebebasan ideologis atau kebebasan untuk berjuang.
Menjadi entrepreneur yang tangguh membutuhkan proses, tidak bisa instant dalam sekejap. Motivasi yang kuat adalah modal utama, selain keberanian dan ketekunan. Di sinilah menjadi penting bagaimana menumbuhkan jiwa entrepreneur ini pada anak-anak.

Beberapa Kiat
1. Keteladanan orangtua.
Jiwa keriwausahawan memerlukan contoh nyata. Contoh terbaik datang dari orangtua. Bila orang tua adalah seorang pengusaha, biasanya tidak sulit untuk membentuk jiwa kewirausahawan pada diri anak oleh karena mereka sehari-hari melihat hal itu pada diri orangtua.
Kenalkan jiwa entrepreneur dalam lingkungan keluarga dan orangtua bisa menjadi teladan buat anak. Jika di rumah memiliki usaha, libatkan anak. Sepakati jenis pekerjaan apa yang mesti dilakukan anak. Tentu sebatas yang bisa dijangkau oleh mereka. Kalau perlu, beri anak “upah”, dari apa yang telah dia kerjakan. Cara ini tentu bukan dimaksudkan untuk mempekerjakan mereka, tetapi melatih mereka agar memiliki pengalaman bagaimana menjadi pekerja, sekaligus menanamkan pelajaran bagaimana menghargai hasil keringat sendiri.
Sesekali ajak anak-anak berbelanja kebutuhan mereka dari usaha yang dilakukan. Beri mereka tugas untuk mencari informasi berbagai harga barang-barang di pasar yang dibutuhkan. Selanjutnya, hasil survei pasar bisa dianalisis dan dijadikan bahan diskusi dalam keluarga. Ini agar anak menjadi akrab dengan kehidupan nyata, mampu berkomunikasi dengan baik, mengemukakan pendapat, menarik kesimpulan, sekaligus membiasakan diri selalu mengikuti perkembangan ekonomi sehari-hari.
2. Latihan di sekolah.
“Business Day” atau ”Market Day” merupakan salah satu cara bagaimana melatih jiwa entrepreneur anak di sekolah. Pada acara tersebut, anak-anak bisa dibagi menjadi beberapa kelompok, yang akan mulai berjualan. Target konsumen adalah kakak, adik kelas, guru dan orangtua. Anak-anak boleh menerapkan berbagai macam strategi yang halal tentunya, agar barang-barangnya laku terjual. Untuk bisa menghasilkan barang produksi yang layak jual, mereka harus melalui proses yang panjang. Pertama dimulai dari mendiskusikan jenis barang yang akan  dijual dan bagaimana cara mendapatkan modalnya. Setelah itu, tahap pengerjaan yang bisa dilakukan di rumah atau di sekolah. Barang-barang yang sudah siap dijual masih perlu di kemas agar terlihat lebih rapi dan menarik. Barulah setelah semuanya selesai, barang-barang hasil karya anak dijual oleh mereka sendiri di sekolah.
Mereka sendirilah yang menjadi pelaku bisnis dan aktif menjalankan kegiatan perniagaan; mulai dari membuat barang, mengemas dan mempromosikan barang sampai pada tahap akhir penjualan. Di sini pula mereka bisa belajar tentang artinya untung atau rugi. Yang dapat untung bersyukur, dan setelah uang modal kembali, mereka membagi hasil keuntungannya sama rata. Yang mendapat rugi, tidak perlu kecewa, karena ini adalah pelajaran yang berharga buat mereka agar nantinya lebih pandai membuat strategi pemasaran.
3. Melalui cerita.
Menceritakan kisah hidup akan merangsang anak untuk meniru atau meneladaninya. Abdurahman bin Auf adalah sosok entrepreuneur yang sukses. Tidak hanya pejuang Islam yang hebat, ia juga pengusaha yang sukses. Tatkala Rasulullah saw. dan para sahabat diizinkan Allah hijrah ke Madinah, Abdurrahman bin Auf dipersaudarakan dengan Saad bin Rabi al-Anshari. Saad termasuk orang kaya di antara penduduk Madinah. Ia berniat membantu saudaranya dengan sepenuh hati, namun Abdurrahman menolak. Ia hanya berkata, “Tunjukkanlah padaku di mana letak pasar di kota ini!”
Sejak itulah kehidupan Abdurrahman menjadi makmur. Begitu besar berkah yang diberikan Allah kepadanya sampai ia dijuluki ‘Sahabat Bertangan Emas’.
Abdurrahman bin Auf adalah sahabat yang dikenal paling kaya dan dermawan. Ia tak segan-segan mengeluarkan hartanya untuk jihad di jalan Allah. Pada waktu Perang Tabuk, Rasulullah memerintahkan kaum Muslim untuk mengorbankan harta benda mereka. Dengan patuh Abdurrahman bin Auf memenuhi seruan Nabi saw. Ia memelopori dengan menyerahkan dua ratus ‘uqyah emas. Setelah Rasulullah wafat, Abdurrahman bin Auf bertugas menjaga kesejahteraan dan keselamatan Ummahat al-Mu’minin (para istri Rasulullah). Beliau bertanggung jawab memenuhi segala kebutuhan mereka dan mengadakan pengawalan bagi ibu-ibu mulia itu bila mereka bepergian. Begitulah, doa Rasulullah bagi Abdurrahman bin Auf terkabulkan. Allah senantiasa melimpahkan berkah-Nya, sehingga ia menjadi orang terkaya di antara para sahabat. Bisnisnya terus berkembang dan maju. Semakin banyak keuntungan yang ia peroleh semakin besar pula kedermawanannya. Hartanya dinafkahkan di jalan Allah, baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. Walau termasuk konglomerat terbesar pada masanya, itu tidak mempengaruhi jiwanya yang dipenuhi iman dan takwa.
4. Memadukan usaha dengan hobi.
Cobalah perhatikan kegemaran anak. Jika dia senang membaca, misalnya, tanyakan berapa banyak koleksi bukunya. Kalau cukup banyak, berilah saran agar ia menyewakan koleksinya kepada teman-temannya. Pujilah hasil karya anak, agar ia merasa percaya diri untuk menjual kepada teman-temannya. Langkah berikut, ajarkan kepada anak untuk menentukan harga. Sebagai orangtua yang bijak, katakan kepadanya agar tidak mengambil keuntungan terlalu banyak. Lalu ajari dia untuk membuat laporan keuangan yang sangat sederhana, agar ia bisa bertanggung jawab terhadap setiap pemasukan dan pengeluaran.
5. Mengajak anak melihat tempat usaha.
Mengajak anak melihat tempat usaha juga merupakan cara yang ampuh. Tak perlu menjadi pengusaha terlebih dulu untuk mengenalkan anak pada dunia usaha. Ajak anak melihat berjalannya suatu usaha ke teman yang punya usaha kecil, misalnya. Kalau perlu mintalah izin kepadanya untuk menerimanya magang saat liburan.
6. Melalui permainan.
Carilah permainan yang anak tak sekadar bermain, namun juga menyusun strategi bisnis dan berinvestasi. Dari permainan diharapkan anak akan bisa mengelola keuangan, membelanjakan uang, bahkan kerugian atau risiko dalam bisnis.
7. Magang.
Selain memperkenalkan anak pada kondisi usaha riil, dengan magang anak bisa melihat langsung praktik dari teori-teori yang telah dia peroleh. Akan lebih efektif jika sekolah juga mendirikan usaha nyata. Misalnya, sekolah mendirikan kantin, dan secara bergiliran anak-anak yang mengelola kantin tersebut.
Dengan menumbuhkan jiwa entrepreneur pada anak, diharapkan sebesar apa pun krisis finansial yang dia hadapi nantinya, akan dapat disikapi dengan tenang. Sebab, anak telah terbiasa memecahkan problem berat dengan strategi yang cepat dan tepat. Bagaimanapun perjuangan menegakkan syariah dan Khilafah, tidak hanya membutuhkan semangat dan ilmu, tetapi juga dana. Ketika kebebasan finansial sudah dimiliki, insya Allah akan membantu kelancaran jalannya dakwah, dan kemampuan finansialnya akan melengkapi perjuangannya; seperti halnya yang terjadi pada Abdurrahman bin Auf. WalLahu a‘lam. [] Zulia Ilmawati adalah Pemerhati Masalah Anak dan Keluarga (HTI).

Senin, 30 Juli 2012

Belajar yang Menyenangkan

Kami memiliki cita-cita agar anak-anak kami dapat secara optimal melejitkan potensi terpendam yang dimilikinya. Oleh karenanya, kami berupaya agar anak-anak belajar secara menyenangkan dan mengalir bak  air yang mengalir tanpa beban.


Minggu, 29 Juli 2012

Merangsang Kreatifitas Anak



Sering kita menemukan seorang anak yang terlihat malas di kelas atau memiliki nilai sekolah yang tidak terlalu baik. Namun ada kalanya mereka bisa mendapatkan nilai yang melebihi teman-teman mereka satu kelas, atau memiliki sesuatu kemampuan yang tidak kita duga dan tidak bisa dilakukan oleh anak-anak yang lain. Jadi bila anda menemukan seorang anak atau bahkan mungkin buah hati kita sendiri terlihat “kurang pandai” jangan berkecil hati. Mungkin saja dia adalah anak yang kreatif dan cerdas, namun belum terlatih / terasah dengan baik. Saya percaya, semua anak memiliki bakat untuk menjadi anak yang cerdas dan kreatif. Lalu bagaimana untuk bisa melatih anak agar bisa menjadi anak yang cerdas dan kreatif? Mari kita ikuti tips-tips di bawah ini:
Ada 10 cara mengasah kreativitas anak, yaitu:


1. Berkreasi setiap hari
Untuk menunjukkan kepedulian kita pada sang buah hati dalam berkreasi, marilah kita ajarkan buah hati kita untuk membuat sesuatu yang kreatif. Misalnya dengan menggambar, melipat kertas, bermain game ( porsi yang semestinya), bermain permainan-permaian edukatif, bernyanyi, bercerita, dan masih banyak lagi. Usahakanlah untuk bisa menemukan sesuatu yang baru dan berbeda dari apa yang pernah dilakukan oleh sang buah hati, sehingga anak tidak merasa bosan dan terpacu untuk lebih berpikiran kreatif.

2.Menggunakan ke dua sisi tubuh
Hal ini memang tidak lazim dilakukan. Namun bila buah hati kita kita latih sejak dini untuk melakukan hal ini, maka hal ini akan sangat bermanfaat di kemuadian hari. Bagaimana caranya? Yaitu dengan melatih anak melakukan sesuatu menggunakan kedua sisi tubuh. Hal paling sederhana yang bisa dilakukan adalah dengan menggambar atau mewarnai menggunakan tangan yang biasa digunakan dalam aktivitas sehari-hari. Misalnya, buah hati kita biasa menggunakan tangan kanan saat melakukan aktivitas sehari-hari (menulis, sikat gigi, makan, dll). Maka kita ajari mereka menggunakan tangan kiri saat menggambar. Akan lebih baik lagi bila dalam aktivitas sehari-hari pun mereka juga terlatih untuk menggunakan tangan yang bergantian. Hal ini akan sangat bermanfaat untuk menyeimbangkan otak kanan dan kiri.

3. Memiliki tokoh yang bisa diteladani dan diidolakan
Dengan memperkenalkan banyak tokoh dunia yang telah sukses, anak-anak menjadi tahu berbagai macam kepribadian dan prestasi dari orang lain. Hal ini sangat penting. Kenapa? Karena anak-anak suka sekali meniru orang lain. Tokoh-tokoh ini bisa seorang pahlawan, penemu, rohaniwan, dan tokoh-tokoh lain yang bisa menjadi teladan buat sang buah hati. Jangan sampai buah hati kita hanya mengidolakan tokoh-tokoh kartun atau film (seperti Tom and Jerry, Superman, Batman, dll). Hal ini memang tidak dilarang, namun akan lebih baik bila tokoh-tokoh tersebut adalah seseorang yang nyata sehingga bisa menumbuhkan motovasi anak untuk meniru hal-hal yang baik di dalam diri tokoh tersbut, lalu diteladani dalam kehidupan yang nyata.

4. Meningkatkan perbedaharaan kata pada anak
Semakin tinggi perbedaharaan kata anak, maka seorang anak akan menjadi lebih mudah dalam memahami seseuatu. Misalnya pada saat membaca. Bila buah hati kita banyak mengetahui makna kata yang dia baca di dalam sebuah artikel, maka mereka akan lebih mudah memahami isi artikel yang ia baca. Dengan mengerti isi artikel yang ia baca, maka pengetahuan si kecil pun menjadi lebih luas.

5. Melatih kemapuan mendengar anak
Secara pribadi, sebagai guru bahasa Inggris, saya sering menggunakan media audio sebagai media pembelajaran anak. Misalnya, dengan menggunakan Tape dan Laoudspeaker. Alat-alat tersebut saya gunakan saat melatih kemampuan mendengar anak-anak dalam belajar bahasa Inggris. Untuk melatih penglihatan, mungkin akan lebih mudah karena pada saat melihat TV pun anak-anak sudah belajar mengerti sesuatu dengan indera penglihatan. Agar indera pendengaran bisa terlatih dengan baik, alangkah lebih baik bila kita sering-sering mengajak anak untuk mendengarkan lagu atau cerita lalu menanyakan hal-hal yang berhubungan dengan lagu atau cerita tersebut (misalnya dengan cara tebak-tebakan).

6. Menggunakan warna-warni saat bermain dan belajar
Mengapa mainan anak-anak berwarna-warni? Mungkin sebagian dari kita warna-warni hanya digunakan untuk menarik minat anak-anak untuk membeli mainan yang ditawarkan. Namun sebenarnya ada fungsi lain yang lebih bermanfaat. Warna-warni yang biasa dipakai dalam mainan anak ternyata juga bisa mengaktifkan otak kanan. Jadi pada saat buah hati kita belajar menulis, menggambar, dan mewarnai, usahakan menggunakan pensil atau peralatan lain yang berwarna-warni.

7. Melatih ketelitian anak
Saat anak melihat sebuah gambar jerapah, akan lebih mudah bagi anak untuk mengatakan bahwa itu adalah seekor jerapah, daripada melihat kaki jerapah yang panjang dan meminta anak menyebutkan alasan kenapa kaki jerapah begitu panjang. Mengapa hal ini sangat penting? Karena dengan membiasakan anak untuk belajar sesuatu secara lebih mendetail atau kompleks, maka anak-anak akan menjadi lebih termotivasi untuk “mengenal secara lebih” tentang sesuatu yang sudah mereka ketahui. Sehingga kelak setelah mereka dewasa, mereka tidak hanya tertarik untuk menggunakan sesuatu yang telah ada, namun menemukan hal-hal baru lain tentang sesuatu yang pernah ia pakai dan menciptakan sesuatu yang baru lewat sesuatu yang telah ada (semoga bahasanya bisa dipahami).

8. Memberikan liburan yang kreatif
Liburan yang kreatif tidak harus mahal, namun yang terpenting adalah sesuai dengan minat anak. Hal ini bahkan bisa dilakukan di rumah. Misalnya dengan berkebun, mendekorasi rumah, membuat kreasi pernik-pernik, dan masih banyak lagi. Bila perlu kita juga mengajak anak berlibur di luar rumah, misalnya ke tempat wisata yang memiliki permainan outbound. Anak-anak aktif biasanya akan menyukai hal ini, karena segala “emosi dan jiwa” mereka bisa tersalurkan dengan baik. Selain itu, dari pembinaan kakak outbound, anak akan mendapatkan banyak pelajaran tentang arti kerjasama, toleransi, sosialisasi, dan lain-lain. Anak aktif juga harus memiliki moral dan etika yang baik kan? Selain itu diperlukan juga….

9. Jangan terlalu serius dalam mendidik
Suasana keluarga yang terlalu serius dan kaku, biasanya juga kurang mendukung kreatifitas anak untuk bisa berkembang. Gurauan dan humor-humor kecil sangatlah penting di dalam sebuah keluarga. Kita bisa mengajak buah hati kita bercanda pada saat-saat santai, membacakan cerita humor, menceritakan pengalaman sehari-hari yang lucu, dan masih banyak lagi cara lain yang bisa membuat anak merasa rileks saat bertemu dengan orang tuanya. Hal ini juga akan membuat anak merasakan suka cita saat berada di dalam rumah, sehingga anak-anak kita pun bisa lebih ekspresif terutama yang berhubungan dengan kreatifitas yang dia minati dan bakat yang dimiliki.

10. Melatih kemampuan otak kanan
Dengan mengajak anak-anak bernyanyi, berpuisi, menggambar, dan berbagai macam kegiatan kreatif lainnya, kemapuan otak kanan akan bekerja dengan lebih optimal. Di sekolah, biasanya anak-anak akan lebih cenderung menggunakan otak kiri, dan bila kemampuan otak kanan dan kiri bisa bekerja dengan baik dan seimbang, maka anak-anak tidak hanya akan berpeluang mendapatkan prestasi di bidang akademisa saja, melainkan bisa meraih prestasi-prestasi di bidang yang lain, misalnya kesenian. (Kak Zepe, Pencipta Lagu2anak)

Inovasi Membangun Karakter Bangsa



Dalam Seminar Nasional “Budaya Inovasi Membangun Karakter Bangsa Sendiri”, Prof Djamaludin Ancok, seorang Psikologi UGM mengatakan bahwa selama ini sistem pendidikan di Indonesia dinilai sangat buruk karena tidak memicu inovasi dan cenderung memasung. Menurutnya, pemandangan ini dapat dilihat saat memasuki sekolah. Di sekolah guru seluruh menyuruh siswa melipat tangannya, mulut ditutup, dan tidak bergerak. Demikian pula bila menggambar, dari dulu sampai sekarang hanya menggambar pemandangan, ada gunung, burung, dan lainnya.  Bangsa ini membutuhkan suatu inovasi. Untuk menumbuhkan inovasi maka guru harus mengisi kompetensi anak serta memotivasi dan membesarkan hati anak sebagaimana ajaran Ki Hajar Dewantara, yaitu ing ngarso sung tulada, ing madya bangun karsa, ing madya bangun karasa. (Media Indonesia, 12 Juli 2012)

Rabu, 18 Juli 2012

Pendidikan Anak Agar Kreatif



“Pendidikan agar anak kreatif atau cerdas itu dirintis sejak dalam kandungan. Untuk itu, ada tiga hal yang harus disiapkan. Yakni nutrisi, kasih sayang, dan stimulasi. Semua harus dipersiapkan sejak dalam kandungan sampai tiga tahun pertama,” terang dr Soedjatmiko, SpA (K), MSi ditemui di Eka Hospital Tangerang, Minggu (14/11). Menurutnya, tiga tahun pertama adalah masa perkembangan otak yang paling pesat.
Bukan berarti setelah tiga tahun, orangtua bisa lepas tanggung jawab begitu saja. Di rumah, orangtua bisa melakukan banyak hal untuk mendidik putra-putrinya. Semua dilakukan berdasar tiga asas tadi:  nutrisi, kasih sayang, dan stimulasi. “Misalnya, anak diajak mengobrol, bercanda, dan menyanyi. Pada fase itu, mungkin anak kita belum bisa membalas obrolan atau menyanyi lagu. Setidaknya, ketika anak mendengar orangtua menyanyi atau bersenandung, anak memperoleh rangsangan. Itu salah satu bentuk orangtua mendidik anak-anaknya,” sambung Soedjatmiko.
Kelompok bermain atau TK bukan satu-satunya kubu yang mengantar anak meraih kecerdasan. Soedjatmiko mengumpamakan, nutrisi atau asupan makanan membentuk hardware. Kasih sayang dan rangsangan membangun unsur software buah hati Anda. Soedjatmiko menekankan kasih sayang dan rangsangan disertai alasan kuat.
“Berapa jam durasi anak-anak tinggal di TK? Mereka berangkat jam 8 pagi lalu pulang jam 11 siang, misalnya. Anak-anak tidur katakanlah 10 jam. Mereka menimba ilmu di playgroup atau TK 3 jam. Masih ada sisa 11 jam per sehari. Nah, mau diisi apa yang 11 jam ini? Siapa yang seharusnya mengisi setelah anak-anak keluar dari gedung sekolah? Orangtua,” lanjutnya.
Tiga Jam Dibanding 13 Jam
Ia kembali mempertanyakan, “Apakah yang 3 jam sanggup mengalahkan yang 11 jam? Tidak. Peran orangtua sangat besar. Lebih dari itu, yang 11 jam ini harusnya diisi keluarga. Keluarga bisa siapa saja.” Bisa kakek-nenek si kecil. Bisa paman dan bibi atau kakaknya. Keluarga punya peran besar dalam memberi pendidikan.
Kasih sayang dan stimulasi diberikan setiap saat, oleh segenap elemen keluarga. Pendidikan di lingkungan keluarga, bisa dilakukan dengan bermain-main. Misalnya, petak umpet, menyusun puzzle sederhana, belajar mencoret, dan menyusun tutup botol. Stimulasi adalah stimulasi. Tidak ada stimulasi besar maupun kecil.
Soedjatmiko mencontohkan, anak usia tiga tahun punya kemampuan menyentuh, menggambar, membangun, berkhayal, berlari, memanjat, meluncur, mengayun, dan berkonsentrasi. Selama tiga jam mereka sudah memperoleh pelajaran dari para guru di playgroup. Sepulang dari playgroup, orangtua bisa mengasah kecerdasan anak dengan cara tak kalah fun.
“Misalnya, dengan bermain balok-balok kayu (mainan rekonstruksi). Manfaatnya, memberi anak kesempatan memanipulasi dan menumbuhkan rasa bangga atas keberhasilannya,” ulas penulis buku Cara Praktis Membentuk Anak Sehat, Tumbuh Kembang Optimal, Kreatif, dan Cerdas Multipel.
Beberapa mainan lain yang disarankan misalnya, buku cerita bergambar warna-warni atau peralatan masak. Mainan jenis ini merangsang daya imajinasi dan memberi kesempatan si kecil merealisasikan. Contoh lain, papan luncur, ayunan, sepeda tiga roda, atau alat main yang dapat dipanjat bisa melatih otot-otot besar. Mereka juga bisa belajar ketinggian untuk merangsang imajinasi maupun keberanian. Selamat mencoba (Wayan Diananto).